September 9, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Tim PKM FEB Unismuh Dampingi UMKM Kerupuk Jamur di Bulukumba

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR— Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar (FEB Unismuh Makassar) mendampingi Kelompok Usaha Jelita, produsen kerupuk jamur di Desa Bontobangun, Kecamatan Rilau Ale’, Kabupaten Bulukumba, 11–12 Agustus 2026.

Pendampingan diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui literasi keuangan syariah, penguatan aspek halal, serta pemasaran digital.

Kerupuk jamur yang diproduksi kelompok usaha tersebut menjadi salah satu potensi pangan lokal yang dikembangkan agar memiliki tata kelola usaha lebih baik sekaligus mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dekan FEB Unismuh Makassar, Dr Edi Jusriadi, S.E., M.M., mengatakan pengembangan UMKM pangan lokal membutuhkan pendekatan yang terpadu. Kualitas produk, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan jaminan kehalalan, pengelolaan keuangan, dan strategi pemasaran.

“Produk yang berkualitas dan terjamin kehalalannya harus diimbangi dengan strategi pemasaran digital yang tepat serta pengelolaan keuangan usaha yang sesuai prinsip syariah,” ujar Edi.

Ia menilai fondasi pengelolaan usaha yang baik diperlukan agar UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan.

Benahi Keuangan hingga Proses Produksi

Ketua Tim PKM Unismuh Makassar, Dr M. Yusuf K., S.E., M.E., menjelaskan pendampingan menyasar sejumlah kebutuhan mendasar kelompok usaha.

Tim memberikan penguatan terkait pemenuhan standar bahan baku, proses produksi yang halal dan higienis, serta tata kelola keuangan usaha.

“Pendampingan juga mencakup pencatatan keuangan harian, pemisahan dana pribadi dan dana bisnis, serta perhitungan harga pokok produksi secara akurat,” ujar Yusuf.

Menurutnya, pencatatan keuangan sederhana tetapi konsisten menjadi langkah penting agar pelaku usaha mengetahui kondisi bisnis secara riil.

Dengan pengelolaan yang lebih tertib, kelompok usaha diharapkan mampu menghitung biaya produksi, menentukan harga jual secara tepat, dan merencanakan pengembangan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang terukur.

Perkuat Pemasaran Digital

Selain penguatan tata kelola usaha, tim PKM FEB Unismuh juga memberikan pendampingan pemasaran digital.

Pelaku usaha mendapatkan pelatihan fotografi produk sederhana, pembuatan konten promosi untuk media sosial, serta pemanfaatan WhatsApp Business sebagai sarana komunikasi dengan konsumen dan pemasaran produk.

Tim turut mendampingi Kelompok Usaha Jelita dalam pengembangan kemasan kerupuk jamur agar lebih menarik dan memiliki identitas produk yang lebih kuat.

Penguatan kemasan dan pemasaran digital diharapkan dapat membantu produk pangan lokal tersebut menjangkau konsumen di luar wilayah desa.

Desa Siap Kawal Keberlanjutan

Kepala Desa Bontobangun, Damnar, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok usaha masyarakat.

Ia menyatakan pemerintah desa siap mendorong keberlanjutan hasil pendampingan melalui kelembagaan desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Kami berkomitmen mengawal keberlanjutan hasil pembinaan ini melalui kelembagaan desa dan BUMDes agar memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi warga,” ujar Damnar.

Menurutnya, pendampingan perguruan tinggi menjadi penting karena masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam pengelolaan usaha.

Tim PKM FEB Unismuh selanjutnya akan melakukan pemantauan berkala, termasuk fasilitasi legalitas halal, evaluasi pencatatan keuangan, serta penguatan penetrasi pasar digital produk kerupuk jamur.

Program tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui penguatan kapasitas dan daya saing UMKM; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran; serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui penguatan proses produksi pangan yang lebih tertib, higienis, dan berkelanjutan.

Kolaborasi antara kampus, pemerintah desa, dan pelaku usaha tersebut diharapkan menjadikan produk lokal tidak hanya bertahan di pasar, tetapi berkembang menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Bontobangun.

Kontributor: Bukhairul Iman
Editor: Hadisaputra