UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Ma’ruf, M.Pd., menjadi pembicara tamu dalam Seminar Nasional Mahasiswa Pendidikan Fisika 2026 yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sabtu, 18 Juli 2026.
Seminar yang digelar secara daring melalui Zoom tersebut mengangkat tema “Deep Learning and Sustainable Laboratory Transformation: Shaping the Future of Physics Education toward SDGs 2030.”
Ma’ruf tampil pada sesi paralel bersama sejumlah akademisi pendidikan fisika dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ia menjadi pembicara tamu di Ruang B, didampingi moderator Dr. Sri Hartini, M.Sc. Sesi tersebut berlangsung pada pukul 13.30–14.00 WITA, dilanjutkan presentasi dan diskusi para pemakalah.
Dalam seminar itu, Ma’ruf menyampaikan materi bertajuk “Implementasi STEM dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs)”. Ia menguraikan pentingnya menghubungkan pembelajaran fisika dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau STEM untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Fisika sebagai Instrumen Pemecahan Masalah
Menurut Ma’ruf, pendidikan fisika tidak semestinya berhenti pada penguasaan konsep, rumus, dan penyelesaian soal secara matematis. Pembelajaran fisika perlu diarahkan untuk membentuk kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, berinovasi, dan bekerja secara kolaboratif.
Pendekatan tersebut dinilai semakin penting karena dunia sedang menghadapi sejumlah tantangan, antara lain perubahan iklim, krisis energi, keterbatasan sumber daya, serta disrupsi teknologi. Karena itu, pembelajaran fisika perlu diposisikan sebagai bagian dari upaya mencari solusi terhadap persoalan global.
“Pendidikan fisika tidak lagi sekadar tentang menghafal rumus alam, melainkan menjadi instrumen esensial untuk memecahkan krisis global secara struktural,” demikian salah satu gagasan utama dalam materi yang disampaikan Ma’ruf.
Ia menjelaskan, STEM bukan sekadar menggabungkan empat bidang ilmu dalam satu kegiatan pembelajaran. STEM merupakan pendekatan lintas disiplin yang menempatkan proses rekayasa atau Engineering Design Process sebagai penggerak utama pembelajaran.
Proses tersebut dimulai dari mengidentifikasi masalah, membayangkan berbagai alternatif solusi, menyusun perencanaan, membuat prototipe, menguji, hingga menyempurnakan produk. Melalui tahapan itu, mahasiswa dan siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan karya.
Kurikulum Fisika Terhubung dengan SDGs
Dalam paparannya, Ma’ruf memperlihatkan sejumlah contoh bagaimana materi fisika dasar dapat diterjemahkan menjadi proyek yang mendukung pencapaian SDGs.
Materi termodinamika dan kalor, misalnya, dapat dikembangkan menjadi proyek pembuatan panel surya mini untuk mendukung SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Materi dinamika fluida dapat diarahkan pada pembuatan sistem filtrasi air sederhana yang berkontribusi terhadap SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi.
Sementara itu, materi kinematika dan dinamika dapat diterapkan melalui proyek rancang bangun turbin angin sebagai bagian dari pengembangan inovasi dan infrastruktur berkelanjutan.
Proyek lainnya dapat berupa tempat sampah pintar berbasis sensor ultrasonik dan Arduino. Selain menghubungkan konsep gelombang bunyi dengan teknologi, proyek tersebut dapat mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan.
Mahasiswa juga dapat membuat prototipe jembatan tahan gempa untuk memahami resonansi, distribusi massa, serta vektor gaya. Proyek itu sekaligus memperkenalkan pentingnya pembangunan infrastruktur yang tangguh.
Integrasi AI dan Internet of Things
Ma’ruf juga menyoroti peluang integrasi Internet of Things atau IoT dan kecerdasan buatan dalam pembelajaran fisika. IoT dapat digunakan untuk mengumpulkan data eksperimen secara langsung, sedangkan kecerdasan buatan membantu pemodelan, analisis data, pengenalan pola, dan penyusunan prediksi.
Dalam kegiatan eksperimen kalorimetri, misalnya, mahasiswa dapat menggunakan sensor suhu berbasis Arduino atau telepon pintar. Data yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis untuk melihat pola perubahan suhu atau digunakan sebagai dasar membuat prediksi.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat menciptakan ekosistem kelas fisika yang lebih cerdas, presisi, interaktif, dan dekat dengan perkembangan dunia nyata.
Namun, transformasi itu tidak harus selalu bergantung pada peralatan laboratorium yang mahal. Keterbatasan alat dapat diatasi dengan menggunakan sensor berbiaya rendah, aplikasi telepon pintar seperti Phyphox, serta bahan-bahan daur ulang.
Kepadatan kurikulum juga dapat diatasi dengan mengintegrasikan beberapa kompetensi ke dalam satu proyek pembelajaran. Sementara evaluasi tidak hanya dilakukan melalui ujian pilihan ganda, tetapi juga melalui portofolio, jurnal refleksi, rubrik produk, dan demonstrasi kinerja.
Pendekatan Project-Based Learning dan Outcome-Based Education tersebut menggeser orientasi penilaian dari sekadar menanyakan apa yang diketahui peserta didik menjadi apa yang dapat mereka ciptakan dari pengetahuan yang dimiliki.
Ma’ruf menutup pemaparannya dengan mengajak pendidik memulai transformasi dari ruang kelas masing-masing.
“Pendidikan fisika bukan sekadar mempelajari hukum alam, tetapi membekali generasi untuk menyelamatkan alam itu sendiri. Mulailah dari kelas Anda hari ini. Satu proyek STEM, satu langkah nyata menuju SDGs 2030,” tulis Ma’ruf dalam bagian akhir presentasinya.
Seminar nasional tersebut turut menghadirkan pembicara utama dari Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Khairun. Keterlibatan Kaprodi Pendidikan Fisika Unismuh dalam forum itu memperkuat kontribusi akademisi Unismuh dalam pengembangan pembelajaran sains, teknologi pendidikan, dan pendidikan berkelanjutan di tingkat nasional.
Keterlibatan Dr. Ma’ruf dalam forum nasional tersebut terutama memperkuat kontribusi Unismuh terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan pembelajaran fisika yang inovatif, kontekstual, dan berbasis STEM. Penerapan proyek-proyek pembelajaran yang ditawarkannya juga bersinggungan langsung dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Dengan demikian, pendidikan fisika tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga melahirkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan.

