July 2, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
RISET & PUBLIKASI

Bukan Sekadar Cuci Tangan, Riset Dosen Unismuh Tawarkan Cara Bangun Budaya Sehat di Sekolah

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Riset dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menawarkan model edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk memperkuat pencegahan penyakit pada siswa sekolah dasar.

Riset tersebut dipublikasikan di Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia, Volume 9 Nomor 3, pada 3 Maret 2026. Artikel berjudul “Promoting Clean and Healthy Living in Schools: A Pre-Experimental Study on Disease Prevention” itu ditulis oleh Nurlina, Aslinda, Harmawati, Nadeeya A’yn Mohamad Nor, Nathratul Ayeshah Binti Zulkifli, Ratna Mahmud, dan Abdul Halim.

Ketua tim peneliti, Nurlina, mengatakan riset ini berangkat dari kebutuhan memperkuat pendidikan kesehatan sejak usia sekolah. Menurut dosen Prodi Keperawatan FKIK Unismuh Makassar itu, perilaku hidup bersih tidak cukup hanya disampaikan sebagai nasihat, tetapi perlu diajarkan melalui edukasi terstruktur, praktik langsung, dan pengulangan.

“Anak-anak sekolah dasar berada pada fase penting pembentukan kebiasaan. Jika sejak dini mereka memahami cara mencuci tangan, menjaga kebersihan diri, membuang sampah dengan benar, dan memilih makanan sehat, maka sekolah dapat menjadi benteng awal pencegahan penyakit,” kata Nurlina, saat dikonfirmasi, Rabu, 25 Maret 2026.

Baca juga: Riset Dosen Unismuh Dorong Inovasi Sumur Resapan dan Biopori untuk Mitigasi Banjir

Penelitian ini dilakukan di SDN Bawakaraeng III Makassar dengan melibatkan 50 siswa kelas V dan VI. Riset menggunakan desain pra-eksperimental dengan pola one group pre-test and post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan dan praktik siswa sebelum dan sesudah program edukasi PHBS.

Program edukasi dilakukan selama empat hari, mulai 11 hingga 14 Januari 2025. Materi yang diberikan meliputi pengenalan PHBS, kebersihan diri, kebersihan lingkungan, pembuangan sampah yang benar, kebiasaan makan sehat, serta demonstrasi enam langkah mencuci tangan.

Edukasi Berbasis Praktik

Dalam riset tersebut, tim peneliti tidak hanya memberikan ceramah, tetapi juga melakukan demonstrasi dan praktik langsung bersama siswa. Pada hari pertama, siswa diperkenalkan pada konsep PHBS dan pentingnya kebersihan diri. Hari kedua diisi dengan materi kebersihan lingkungan dan pola makan sehat.

Pada hari ketiga, siswa diajak mempraktikkan langkah mencuci tangan yang benar. Hari terakhir digunakan untuk evaluasi, kuis singkat, dan tanya jawab guna memastikan siswa memahami materi yang telah diberikan.

Nurlina menjelaskan, pendekatan praktik penting karena anak-anak lebih mudah memahami perilaku sehat ketika mereka melihat, mencoba, dan mengulanginya secara langsung.

“Untuk anak usia sekolah dasar, edukasi kesehatan harus dibuat sederhana dan konkret. Misalnya, bukan hanya mengatakan cuci tangan itu penting, tetapi menunjukkan kapan harus mencuci tangan dan bagaimana langkah yang benar,” ujarnya.

Riset ini juga menggunakan kuesioner pre-test dan post-test serta lembar observasi untuk menilai perubahan pengetahuan dan praktik siswa. Pemeriksaan kebersihan pribadi, seperti kebersihan kuku dan rambut, turut dilakukan untuk melihat kondisi perilaku kebersihan siswa secara lebih nyata.

Pengetahuan Siswa Meningkat

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti edukasi PHBS. Rata-rata nilai pre-test siswa berada pada angka 65 dari skala 100, kemudian meningkat menjadi 85 setelah intervensi. Dengan demikian, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 20 poin.

Secara statistik, peningkatan tersebut dinyatakan signifikan berdasarkan uji Wilcoxon dengan nilai p 0,031. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi PHBS memberi dampak nyata terhadap pemahaman siswa mengenai pencegahan penyakit dan perilaku hidup bersih.

Peningkatan pengetahuan juga tampak berbeda menurut jenis kelamin. Siswa perempuan mengalami kenaikan rata-rata 23 poin, sedangkan siswa laki-laki meningkat 17 poin. Data ini menunjukkan bahwa respons siswa terhadap pendidikan kesehatan dapat dipengaruhi oleh karakteristik peserta didik.

Nurlina mengatakan, temuan tersebut dapat menjadi masukan bagi sekolah dan tenaga kesehatan agar pendekatan edukasi dibuat lebih menarik, interaktif, dan memperhatikan kebutuhan siswa.

“Anak laki-laki dan perempuan bisa saja merespons materi kesehatan dengan cara berbeda. Karena itu, metode edukasi perlu dibuat variatif agar semua siswa terlibat aktif, bukan hanya mendengar,” katanya.

Cuci Tangan Jadi Kunci

Salah satu aspek penting dalam riset ini adalah pengetahuan siswa tentang mencuci tangan. Sebelum intervensi, sebanyak 25 siswa atau 50 persen belum mengetahui langkah mencuci tangan yang benar. Setelah program edukasi, jumlah siswa yang mengetahui langkah mencuci tangan dengan benar meningkat menjadi 35 siswa atau 75 persen.

