UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Muhammad Astrianto Setiadi, meraih gelar doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM).
Yudisium doktor Muhammad Astrianto digelar pada Selasa, 21 Juli 2026, pukul 15.00–16.00 WITA, di Ruang Senat FBS UNM, Gedung DA Lantai 2, Jalan Mallengkeri Raya, Parang Tambung, Makassar.
Ia dinyatakan lulus dengan predikat cum laude setelah menyelesaikan pendidikan pada Program S3 Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNM selama tiga tahun sepuluh bulan. Astrianto juga mencatatkan indeks prestasi kumulatif atau IPK sempurna, yakni 4,00.
Pencapaian tersebut diraih melalui jalur publikasi ilmiah internasional. Sebagai bagian dari penyelesaian studi doktoralnya, Astrianto memenuhi persyaratan publikasi pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus kuartil satu atau Q1.
Capaian itu menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga melewati proses penelaahan ilmiah pada jurnal internasional bereputasi.
Meneliti AI dalam Penulisan Akademik
Dalam disertasinya, Astrianto mengangkat penelitian berjudul Artificial Intelligence-Based Instruction in Teaching English Academic Writing in Indonesian Higher Education.
Penelitian tersebut mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran penulisan akademik berbahasa Inggris di perguruan tinggi Indonesia.
Ia mengeksplorasi persepsi dosen dan mahasiswa terhadap penggunaan AI, pola penerapannya dalam pembelajaran, dampaknya terhadap proses belajar-mengajar, serta tantangan yang muncul dalam pemanfaatan teknologi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi berbasis AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan Grammarly, dapat membantu mahasiswa meningkatkan kualitas tulisan akademik. Teknologi tersebut juga memungkinkan mahasiswa memperoleh umpan balik secara lebih cepat selama proses menulis.
Bagi dosen, penggunaan AI dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam memberikan pendampingan dan umpan balik. Sementara bagi mahasiswa, teknologi itu dapat memperkuat motivasi dan kepercayaan diri dalam menulis akademik berbahasa Inggris.
Namun, Astrianto menemukan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tinggi juga menghadirkan sejumlah persoalan. Tantangan tersebut meliputi risiko pelanggaran integritas akademik, ketergantungan terhadap teknologi, kesenjangan literasi AI, serta belum meratanya kebijakan institusi mengenai penggunaan AI.
Karena itu, perguruan tinggi perlu menyusun kebijakan yang jelas agar pemanfaatan AI dalam pembelajaran berlangsung secara etis, transparan, dan bertanggung jawab.
AI sebagai Mitra Pembelajaran
Melalui penelitian tersebut, Astrianto menawarkan kerangka implementasi pembelajaran berbasis AI yang menempatkan teknologi sebagai mitra dalam proses pendidikan.
AI, menurut dia, seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan integritas akademik mahasiswa. Teknologi tidak semestinya menggantikan peran dosen ataupun proses intelektual yang harus dijalani mahasiswa.
Kerangka itu diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi perguruan tinggi di Indonesia dalam menyusun kebijakan dan praktik pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Adaptasi terhadap AI juga harus memastikan mahasiswa tetap memiliki kemandirian dalam berpikir, menilai informasi, menyusun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan karya akademiknya.
Astrianto berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat digunakan untuk membantu perguruan tinggi merancang pembelajaran yang relevan dengan perkembangan AI sekaligus tetap menjaga etika dan mutu pendidikan.
Awal Tanggung Jawab Akademik
Keberhasilan Astrianto menyelesaikan pendidikan doktor tidak terlepas dari dukungan keluarga, promotor dan kopromotor, sivitas akademika FBS UNM, serta pimpinan dan rekan sejawat di Unismuh Makassar.
Penyelesaian studi doktoralnya juga mendapat dukungan dari Beasiswa Pendidikan Indonesia atau BPI.
“Pencapaian ini bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menghasilkan riset yang berdampak serta mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan inovatif dalam pendidikan tinggi Indonesia,” ujar Astrianto.
Ia berharap capaian tersebut dapat menginspirasi akademisi dan peneliti muda untuk menghasilkan penelitian berkualitas, memperkuat publikasi internasional bereputasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi Indonesia.

