September 5, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Akademik & Pembelajaran Fakultas Penelitian dan Inovasi

Didanai Kemdiktisaintek, Mahasiswa Unismuh Kembangkan Mikropartikel Eceng Gondok untuk Riset Terapi Diare

Didanai Kemdiktisaintek, Mahasiswa Unismuh Kembangkan Mikropartikel Eceng Gondok untuk Riset Terapi Diare

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) mengembangkan ekstrak eceng gondok (Eichhornia crassipes) dalam bentuk mikropartikel tersalut pektin sebagai kandidat sediaan dengan pelepasan terarah di kolon untuk menghambat Shigella sp., salah satu bakteri yang berkaitan dengan penyakit diare.

Riset tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Penelitian mengangkat judul “Pengembangan Suspensi Mikropartikel Ekstrak Eceng Gondok Tersalut Pektin dengan Pelepasan Terarah di Kolon untuk Inhibisi Shigella sp. dalam Terapi Diare.”

Tim diketuai Ainun Masyurah, mahasiswa Program Studi Farmasi angkatan 2023. Ia bekerja bersama Seriyani Wulandari dari Farmasi angkatan 2023, Rahmat Hidayat dari Farmasi angkatan 2024, serta A. M. Miftah Mallaha dari Program Studi Kedokteran angkatan 2024.

Tim berada di bawah bimbingan apt. Istianah Purnama Sari, S.Farm., M.Si.

Dari Eceng Gondok ke Mikropartikel

Penelitian tersebut berangkat dari upaya mengeksplorasi eceng gondok sebagai bahan alam yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam bidang kefarmasian.

Tim tidak menggunakan ekstrak eceng gondok dalam bentuk biasa. Ekstrak diformulasikan menjadi mikropartikel dengan pektin sebagai bahan penyalut.

Formulasi tersebut dirancang agar pelepasan bahan aktif dapat diarahkan menuju kolon sebagai lokasi target.

Ketua Tim PKM-RE, Ainun Masyurah, saat dikonfirmasi Kamis, 27 Agustus 2026, mengatakan penelitian tersebut mencoba mempertemukan pemanfaatan bahan alam dengan pengembangan sistem penghantaran sediaan.

“Kami mencoba mengembangkan ekstrak eceng gondok dalam bentuk mikropartikel tersalut pektin agar pelepasannya dapat lebih terarah menuju kolon. Selanjutnya, kami ingin melihat potensinya dalam menghambat Shigella sp. sebagai salah satu bakteri yang berkaitan dengan diare,” ujar Ainun.

Pendekatan tersebut membuat penelitian tidak hanya berfokus pada kemungkinan aktivitas biologis eceng gondok, tetapi juga pada bagaimana bahan tersebut diformulasikan dan diarahkan menuju lokasi yang menjadi target pelepasan.

Masih Tahap Penelitian

Ainun menegaskan bahwa sediaan yang dikembangkan tim masih berada dalam tahap penelitian dan pengujian.

Karena itu, hasil yang dikembangkan belum dapat ditempatkan sebagai obat atau terapi yang telah terbukti untuk digunakan pada manusia.

“Target kami saat ini adalah memperoleh data ilmiah mengenai karakteristik sediaan dan potensi aktivitasnya. Kami berharap penelitian ini bisa menjadi langkah awal untuk pengembangan lebih lanjut kandidat terapi diare berbasis bahan alam,” katanya.

Rangkaian penelitian diarahkan untuk melihat karakteristik formulasi sekaligus potensi aktivitas inhibisi terhadap Shigella sp.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman melakukan penelitian eksakta mulai dari pengembangan formulasi, pengujian, pengolahan data, hingga penyusunan luaran ilmiah.

Kolaborasi Farmasi dan Kedokteran

Riset tersebut juga mempertemukan mahasiswa dari dua bidang ilmu, yakni Farmasi dan Kedokteran.

Kolaborasi lintas program studi menjadi salah satu bagian penting dalam penelitian karena persoalan yang dikaji tidak hanya menyangkut formulasi sediaan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan aspek kesehatan dan penyakit.

Bidang farmasi memberi kontribusi pada pengembangan dan karakterisasi sediaan, sementara perspektif kedokteran memperkuat pemahaman mengenai konteks penyakit serta relevansi pengembangan kandidat terapi.

Ainun mengatakan dukungan pendanaan PKM memberi kesempatan kepada tim untuk mengembangkan gagasan tersebut melalui tahapan riset yang lebih sistematis.

“Kami bersyukur memperoleh pendanaan dari Kemdiktisaintek. Bagi kami, PKM bukan hanya soal menghasilkan produk atau menyelesaikan penelitian, tetapi kesempatan belajar menjalankan riset dengan baik, bekerja lintas Farmasi dan Kedokteran, serta menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat,” ujarnya.

Dorong Budaya Riset Mahasiswa

Bagi tim, keberhasilan memperoleh pendanaan PKM-RE juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan keterampilan penelitian sejak jenjang sarjana.

Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam memastikan setiap tahapan penelitian berjalan sesuai rancangan, mulai dari pemilihan bahan, pengembangan formulasi, pengujian hingga interpretasi hasil.

Tim berharap penelitian tersebut nantinya dapat menghasilkan data awal yang dapat menjadi pijakan untuk pengembangan riset lanjutan.

Hasil penelitian juga diarahkan untuk dikembangkan menjadi karya ilmiah sehingga pengalaman mengikuti PKM tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi berkontribusi terhadap penguatan budaya riset mahasiswa Unismuh Makassar.

Riset PKM-RE ini sekaligus berkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan riset kandidat sediaan untuk persoalan kesehatan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kompetensi riset dan kolaborasi mahasiswa, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi formulasi dan sistem penghantaran berbasis bahan alam.

Reporter: Rahmat Hidayat
Editor: Hadisaputra