UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperkuat kontribusi lingkungan melalui Sustainable Waste Solutions Center (SWSC), bank sampah, edukasi pemilahan, pengolahan sampah organik, dan gerakan kampus hijau. Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang diperingati setiap 5 Juni, menjadi momentum untuk mengubah cara pandang: sampah bukan semata urusan petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Di banyak tempat, sampah masih dipandang sebagai sesuatu yang selesai ketika berpindah dari tangan manusia ke tempat sampah. Setelah itu, urusannya dianggap selesai. Namun, di Unismuh Makassar, cara pandang itu pelan-pelan diubah.
Melalui SWSC, Unismuh Makassar berupaya menempatkan sampah bukan sebagai beban akhir, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dikelola, dimanfaatkan, dan bahkan memberi nilai ekonomi. Gagasan itu menjadi relevan saat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026.
Kepala Pusat SWSC Unismuh Makassar, Dr. Fatmawati A. Mappasere, M.Si., menilai bahwa pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan bersama yang belum selesai. Selama ini, sampah kerap dianggap hanya sebagai urusan petugas kebersihan atau pemerintah. Padahal, sampah lahir dari aktivitas manusia sehari-hari.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, baik di rumah, kampus, kantor, kantin, maupun ruang publik,” kata Fatmawati, saat dikonfirmasi Kamis, 4 Juni 2026.
Langkah sederhana seperti memilah sampah organik dan anorganik, menurut dia, sudah menjadi titik awal penting. Dari tindakan kecil itu, beban lingkungan dapat dikurangi. Lebih jauh, kebiasaan memilah juga membuka ruang bagi sistem pengelolaan yang lebih tertata, mulai dari bank sampah hingga pengolahan sampah organik.
Dari Pemilahan ke Ekonomi Sirkular
Di lingkungan Unismuh Makassar, SWSC mendorong pemilahan sampah dari sumbernya. Program itu diarahkan ke berbagai unit, lembaga, ruang kelas, kantin, dan area publik kampus. Sampah anorganik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan kertas dikumpulkan melalui sistem Bank Sampah.
Di Bank Sampah SWSC Unismuh Makassar, sejumlah nasabah telah bergabung. Sebagian di antaranya berasal dari kalangan cleaning service. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana kebersihan kampus, tetapi juga bagian dari mata rantai pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.
Sampah yang telah dipilah dikumpulkan, ditimbang, dicatat, lalu dikonversi menjadi nilai rupiah. Dengan cara itu, sampah tidak lagi berhenti sebagai barang buangan. Ia masuk ke dalam siklus baru: dari limbah menjadi sumber pendapatan tambahan.
Adapun sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, diolah melalui komposter dan maggot. Hasilnya dapat berupa kompos yang bermanfaat bagi lingkungan. Dalam skema inilah SWSC memperkenalkan praktik ekonomi sirkular di lingkungan kampus.
Fatmawati menyebut, sampah seharusnya tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Jika dikelola dengan baik, sampah masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Kampus Hijau dan UI GreenMetric
Komitmen Unismuh Makassar terhadap pengelolaan sampah juga tampak dalam kegiatan sosialisasi pemilahan sampah yang digelar di Ruang Teater Menara Iqra, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat program green and clean campus menuju pemeringkatan global UI GreenMetric.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur internal kampus, mulai dari K4, pengelola Pesmadina, pengelola asrama Ma’Had Al-Birr, ketua Unit Kegiatan Mahasiswa, pengelola kebersihan Masjid Subussalam Al-Khoiry, hingga seluruh tenaga cleaning service.
Dalam sosialisasi itu, Fatmawati menjelaskan jenis-jenis sampah serta metode pemilahan yang dapat dilakukan secara praktis. Ia juga mengajak civitas akademika mengubah cara pandang terhadap sampah.
“Sampah itu bukan sekadar barang buangan. Jika dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.
Pesan itu menjadi penting karena perubahan perilaku tidak cukup dengan imbauan. Pemilahan membutuhkan sistem, fasilitas, dan keteladanan. Tempat sampah terpilah harus tersedia. Label harus jelas. Edukasi harus terus dilakukan. Kampanye tidak cukup sekali, tetapi perlu diulang melalui sosialisasi langsung, poster, video, grup percakapan, hingga media sosial.
Mahasiswa sebagai Penggerak
Dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah, SWSC menempatkan mahasiswa sebagai salah satu aktor penting. Mereka didorong menjadi relawan lingkungan, penggerak kampanye pilah sampah, edukator, sekaligus pelaksana kegiatan lapangan.
Untuk menguatkan peran itu, SWSC membentuk Tim Eco Ranger SWSC. Kehadiran mahasiswa diharapkan membuat gerakan lingkungan lebih dekat dengan kehidupan kampus sehari-hari. Mereka tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga penyampai pesan dan pelaku perubahan.
Peran mahasiswa juga terlihat dalam program Sekolah Bebas Sampah di SMP Unismuh Makassar. Program ini merupakan kolaborasi Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unismuh Makassar, SWSC, dan SMP Unismuh Makassar. Dalam kegiatan itu, siswa, khususnya pengurus Bank Sampah SMP Unismuh, mendapat pelatihan dan pendampingan pengelolaan sampah.
