June 20, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Metafora Ulat dan Kupu-Kupu, Wamendiktisaintek Dorong Wisudawan Unismuh Berevolusi

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof Dr Fauzan MPd, mendorong wisudawan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) tidak berhenti pada perubahan status akademik. Lulusan Unismuh, kata dia, harus mengalami perubahan karakter, pola pikir, dan daya manfaat di tengah masyarakat.

Pesan itu disampaikan Prof Fauzan dalam orasi ilmiah pada Wisuda Ke-88 Unismuh Makassar di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Sabtu, 20 Juni 2026.

Di hadapan wisudawan, orang tua, pimpinan universitas, dan tamu undangan, Fauzan memakai metafora ulat dan kupu-kupu untuk menjelaskan pentingnya evolusi diri. Menurutnya, wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal memasuki ruang yang lebih luas dan menantang, yakni “kampus kehidupan”.

“Saudara saat ini lulus, saat ini saudara selesai. Tetapi saudara harus tahu, ini dalam ranah akademis. Ada kampus yang lebih menantang, yaitu kampus kehidupan,” ujar Fauzan.

Ia mengatakan, dalam dunia akademik, para wisudawan telah melalui proses transformasi panjang, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Namun, proses itu belum cukup jika hanya menghasilkan perubahan formal berupa gelar akademik.

Fauzan lalu membandingkan dua bentuk perubahan melalui metafora ular dan ulat. Ular, kata dia, memang berganti kulit untuk menyesuaikan diri. Namun, perubahan itu hanya bersifat fisik dan tidak menyentuh karakter.

“Evolusi yang dilakukan oleh ular hanya berubah secara material, hanya berubah secara bentuk, tetapi karakternya tidak pernah berubah,” katanya.

Berbeda dengan ular, ulat menjalani proses yang lebih berat. Ia harus masuk ke fase kepompong sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Perubahan itu, menurut Fauzan, tidak hanya tampak secara fisik, tetapi juga mengubah nilai dan cara makhluk itu dipandang.

Ketika masih menjadi ulat, kata Fauzan, keberadaannya sering dihindari. Namun, setelah menjadi kupu-kupu, ia dipandang indah dan didekati banyak orang. Di titik itu, perubahan tidak hanya terjadi pada bentuk, tetapi juga pada nilai.

“Ketika menjadi kupu-kupu, tidak ada yang mengatakan itu tidak indah. Semuanya mengatakan indah, dan di situlah manusia mendekat,” ujarnya.

Menurut Fauzan, proses pendidikan di Unismuh semestinya melahirkan transformasi seperti itu. Wisudawan tidak boleh hanya berubah dari mahasiswa menjadi sarjana secara administratif, tetapi harus menjadi pribadi yang lebih matang, bernilai, dan bermanfaat.

Ia mengaitkan pesan tersebut dengan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurutnya, lulusan Unismuh harus memiliki pembeda, terutama pada karakter, integritas, dan cara memandang kehidupan.
“Menjadi sarjana Unismuh harus memiliki perbedaan dan itu tidak sama dengan yang lain,” kata Fauzan.

Dalam orasinya, Fauzan juga menyinggung besarnya jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Ia menyebut, pada 2025, perguruan tinggi di Indonesia melahirkan sekitar 1,26 juta sarjana. Karena itu, lulusan tidak cukup menjadi sarjana biasa-biasa saja.

Menurutnya, jumlah sarjana yang biasa-biasa saja sudah terlalu banyak. Pilihan bagi lulusan hanya dua: menjadi bagian dari kerumunan atau tampil sebagai sarjana yang memiliki keunggulan.

“Kita tidak boleh menjadi warga sarjana yang biasa-biasa saja. Karena sarjana yang biasa-biasa sudah overload, sudah banyak. Maka tidak ada pilihan lain. Saudara harus menjadi sarjana yang luar biasa atau yang disebut sarjana unlimited,” ujarnya.

Pentingnya Mindset

Wamendiktisaintek itu juga menekankan bahwa kompetensi keilmuan yang diperoleh di kampus harus disertai pola pikir yang benar. Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan oleh ijazah atau keahlian teknis, tetapi juga oleh cara memandang masalah dan membangun optimisme.

Ia mengingatkan agar lulusan tidak membesar-besarkan masalah kecil, tidak menyederhanakan persoalan besar secara keliru, dan tidak sibuk pada hal-hal yang tidak penting. Cara pandang seperti itu, kata dia, akan menentukan terang atau gelapnya masa depan seseorang.

Dalam konteks itu, Fauzan menekankan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik. Sarjana yang ingin maju, kata dia, harus mampu berprasangka baik kepada diri sendiri, lingkungan, dan masa depan.

