September 9, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

FKIP Unismuh Tingkatkan Kompetensi Guru di Pulau Sabutung, Pengkep

UNISMUH.AC.ID, PANGKEP — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Pulau Sabutung, Desa Mattiro Kanja, Kabupaten Pangkep, Rabu, 9 September 2026.

Kegiatan bertema “Peningkatan Kompetensi Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Inovatif dan Adaptif di Sekolah Kepulauan” itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan karakteristik sekolah di wilayah kepulauan.

PkM tersebut disinergikan dengan program KKN-DIK mahasiswa FKIP Unismuh yang sedang berlangsung di Pulau Sabutung. Kolaborasi itu mempertemukan pengabdian dosen dengan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan mahasiswa.

Kegiatan berlangsung di UPT SMA 12 Pangkep dan diawali pengajian oleh Dr Syamsuriadi P. Salenda, M.A. Selain menjadi pembuka, pengajian tersebut memberi penguatan spiritual dan motivasi kepada para guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik.

Sekolah Kepulauan Bukan Ruang yang Terbatas

Tim pengabdi FKIP Unismuh terdiri atas Dr Aliem Bahri, M.Pd., Dr Andi Adam, M.Pd., Dr Muhammad Akhir, M.Pd., dan Dr Nasrun, M.Pd.

Materi yang disampaikan mencakup pengembangan pola pikir inovatif, pembelajaran berpusat pada peserta didik, pemanfaatan teknologi, serta penguatan profesionalisme guru.

Aliem Bahri menekankan pentingnya guru memiliki pola pikir adaptif dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.

Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan sarana di sekolah kepulauan tidak semestinya menjadi hambatan untuk berinovasi.

“Sekolah kepulauan jangan hanya dilihat dari sisi keterbatasannya. Lingkungan sekitar justru dapat menjadi sumber belajar yang sangat kaya dan kontekstual bagi peserta didik,” ujar Aliem.

Ia menilai laut, kehidupan sosial masyarakat, budaya lokal, serta berbagai aktivitas keseharian warga dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

“Guru dapat mengembangkan pembelajaran dari realitas yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan begitu, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tidak selalu bergantung pada fasilitas yang mahal,” tambahnya.

Dorong Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Sementara itu, Andi Adam mendorong guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan berpusat pada peserta didik.

Menurutnya, guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa aktif dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

“Pembelajaran yang baik memberi ruang kepada siswa untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, dan menemukan pengetahuan. Guru berperan mengarahkan proses agar siswa benar-benar terlibat dalam pembelajaran,” ujar Andi Adam.

Ia menilai pendekatan seperti itu penting diterapkan di sekolah kepulauan agar peserta didik tetap memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas dan relevan dengan konteks mereka.

Teknologi Tidak Harus Mahal

Muhammad Akhir menyoroti pemanfaatan teknologi dan media pembelajaran secara adaptif.

Menurutnya, inovasi pembelajaran tidak selalu identik dengan perangkat berteknologi tinggi dan berbiaya besar.

“Yang terpenting bukan kecanggihan perangkat, melainkan kreativitas guru dalam menyesuaikan media dan metode pembelajaran dengan kondisi sekolah dan kebutuhan peserta didik,” ujar Muhammad Akhir.

Ia mengatakan teknologi sederhana maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan secara efektif selama selaras dengan tujuan pembelajaran.

Guru Harus Terus Belajar

Nasrun menekankan pentingnya penguatan kompetensi dan profesionalisme guru secara berkelanjutan.

Menurutnya, perubahan dunia pendidikan menuntut guru untuk terus belajar, melakukan refleksi atas praktik pembelajaran, dan berani mencoba pendekatan baru.

“Guru harus terus berkembang karena tantangan pendidikan juga terus berubah. Kondisi wilayah kepulauan justru dapat menjadi ruang untuk melahirkan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran,” kata Nasrun.

Kegiatan tersebut diikuti guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs). Unsur Pemerintah Desa Mattiro Kanja juga hadir memberikan dukungan terhadap penguatan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan.

Sinergi Dosen, Mahasiswa, dan Masyarakat

Melalui kegiatan tersebut, FKIP Unismuh memperkuat sinergi antara dosen, mahasiswa, guru, sekolah, dan pemerintah desa.

Kolaborasi antara PkM dan KKN-DIK diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi pendampingan yang berkelanjutan bagi sekolah dan masyarakat.

Bagi mahasiswa, KKN-DIK juga menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan dan kompetensi akademik secara langsung, sekaligus memahami persoalan pendidikan yang dihadapi masyarakat kepulauan.

Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam peningkatan kompetensi guru dan pemerataan kualitas pembelajaran. Penguatan layanan pendidikan di wilayah kepulauan juga beririsan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, melalui upaya mempersempit kesenjangan akses dan mutu pendidikan antara wilayah kepulauan dan wilayah daratan.

Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat sekaligus mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Kontributor: Bukhairul Iman
Editor: Hadisaputra