August 31, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Dosen Unismuh Angkat Kearifan Pangan Lokal dalam Cerita Rakyat Sulsel di KISPB 2026

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR, — Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Dr Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd., mengangkat kearifan pangan lokal yang tersimpan dalam cerita rakyat Sulawesi Selatan melalui perspektif kritik sastra ekologis.

Gagasan tersebut dituangkan dalam penelitian berjudul “Representasi Kearifan Pangan Lokal dalam Cerita Rakyat Sulawesi Selatan untuk Mendukung Sistem Pangan Berkelanjutan: Perspektif Kritik Sastra Ekologis.”

Abstrak penelitian itu dinyatakan diterima untuk dipresentasikan pada Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan (KISPB) 2026 Seri Sulawesi Selatan, yang dijadwalkan berlangsung di Makassar, Rabu, 7 Oktober 2026.

Penelitian Ulfa, sapaan akrab Maria Ulviani, masuk dalam Tema 3 KISPB 2026: Diversifikasi Konsumsi, Sistem Pangan Lokal, dan Resiliensi Gizi Komunitas. Abstrak tersebut dinilai oleh tiga panelis yang memberikan apresiasi terhadap kebaruan pendekatan penelitian, sekaligus sejumlah masukan untuk memperkuat substansinya.

Cerita Rakyat sebagai Arsip Pengetahuan Pangan

Salah satu kekuatan kajian tersebut terletak pada penggunaan perspektif kritik sastra ekologis atau ekokritik. Pendekatan itu mempertemukan kajian sastra dengan persoalan pangan, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Cerita rakyat Sulawesi Selatan dalam penelitian tersebut tidak semata-mata dibaca sebagai karya budaya, melainkan juga sebagai arsip pengetahuan lokal yang merekam hubungan masyarakat dengan sumber pangan dan lingkungan.

Melalui cerita rakyat, berbagai pengetahuan mengenai bahan pangan, cara masyarakat memperlakukan alam, hingga nilai yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ulfa menjelaskan, pilihan terhadap cerita rakyat berangkat dari pandangan bahwa teks tradisional menyimpan pengetahuan masyarakat yang sering kali tidak tercatat dalam dokumen formal.

“Cerita rakyat tidak hanya menyimpan kisah dan nilai budaya. Di dalamnya juga terdapat pengetahuan masyarakat tentang alam, sumber pangan, cara memanfaatkan lingkungan, bahkan nilai-nilai yang mengatur agar hubungan manusia dengan alam tetap terjaga. Pengetahuan seperti ini penting dibaca kembali ketika kita membicarakan keberlanjutan pangan,” ujar Ulfa.

Menurutnya, pendekatan ekokritik membuka peluang bagi kajian sastra untuk terlibat dalam pembicaraan yang lebih luas mengenai persoalan ekologis dan pembangunan berkelanjutan.

Dengan cara pandang tersebut, sastra tidak berhenti pada persoalan estetika dan kebahasaan, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara manusia, budaya, pangan, dan lingkungan.

Panelis Soroti Korpus dan Temuan Penelitian

Hasil penilaian panelis menunjukkan bahwa latar belakang, tujuan, serta metode penelitian telah tersusun dengan baik. Namun, sejumlah aspek diminta untuk diperjelas sebelum penelitian dipresentasikan dalam konferensi.

Salah satunya adalah hasil penelitian mengenai jenis pangan lokal yang direpresentasikan dalam cerita rakyat, pola hubungan manusia dengan alam, serta nilai konservasi yang terkandung dalam narasi.

Panelis juga meminta peneliti memperjelas korpus penelitian, meliputi jumlah cerita rakyat yang dianalisis, sumber naskah atau kompilasi yang digunakan, kelompok etnis yang terwakili, hingga kriteria pemilihan cerita.

Aspek lain yang mendapat perhatian adalah hubungan antara temuan penelitian dengan konsep resiliensi gizi komunitas. Penelitian diharapkan tidak hanya menunjukkan keberadaan pangan dalam teks sastra, tetapi mampu menjelaskan relevansi pengetahuan tersebut bagi persoalan pangan masyarakat masa kini.

Ulfa menilai masukan panelis penting untuk mempertajam hubungan antara temuan tekstual dengan konteks sosial yang lebih luas.

“Yang ingin kami tunjukkan bukan sekadar bahwa makanan atau bahan pangan disebut dalam sebuah cerita. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pangan itu ditempatkan dalam kehidupan masyarakat, bagaimana manusia berhubungan dengan alam untuk memperolehnya, dan nilai apa yang diwariskan agar sumber pangan tersebut tetap tersedia bagi komunitas,” jelasnya.

Karena itu, penelitian tersebut diarahkan untuk menemukan pola-pola pengetahuan lokal yang masih memiliki relevansi dengan pembicaraan mengenai diversifikasi pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta ketahanan komunitas.

Panelis juga menyarankan agar hasil kajian diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat dikaitkan dengan praktik pangan masa kini.

Dengan demikian, penelitian sastra tidak berhenti pada interpretasi teks, melainkan turut menghadirkan perspektif mengenai bagaimana pengetahuan pangan lokal dapat dikenali, dipelihara, dan dikembangkan.

Membuka Ruang Baru Kajian Sastra

Penerimaan penelitian Ulfa pada KISPB 2026 sekaligus memperluas ruang dialog antara sastra, budaya, lingkungan, dan sistem pangan berkelanjutan.

Kajian tersebut memperlihatkan bahwa warisan sastra daerah dapat dibaca melalui perspektif baru untuk menggali pengetahuan masyarakat yang diwariskan melalui tradisi tutur maupun tulisan.

Bagi Ulfa, kajian semacam itu juga menjadi bagian dari upaya memperluas horizon penelitian bahasa dan sastra Indonesia.

“Saya berharap kajian ini ikut menunjukkan bahwa sastra dapat berdialog dengan banyak disiplin ilmu. Cerita rakyat adalah bagian dari memori kolektif masyarakat. Jika dibaca kembali secara kritis, kita dapat menemukan pengetahuan lokal yang bermanfaat bukan hanya untuk pelestarian budaya, tetapi juga untuk memikirkan persoalan pangan dan lingkungan pada masa sekarang,” ungkapnya.

Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan 2026 Seri Sulawesi Selatan menjadi ruang pertemuan beragam perspektif mengenai keberlanjutan sistem pangan. Kehadiran kajian sastra dalam forum tersebut memperlihatkan peluang pendekatan lintas disiplin dalam menggali kembali pengetahuan lokal sebagai bagian dari pembangunan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

KISPB 2026 Seri Sulawesi Selatan diselenggarakan oleh Simpul Pangan Nusantara dan dijadwalkan berlangsung pada 7 Oktober 2026 di Makassar. Forum tersebut diharapkan memperluas diskusi mengenai diversifikasi pangan, sistem pangan lokal, serta resiliensi gizi masyarakat.

Penelitian ini juga memiliki irisan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan tentang pangan lokal dan resiliensi pangan komunitas, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui dorongan pemanfaatan sumber pangan lokal secara berkelanjutan. Upaya menggali cerita rakyat sebagai warisan pengetahuan masyarakat juga berkaitan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya semangat menjaga dan mewariskan kekayaan budaya lokal kepada generasi berikutnya.