“Kalau orang ingin menjadi sarjana yang hebat, maka saudara harus memelihara apa yang disebut dalam bahasa Al-Quran, husnuzan,” ujarnya.

Sebaliknya, ia meminta wisudawan menjauhi kebiasaan mengeluh, berdalih, dan mencari alasan. Kebiasaan itu, menurutnya, hanya akan melemahkan energi diri dan menghambat kemajuan.

Fauzan menggambarkan kebiasaan berdalih melalui cerita tentang orang yang takut melompat sungai. Ketika diminta melompat, mereka menolak dengan berbagai alasan. Namun, ketika dikejar anjing, mereka akhirnya mampu melompat dan menyelamatkan diri.

Cerita itu, menurut Fauzan, menunjukkan bahwa manusia sering kali memiliki kemampuan, tetapi kalah oleh alasan yang dibuat sendiri. Tantangan justru dapat menjadi pemantik untuk mengeluarkan energi terbaik.

“Tidak ada hidup yang gratis, tidak ada hidup yang mulus. Semuanya masih ada tantangan di hadapan kita,” katanya.
Di akhir amanahnya, Fauzan meminta lulusan Unismuh menghadapi kehidupan dengan energi positif. Masa depan, kata dia, hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang berani bertransformasi, tidak mudah mengeluh, dan terus membangun kualitas diri.

Pesan Rektor

Pesan itu sejalan dengan penegasan Rektor Unismuh Makassar, Dr Ir Abd Rakhim Nanda ST MT IPU, dalam pidato Wisuda Ke-88. Rakhim menyebut wisuda sebagai momentum akademik, spiritual, dan kelembagaan. Di dalamnya ada rasa syukur, amanah ilmu, doa orang tua, pengabdian dosen, kerja keras mahasiswa, serta pertanggungjawaban institusi kepada umat, bangsa, dan Persyarikatan.

Menurut Rakhim, wisuda bukan sekadar seremoni pengukuhan lulusan. Wisuda juga menjadi tanda bahwa Unismuh terus meneguhkan diri sebagai kampus Islam Berkemajuan yang bertumbuh, berdaya saing, dan memberi manfaat.

“Hari ini, kita tidak hanya mengukuhkan lulusan. Kita juga menyaksikan satu babak baru perjalanan Universitas Muhammadiyah Makassar sebagai kampus Islam Berkemajuan yang terus bertumbuh, berdaya saing, dan memberi manfaat,” ujar Rakhim.

Pada Wisuda Ke-88 ini, Unismuh mengukuhkan 1.411 lulusan. Dari jumlah itu, 1.196 orang meraih predikat cumlaude, 205 orang sangat memuaskan, dan 10 orang memuaskan. Jumlah lulusan terbanyak berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebanyak 404 orang, disusul Fakultas Agama Islam 280 orang, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 255 orang.

Rakhim menegaskan, angka tersebut bukan sekadar statistik. Capaian wisuda merupakan hasil ketekunan mahasiswa, bimbingan dosen, doa orang tua, serta dukungan seluruh sivitas akademika. Karena itu, lulusan Unismuh diharapkan membawa ilmu sebagai amanah moral, sosial, dan spiritual.

Dalam pidatonya, Rakhim juga menjelaskan arah transformasi Unismuh melalui I-GIFt, yakni Integrated, Green, Islamic, and Futuristic. Kerangka ini ditempatkan sebagai bagian dari roadmap Unismuh menuju Research and International Reputable University.

Dalam kerangka itu, Unismuh memperkuat mandat akademik dengan 73 program studi, meningkatkan riset dan pengabdian, memperluas kerja sama internasional, serta membangun reputasi global. Unismuh juga masuk dalam Times Higher Education Impact Rankings 2025 pada rentang 1001–1500 dunia, masuk radar THE World University Rankings 2026, berada pada rentang 1201–1300 QS World University Rankings Asia, serta menempati peringkat 4 nasional dan 20 dunia pada kategori Ruang Terbuka dan Infrastruktur Hijau dalam UI GreenMetric.

Bagi Rakhim, capaian tersebut bukan semata-mata untuk prestise. Pemeringkatan menjadi ikhtiar agar Unismuh hadir dalam percakapan global tentang mutu, keberlanjutan, pendidikan, lingkungan, dan peradaban.

“Kita ingin menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam dari kawasan timur Indonesia dapat ikut memberi kontribusi bagi masa depan umat manusia,” ujarnya.

Bagi wisudawan Unismuh, pesan-pesan itu menjadi penanda bahwa gelar akademik bukan garis akhir. Setelah meninggalkan ruang wisuda, mereka memasuki kampus kehidupan yang lebih luas, tempat karakter, keberanian, dan manfaat sosial diuji secara nyata.