UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperkuat kontribusi lingkungan melalui pengelolaan sampah berkelanjutan dan pengembangan pendidikan kehutanan. Upaya itu dilakukan melalui Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) dan Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Unismuh Makassar untuk membangun budaya memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, merehabilitasi lahan, mengembangkan agroforestri, serta memperkuat pendidikan lingkungan berbasis kampus dan masyarakat.
Kepala Pusat SWSC Unismuh Makassar, Dr. Fatmawati A. Mappasere, M.Si., dan Ketua Program Studi Kehutanan Unismuh Makassar, Ir. Jauhar Mukti, S.Hut., M.Hut., IPM., menilai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang diperingati setiap 5 Juni, perlu menjadi momentum perubahan perilaku. Melalui edukasi, riset, pengabdian kepada masyarakat, bank sampah, hutan pendidikan, dan pelibatan mahasiswa, Unismuh Makassar berupaya menjadikan kampus sebagai ruang praktik keberlanjutan.
Fatmawati mengatakan, pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan bersama yang belum selesai. Ia menilai sampah selama ini kerap dianggap hanya sebagai urusan petugas kebersihan atau pemerintah, padahal sampah berasal dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, baik di rumah, kampus, kantor, kantin, maupun ruang publik,” kata Fatmawati, saat dikonfirmasi Kamis, 4 Juni 2026 di Kampus Unismuh Makassar.
Menurut dia, langkah sederhana seperti memilah sampah organik dan anorganik dapat membantu mengurangi beban lingkungan.
Melalui SWSC, Unismuh Makassar menjalankan program pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumbernya di lingkungan kampus. Program ini menyasar unit, lembaga, ruang kelas, kantin, dan area publik agar sampah anorganik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan kertas dapat dikumpulkan melalui sistem Bank Sampah.
Fatmawati menjelaskan, Bank Sampah SWSC Unismuh Makassar telah melibatkan sejumlah nasabah, termasuk cleaning service kampus. Sampah yang sudah dipilah dikumpulkan, ditimbang, dicatat, lalu dikonversi ke nilai rupiah sehingga memberi tambahan pendapatan bagi nasabah.
“Sampah tidak lagi dilihat sebagai barang buangan, tetapi sebagai sumber daya yang masih bisa memberi manfaat,” ujar Fatmawati. Ia menambahkan, sampah organik seperti sisa makanan dan daun diolah melalui komposter dan maggot agar menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.
Selain bergerak di lingkungan kampus, SWSC juga terlibat dalam edukasi pengelolaan sampah di sekolah. Program Sekolah Bebas Sampah di SMP Unismuh Makassar dijalankan melalui kolaborasi Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unismuh Makassar, SWSC, dan SMP Unismuh Makassar.
Dalam program itu, siswa, terutama pengurus Bank Sampah SMP Unismuh Makassar, mendapat pelatihan pemilahan sampah, pengelolaan sampah anorganik bernilai ekonomi, serta pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik cair dan eco enzyme. Mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas SWSC turut mendemonstrasikan teknik pemilahan dan pengolahan sampah.
Fatmawati menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan lingkungan. Ia menyebut mahasiswa dapat menjadi relawan lingkungan, penggerak kampanye pilah sampah, edukator, serta pelaksana kegiatan lapangan melalui Tim Eco Ranger SWSC.
“Perubahan tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi harus dilakukan bersama-sama melalui contoh dan pendampingan,” kata Fatmawati. Karena itu, SWSC mengembangkan edukasi melalui sosialisasi langsung, poster, video, grup percakapan, dan media sosial.
Pada sisi lain, Prodi Kehutanan Unismuh Makassar memperkuat kontribusi lingkungan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Fokusnya mencakup pengelolaan hutan berkelanjutan, konservasi, rehabilitasi lahan, perubahan iklim, dan agroforestri.
Jauhar Mukti mengatakan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat.
“Keberlanjutan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat harus berkolaborasi dalam menjaga bumi demi generasi mendatang,” ujar Jauhar.
Jauhar menjelaskan, tantangan lingkungan di Indonesia dan Sulawesi Selatan meliputi deforestasi, degradasi lahan, perubahan tata guna lahan, pencemaran lingkungan, dan dampak perubahan iklim. Di Sulawesi Selatan, sejumlah isu yang menjadi perhatian ialah berkurangnya tutupan hutan di daerah hulu, meningkatnya risiko banjir dan longsor, kebakaran lahan pada musim kemarau, serta tekanan terhadap kawasan hutan.
Menurut Jauhar, perubahan iklim memberi dampak signifikan terhadap sektor kehutanan. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, dan cuaca ekstrem dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman hutan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu keseimbangan ekosistem.
Prodi Kehutanan Unismuh Makassar saat ini mengembangkan Hutan Pendidikan Unismuh Makassar sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat berbasis agroforestri kopi. Kawasan ini dirancang sebagai laboratorium alam untuk mengintegrasikan konservasi, pendidikan, riset, dan manfaat ekonomi masyarakat.
“Melalui pengembangan tersebut, kami berharap Hutan Pendidikan Unismuh Makassar mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan, sehingga terwujud cita-cita ‘Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera’,” kata Jauhar.
Selain agroforestri kopi, Prodi Kehutanan Unismuh Makassar juga mengembangkan gagasan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, ekowisata, dan konsep Shinrin-yoku atau forest bathing. Konsep itu memanfaatkan hutan sebagai ruang edukasi, rekreasi, dan kesehatan berbasis alam.
Jauhar menyebut mahasiswa kehutanan menjadi agen perubahan dalam upaya pelestarian lingkungan. Mereka terlibat dalam konservasi, rehabilitasi lahan, penelitian lapangan, kampanye lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat sehingga pengalaman akademik dapat berjalan bersama kontribusi nyata di lapangan.
Dosen dan mahasiswa Prodi Kehutanan Unismuh Makassar juga melakukan riset tentang pengelolaan agroforestri kopi berkelanjutan, rehabilitasi hutan dan lahan, tutupan tajuk dan penyimpanan karbon, serta mitigasi perubahan iklim pada sistem agroforestri. Riset lainnya menyangkut partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan pengembangan model bisnis berkelanjutan di kawasan hutan pendidikan.
Jauhar menilai masyarakat perlu memahami fungsi hutan dalam kehidupan sehari-hari. Hutan berperan sebagai penyedia oksigen, penyimpan karbon, pengatur tata air, pelindung tanah dari erosi, habitat keanekaragaman hayati, serta sumber ekonomi masyarakat.
Dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, SWSC dan Prodi Kehutanan Unismuh Makassar sama-sama menekankan pentingnya perubahan perilaku. Pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, penanaman pohon, penghematan air dan energi, serta dukungan terhadap produk ramah lingkungan dinilai dapat menjadi langkah awal masyarakat.
Fatmawati berharap pemerintah, kampus, dan masyarakat bergerak bersama dalam memperkuat pengelolaan lingkungan. Pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan dan fasilitas, kampus menjadi pusat edukasi dan inovasi, sedangkan masyarakat memulai dari langkah sederhana di rumah masing-masing.
Jauhar juga berpesan agar generasi muda menjadi pelopor perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Ia menilai ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan lingkungan.
Melalui SWSC dan Prodi Kehutanan, Unismuh Makassar menempatkan kampus sebagai ruang pendidikan lingkungan yang terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Agenda pengelolaan sampah, bank sampah, kompos, maggot, agroforestri kopi, rehabilitasi lahan, dan hutan pendidikan diharapkan berlanjut sebagai kontribusi nyata kampus bagi lingkungan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera.

