UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membekali dosen Universitas Muhammadiyah Makassar dan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) se-Sulawesi Selatan dalam menyusun proposal penelitian yang kompetitif dan memenuhi ketentuan klirens etik.
Bimbingan teknis penulisan proposal penelitian dan dokumen klirens etik itu digelar di Ruang Teater I-Gift, Lantai 2, Unismuh Makassar, Sabtu, 25 Juli 2026. Kegiatan menghadirkan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Agus Haryono, M.Sc., bersama tim BRIN.
Kegiatan tersebut diikuti dosen dan pengelola lembaga penelitian dari Unismuh Makassar serta perwakilan PTMA di Sulawesi Selatan. Sebanyak 197 dosen tercatat mengisi formulir keikutsertaan dan diminta membawa proposal yang telah disiapkan untuk memperoleh arahan langsung dari BRIN.
PTMA yang hadir antara lain Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Sinjai, Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah Enrekang, Institut Teknologi Kesehatan Muhammadiyah Sidrap, Universitas Muhanmadiyah Barru serta Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan.
Sejumlah rektor, wakil rektor, pimpinan lembaga penelitian, guru besar, dan dosen dari perguruan tinggi tersebut turut mengikuti kegiatan. Bimtek juga menjadi ruang pertemuan antara dosen PTMA dan sejumlah peneliti dari organisasi serta pusat riset di lingkungan BRIN.
Penanggungjawab acara, yang juga Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, atau akrab disapa Prof Andis, mengatakan bimtek diselenggarakan untuk membantu dosen memperbaiki proposal sebelum batas akhir pemasukan program BRIN.
“Proposal harus masuk paling lambat 31 Juli. Karena itu, dosen yang kami undang adalah mereka yang sudah menyiapkan proposal agar dapat dibedah dan memperoleh masukan langsung,” ujar Prof Andis.
Ia menilai kehadiran Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN menjadi kesempatan penting bagi dosen PTMA se-Sulawesi Selatan. Para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teknis penulisan proposal, tetapi juga dapat memahami secara langsung standar, orientasi, dan persyaratan program riset BRIN.
Prof Andis menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar yang dipimpin Dr. Muhammad Arief Muhsin.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., mengatakan komunikasi dan kolaborasi yang lebih intensif dengan BRIN diperlukan agar semakin banyak dosen PTMA terlibat dalam program riset nasional.
Menurut Rakhim Nanda, Unismuh saat ini telah memiliki seorang dosen yang berhasil lolos dalam program BRIN. Selain itu, dua usulan lainnya masih menjalani proses penilaian. Ia berharap jumlah tersebut meningkat setelah dosen mengikuti bimbingan teknis.
“Kita berharap sesudah pelatihan ini akan lebih banyak dosen yang lolos, bukan hanya dari Unismuh, tetapi juga dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Sulawesi Selatan,” kata Rakhim Nanda.
Ia mengatakan salah satu program yang penting bagi perguruan tinggi ialah bina talenta. Program tersebut dapat membantu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia peneliti dan dosen sekaligus melibatkan mahasiswa dalam aktivitas penelitian.
Penguatan kapasitas peneliti, lanjut dia, menjadi bagian dari persiapan Unismuh menuju universitas riset. Karena itu, kualitas dan relevansi penelitian perlu terus ditingkatkan agar sejalan dengan kebutuhan masyarakat, pembangunan daerah, dan prioritas riset nasional.
Rakhim Nanda juga mengingatkan bahwa keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari jumlah proposal yang memperoleh pendanaan atau artikel yang diterbitkan dalam jurnal bereputasi. Penelitian harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.
“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium, tidak boleh berhenti di jurnal bereputasi, tetapi harus lahir sebagai hilirisasi yang berdampak langsung kepada kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, hilirisasi dapat dilakukan melalui kerja sama dengan dunia industri maupun penerapan langsung di tengah masyarakat. Sementara itu, inovasi berskala besar dan menggunakan teknologi tinggi membutuhkan dukungan industri agar dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara luas.
Sejumlah bidang strategis yang dapat menjadi perhatian peneliti meliputi kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, energi, kemaritiman, pertahanan, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi. Bidang-bidang tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pembangunan sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Kegiatan tersebut juga diikuti perwakilan pusat riset di lingkungan BRIN, antara lain pusat riset yang bergerak dalam bidang bahasa, sastra, komunikasi, dan preservasi. Kehadiran para peneliti diharapkan membuka peluang kerja sama riset dengan dosen PTMA sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Dalam rangkaian pembukaan, Unismuh Makassar juga menandatangani nota kesepahaman dengan Balai Pemasyarakatan Kelas I Makassar. Penandatanganan disaksikan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN serta Wakil Rektor I Unismuh Makassar. Substansi kerja sama tersebut akan dikembangkan dalam pemberitaan tersendiri.
Rakhim Nanda berharap bimtek menghasilkan peningkatan nyata dalam jumlah dan kualitas proposal dosen. Hasil riset yang lahir dari program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat reputasi institusi, tetapi juga mendukung visi Unismuh menuju keunggulan global dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