Temuan tersebut penting karena cuci tangan pakai sabun merupakan salah satu praktik sederhana yang berperan besar dalam mencegah penyakit menular. Dalam artikel disebutkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan bahwa hingga 60 persen kasus diare pada anak dapat dicegah melalui kebersihan tangan yang tepat.

Selain pengetahuan mencuci tangan, penelitian ini juga menemukan peningkatan pengetahuan siswa tentang aktivitas fisik. Pengetahuan siswa mengenai pelaksanaan olahraga meningkat dari 31 siswa atau 62 persen menjadi 33 siswa atau 66 persen.

Dalam pemeriksaan kebersihan pribadi, tim peneliti menemukan 8 siswa memiliki kuku kotor dan 2 siswa memiliki kutu rambut. Sementara itu, pengukuran berat dan tinggi badan menunjukkan adanya siswa dengan berat badan kurang dan berlebih, sehingga edukasi PHBS juga perlu dikaitkan dengan gizi seimbang dan kebiasaan hidup aktif.

“PHBS tidak hanya soal mencuci tangan. Ia mencakup kebersihan diri, kebersihan lingkungan, makanan bergizi, aktivitas fisik, dan kesadaran menjaga kesehatan bersama,” ujar Nurlina.

Dari Pengetahuan ke Kebiasaan

Riset ini juga mengukur perubahan praktik PHBS siswa. Sebelum edukasi, 25 siswa atau 50 persen tercatat menjalankan praktik PHBS. Setelah intervensi, jumlahnya meningkat menjadi 35 siswa atau 70 persen. Hasil uji McNemar menunjukkan perubahan tersebut signifikan dengan nilai p 0,013.

Bagi Nurlina, peningkatan praktik ini menjadi bagian penting dari riset. Menurut dia, keberhasilan edukasi kesehatan tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai pengetahuan, tetapi juga dari perubahan perilaku sehari-hari.

“Tujuan akhirnya adalah kebiasaan. Anak-anak tidak hanya tahu bahwa tangan harus dicuci, tetapi juga terbiasa melakukannya sebelum makan, setelah bermain, setelah dari toilet, atau ketika tangan kotor,” katanya.

Baca juga: Dosen Unismuh Teliti E-Budgeting Makassar, Dorong Tata Kelola Kota Lebih Transparan

Ia menambahkan, perubahan perilaku siswa membutuhkan dukungan lingkungan sekolah dan keluarga. Guru, orang tua, dan tenaga kesehatan perlu memberi contoh yang konsisten agar kebiasaan hidup bersih tidak berhenti setelah kegiatan edukasi selesai.

Model edukasi PHBS dalam riset ini dapat direplikasi di sekolah lain. Kuncinya, kata Nurlina, adalah penyampaian materi yang sederhana, penggunaan demonstrasi, praktik langsung, evaluasi singkat, serta penguatan melalui guru dan lingkungan sekolah.

“Sekolah memiliki peran strategis karena anak menghabiskan banyak waktu di sana. Jika sekolah membangun budaya bersih, menyediakan sarana cuci tangan, mengatur kebersihan lingkungan, dan mengingatkan siswa secara rutin, maka PHBS akan lebih mudah menjadi kebiasaan,” ujarnya.

Rujukan Promosi Kesehatan Sekolah

Riset ini memberi pesan penting bagi penguatan promosi kesehatan di sekolah dasar. Penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut, dan penyakit kulit masih menjadi ancaman bagi anak-anak ketika kebersihan diri dan sanitasi lingkungan tidak diperhatikan.

Pendidikan kesehatan berbasis sekolah dapat menjadi strategi pencegahan yang murah, mudah diterapkan, dan berdampak luas. Anak-anak yang memahami PHBS tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga dapat membawa pesan kesehatan ke rumah dan lingkungan sekitarnya.

Nurlina menegaskan, riset kampus perlu hadir menjawab persoalan kesehatan masyarakat dari ruang paling dekat, termasuk sekolah. Menurut dia, pendidikan kesehatan dasar dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang lebih sehat.

“Riset ini menunjukkan bahwa intervensi sederhana, jika dirancang dengan baik, dapat mengubah pengetahuan dan perilaku siswa. Perguruan tinggi perlu terus terlibat dalam program kesehatan sekolah karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” katanya.

Dari SDN Bawakaraeng III Makassar, riset dosen Unismuh Makassar menunjukkan bahwa pencegahan penyakit dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang diajarkan secara konsisten. Cuci tangan, menjaga kuku, membuang sampah pada tempatnya, memilih makanan sehat, dan beraktivitas fisik bukan hanya urusan pribadi, tetapi bagian dari budaya sehat di sekolah.

Riset ini sekaligus menegaskan komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian tentang edukasi PHBS di sekolah ini berkaitan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui pencegahan penyakit dan peningkatan perilaku hidup sehat; SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena memperkuat literasi kesehatan siswa melalui pembelajaran berbasis praktik; SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, terutama dalam pembiasaan cuci tangan dan kebersihan lingkungan; serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena riset ini melibatkan kolaborasi akademik antara Unismuh Makassar dan Universiti Sains Islam Malaysia.

Artikel lengkap dapat diakses melalui tautan: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/MPPKI/article/view/9064/7087