UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Petani rumput laut di kawasan pesisir tidak cukup hanya diperkuat dari sisi produksi, tetapi juga perlu didukung melalui diversifikasi usaha, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, pengolahan produk, dan perluasan pasar agar mampu bertahan menghadapi fluktuasi harga, perubahan iklim, dan penyakit tanaman.
Pesan itu menjadi salah satu temuan penting dalam riset dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar tentang diversifikasi nafkah petani rumput laut di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Riset tersebut dipublikasikan di Journal of Global Innovations in Agricultural Sciences, Volume 14 Nomor 2 Tahun 2026, halaman 595–607. Artikel berjudul “Integration of Seaweed Cultivation, Agricultural and Non-Enterprises: A Comparative Analysis of Livelihood Diversification in Takalar Regency”, South Sulawesi itu ditulis oleh Asriyanti Syarif, Rahmawaty Andi Nadja, Darmawan Salman, dan Andi Adri Arief.
Baca juga: Guru Besar Unismuh Makassar Ubah Limbah Sayur Jadi Kompos, Hasilnya Pakcoy Makin Subur
Ketua Tim Peneliti, Asriyanti Syarif, mengatakan penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan petani rumput laut yang rentan terhadap perubahan harga, cuaca, serangan penyakit, keterbatasan akses pasar, serta makin terbatasnya ruang budidaya di wilayah pesisir.
Menurut dosen Fakultas Pertanian Unismuh Makassar itu, rumah tangga petani rumput laut di Takalar tidak hanya menjalankan usaha budidaya, tetapi juga membangun strategi bertahan melalui pertanian, perikanan, dan usaha non-pertanian.
“Petani rumput laut menghadapi risiko yang sangat dinamis. Harga bisa turun, musim bisa berubah, penyakit bisa menyerang, dan lokasi budidaya bisa terbatas. Karena itu, diversifikasi nafkah menjadi strategi penting agar rumah tangga petani tetap bertahan,” kata Asriyanti, saat dikonfirmasi, Senin, 19 Januari 2026.
Penelitian dilakukan di Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Desa pesisir ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu wilayah potensial pengembangan rumput laut, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan ekonomi dan ekologis yang cukup kuat.
Riset ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen terhadap 41 rumah tangga petani rumput laut yang tersebar di sejumlah dusun di Desa Laikang.
Enam Pola Nafkah
Dalam riset tersebut, tim peneliti menemukan enam pola diversifikasi nafkah rumah tangga petani rumput laut. Pola pertama adalah rumah tangga yang hanya mengandalkan budidaya rumput laut sebagai sumber nafkah utama.
Pola kedua, rumah tangga yang menggabungkan budidaya rumput laut dengan usaha pertanian, seperti padi, jagung, dan kacang hijau. Pola ketiga, rumah tangga yang mengombinasikan rumput laut dengan usaha perikanan, seperti menangkap ikan, budidaya lobster, atau anggur laut.
Pola keempat adalah rumah tangga yang menggabungkan rumput laut, pertanian, dan perikanan. Pola kelima, rumah tangga yang mengombinasikan rumput laut, pertanian, dan usaha non-pertanian.
Adapun pola keenam adalah rumah tangga yang memadukan budidaya rumput laut dengan usaha non-pertanian, seperti warung, bengkel, buruh bangunan, pedagang hasil laut, pembuat perahu, hingga jasa pangkas rambut.
Asriyanti menjelaskan, temuan ini menunjukkan bahwa petani pesisir memiliki kemampuan adaptif yang kuat. Mereka tidak sekadar menunggu keadaan membaik, tetapi aktif mencari sumber pendapatan lain sesuai modal, keterampilan, lahan, jaringan sosial, dan peluang ekonomi yang tersedia.
“Diversifikasi ini bukan sekadar pekerjaan sampingan. Bagi rumah tangga petani, ia menjadi strategi bertahan, strategi investasi, sekaligus cara mengurangi risiko ketika usaha rumput laut terganggu,” ujarnya.
Dalam kerangka penghidupan berkelanjutan, riset ini membaca lima jenis aset yang digunakan petani, yakni modal alam, modal manusia, modal fisik, modal sosial, dan modal finansial. Kombinasi kelima modal tersebut menentukan kemampuan petani menghadapi tekanan ekonomi dan lingkungan.
Rentan Harga dan Iklim
Salah satu persoalan utama yang ditemukan dalam riset ini adalah fluktuasi harga rumput laut. Harga di tingkat petani dapat berubah tajam sehingga memengaruhi stabilitas pendapatan rumah tangga.
Dalam artikel tersebut disebutkan, harga rumput laut pernah berada pada kisaran Rp 45.000 per kilogram pada Agustus 2022, lalu turun menjadi sekitar Rp 13.000 per kilogram pada Maret 2025. Perubahan harga seperti ini membuat pendapatan petani sulit diprediksi.
Selain harga, petani juga menghadapi tekanan ekologis. Perubahan musim, curah hujan tinggi, kualitas air yang menurun, arus laut yang tidak mendukung, serta serangan penyakit seperti ice-ice dapat menurunkan kualitas dan hasil panen rumput laut.
Asriyanti mengatakan, kerentanan tersebut membuat diversifikasi nafkah menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan tambahan. Ketika rumput laut gagal panen atau harga turun, sumber pendapatan lain dapat membantu keluarga tetap memenuhi kebutuhan dasar.
“Kalau rumah tangga hanya bergantung pada satu komoditas, mereka lebih mudah terpukul ketika harga jatuh atau panen terganggu. Tetapi ketika ada pertanian, perikanan, atau usaha kecil lain, tekanan itu bisa dikurangi,” katanya.