Mereka dibekali keterampilan memilah sampah, mengelola sampah anorganik bernilai ekonomi, serta mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair dan eco enzyme. Mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas SWSC turut mendemonstrasikan teknik pemilahan dan pengolahan sampah.
Dari kampus, edukasi itu bergerak ke sekolah. Dari ruang kuliah, praktik lingkungan turun ke halaman sekolah dan kehidupan siswa.
Sekolah sebagai Ruang Pembiasaan
Program Sekolah Bebas Sampah di SMP Unismuh Makassar menunjukkan bahwa perubahan perilaku lingkungan perlu dimulai sejak dini. Sekolah bukan hanya tempat belajar teori, melainkan juga ruang pembiasaan.
Dalam program tersebut, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan tentang sampah. Mereka diajak mempraktikkan langsung cara memilah, mengelola, dan mengolah sampah. Dengan praktik semacam itu, pengetahuan lingkungan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan.
Bagi SWSC, perubahan tidak cukup dengan imbauan. Masyarakat, siswa, mahasiswa, dan warga kampus perlu didampingi agar memiliki pengalaman langsung. Karena itu, kegiatan serupa juga dilakukan melalui pendampingan bank sampah dan pelatihan pengolahan sampah organik di sejumlah sekolah, antara lain SMP Unismuh Makassar, dan SMA Darul Fallaah Bissoloro.
Pola ini memperlihatkan bahwa kampus dapat berperan sebagai pusat edukasi lingkungan yang menjangkau masyarakat lebih luas. Pengetahuan yang lahir dari kampus tidak berhenti di ruang akademik, tetapi diterjemahkan ke dalam praktik sosial.
Sampah, Plastik, dan Perubahan Iklim
Pengelolaan sampah tidak dapat dipisahkan dari isu perubahan iklim. Sampah organik yang menumpuk dan membusuk dapat menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global. Pembakaran sampah juga mencemari udara dan menambah beban lingkungan.
Sementara itu, sampah plastik masih menjadi ancaman serius karena sulit terurai. Plastik yang digunakan hanya sebentar dapat bertahan lama di tanah, sungai, dan laut. Dampaknya tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam ekosistem dan kesehatan manusia.
Karena itu, mengurangi plastik sekali pakai menjadi bagian penting dari gerakan lingkungan. Membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, memilah sampah, tidak membakar sampah, dan mengolah sampah organik merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan setiap orang.
Di sinilah pesan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menemukan maknanya. Krisis lingkungan tidak selalu harus dijawab dengan langkah besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia dapat dimulai dari keputusan sederhana: memilah sampah sebelum membuangnya.
Tantangan Perubahan Perilaku
Meski berbagai program telah berjalan, tantangan terbesar tetap berada pada perubahan kebiasaan. Banyak orang mengetahui bahwa sampah harus dikelola dengan baik, tetapi belum terbiasa memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya.
Fatmawati menilai, perubahan perilaku membutuhkan edukasi yang berkelanjutan. Selain itu, fasilitas juga harus tersedia. Orang akan lebih mudah berubah jika sistemnya jelas, tempat sampahnya tersedia, dan lingkungan sekitar memberi contoh.
Karena itu, strategi SWSC dibangun dari hal-hal praktis. Tempat sampah terpilah harus disediakan. Label harus mudah dipahami, seperti organik, plastik, kertas, dan residu. Edukasi harus dilakukan terus-menerus. Kampanye dilakukan melalui berbagai kanal, dari tatap muka hingga media digital.
Namun, yang tidak kalah penting adalah keteladanan. Budaya memilah sampah tidak cukup dibangun dengan spanduk atau imbauan. Ia harus dilakukan berulang-ulang oleh semua pihak.
Kontribusi dari Kampus
Melalui SWSC, Unismuh Makassar berusaha menunjukkan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Kampus dapat menjadi ruang riset, edukasi, inovasi, sekaligus contoh praktik baik pengelolaan lingkungan.
Visi SWSC adalah menjadi pusat solusi pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis edukasi, inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan. Misinya mencakup upaya membangun kesadaran warga kampus dan masyarakat agar terbiasa memilah sampah, mengurangi plastik, mengolah sampah organik, serta menjadikan sampah bernilai ekonomi.
Dalam konteks Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, kontribusi Unismuh Makassar memberi pesan bahwa gerakan lingkungan tidak harus menunggu kebijakan besar. Ia dapat dimulai dari kampus, sekolah, kantin, ruang kelas, rumah ibadah, dan rumah tangga.
Pemerintah tetap diperlukan untuk memperkuat kebijakan dan fasilitas. Kampus berperan sebagai pusat edukasi, riset, inovasi, dan contoh praktik baik. Masyarakat menjadi pelaku utama dari langkah-langkah sederhana di rumah masing-masing.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan tugas satu pihak. Ia adalah tanggung jawab bersama. Dari pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, bank sampah, hingga kompos dan maggot, Unismuh Makassar menunjukkan bahwa perubahan ekologis dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bahwa bumi tidak menunggu pidato panjang. Ia membutuhkan kebiasaan baru, sistem yang berjalan, dan kemauan untuk memulai dari hal paling dekat: sampah yang kita hasilkan sendiri.