Riset ini juga menemukan adanya persoalan akses lokasi budidaya. Sebagian petani harus mencari lokasi tanam lebih jauh karena keterbatasan ruang di sekitar desa. Kondisi ini menambah biaya transportasi dan memperbesar beban produksi.
Perempuan dalam Rantai Produksi
Dalam praktik budidaya rumput laut, keluarga menjadi basis utama tenaga kerja. Suami, istri, dan anak terlibat dalam berbagai tahap produksi, mulai dari menyiapkan tali, mengikat bibit, memasang bentangan, memanen, hingga menjemur hasil panen.
Perempuan memiliki peran penting, terutama dalam proses pengikatan bibit dan pascapanen. Namun, riset ini juga mencatat bahwa peran perempuan dalam pengambilan keputusan strategis masih terbatas.
Asriyanti menilai temuan tersebut penting karena keberlanjutan ekonomi rumah tangga pesisir tidak bisa dilepaskan dari kerja perempuan. Karena itu, program pemberdayaan petani rumput laut perlu memberi ruang lebih besar bagi perempuan dalam pelatihan, pengolahan produk, akses modal, dan pengambilan keputusan.
“Perempuan bukan hanya membantu usaha keluarga. Mereka bagian penting dari rantai produksi rumput laut. Karena itu, pemberdayaan petani pesisir juga harus memberi ruang bagi peningkatan kapasitas dan peran ekonomi perempuan,” ujarnya.
Menurut Asriyanti, penguatan peran perempuan dapat membuka peluang ekonomi baru, terutama dalam usaha pengolahan hasil rumput laut. Dengan pengolahan, produk tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat memiliki nilai tambah.
Kelembagaan Petani Masih Lemah
Riset ini juga menyoroti lemahnya integrasi petani dalam kelompok. Sebagian petani belum tergabung dalam kelompok budidaya, kelompok usaha bersama, atau kelompok pembudidaya ikan.
Akibatnya, akses mereka terhadap bantuan, penyuluhan, pelatihan, dan informasi pasar menjadi terbatas. Dalam artikel disebutkan, bantuan pemerintah seperti tali, mesin perahu, dan sarana produksi umumnya disalurkan melalui kelompok.
Karena itu, petani yang tidak tergabung dalam kelompok lebih sulit menjangkau dukungan kelembagaan. Padahal, kelembagaan petani menjadi salah satu kunci penting untuk meningkatkan daya tawar.
Melalui kelompok, petani dapat memperoleh informasi teknologi, mengakses bantuan, memperkuat jaringan pasar, dan membangun kerja sama usaha.
“Masalah petani rumput laut bukan hanya produksi. Mereka juga membutuhkan kelembagaan yang kuat agar bisa mengakses pelatihan, bantuan, pembiayaan, teknologi, dan pasar yang lebih baik,” kata Asriyanti.
Selain kelembagaan, akses pembiayaan juga menjadi persoalan. Sebagian petani memanfaatkan pinjaman dari bank, lembaga keuangan mikro, atau pedagang pengumpul. Namun, akses keuangan belum selalu disertai penguatan manajemen usaha.
Akibatnya, rumah tangga petani tetap rentan terhadap tekanan utang dan fluktuasi pendapatan. Karena itu, riset ini merekomendasikan perlunya penguatan dukungan institusional, peningkatan kapasitas petani, akses pasar yang lebih adil, serta pengembangan diversifikasi usaha berbasis potensi lokal.
Rujukan Kebijakan Pesisir
Bagi Asriyanti, kontribusi utama riset ini adalah memberi gambaran bahwa penguatan ekonomi petani rumput laut tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan produksi.
Pemerintah daerah juga perlu melihat struktur nafkah rumah tangga pesisir secara lebih utuh. Kebijakan pembangunan pesisir, menurut dia, perlu memadukan budidaya rumput laut, pertanian, perikanan, usaha kecil, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, dan pengolahan produk.
Baca juga: Bukan Sekadar Cuci Tangan, Riset Dosen Unismuh Tawarkan Cara Bangun Budaya Sehat di Sekolah
Dengan cara itu, petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku ekonomi yang lebih berdaya.
“Kalau ingin petani rumput laut lebih sejahtera, pendekatannya tidak bisa parsial. Produksi perlu diperbaiki, tetapi kelembagaan, pasar, pengolahan, akses modal, dan diversifikasi usaha juga harus diperkuat,” ujarnya.
Riset ini juga memberi pesan bagi pengembangan ekonomi biru di Sulawesi Selatan. Rumput laut tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga sumber nafkah utama bagi banyak keluarga pesisir.
Karena itu, keberlanjutan usaha rumput laut sangat terkait dengan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Pemerintah daerah dapat menggunakan hasil riset ini sebagai bahan untuk merancang program pemberdayaan petani rumput laut yang lebih tepat sasaran.
Program tersebut dapat mencakup pelatihan budidaya adaptif iklim, pengolahan produk, penguatan kelompok, akses pembiayaan, serta pengembangan pasar.
Dari Desa Laikang, riset dosen Unismuh Makassar menunjukkan bahwa rumah tangga petani rumput laut memiliki daya lenting yang kuat. Namun, daya lenting itu perlu didukung oleh kebijakan, kelembagaan, dan akses ekonomi yang lebih adil agar petani tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Riset ini sekaligus menegaskan komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Penelitian tentang diversifikasi nafkah petani rumput laut ini berkaitan dengan SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 14 tentang Ekosistem Lautan.
Artikel lengkap dapat diakses melalui tautan: https://laravel.jgiass.com/pdf-reader.php?file=Integration-of-Seaweed-Cultivation,-Agricultural-and-Non-Enterprises:-A-Comparative-Analysis-of-Livelihood-Diversification-in-Takalar-Regency,-South-Sulawesi.pdf&path=issue_papers

