UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Riset dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menawarkan model pemanfaatan kompos limbah sayur untuk memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman pakcoy pada lahan miskin hara.
Riset tersebut dipublikasikan di Sustainable Chemistry for Climate Action, Volume 8 Tahun 2026, artikel nomor 100171, terbitan Elsevier. Artikel berjudul “Utilization of Vegetable Waste Compost to Improve Nutrient Availability and Boost Pakcoy (Brassica chinensis L.) Growth on Nutrient Deficient Alfisols” itu ditulis oleh Kasifah, Amanda Patappari Firmansyah, dan Muhammad Roil Bilad.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Kasifah, mengatakan riset ini berangkat dari persoalan yang dekat dengan petani, yakni rendahnya kesuburan tanah Alfisol dan tingginya ketergantungan pada pupuk kimia. Di sisi lain, limbah sayuran dari pasar masih sering dipandang sebagai sampah, padahal dapat diolah menjadi sumber hara organik.
Baca juga: Bukan Sekadar Cuci Tangan, Riset Dosen Unismuh Tawarkan Cara Bangun Budaya Sehat di Sekolah
Menurut dosen Fakultas Pertanian Unismuh Makassar itu, kompos limbah sayur dapat menjadi jembatan antara pengelolaan sampah organik dan pertanian berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan dapat dikembalikan ke tanah sebagai pembenah organik.
“Riset ini ingin menunjukkan bahwa limbah sayur bukan sekadar sampah. Jika diolah dengan benar, ia dapat menjadi kompos yang memperbaiki tanah, menambah ketersediaan hara, dan membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis,” kata Kasifah, saat dikonfirmasi, Selasa, 30 Juni 2026.
Penelitian dilakukan di rumah kaca dan laboratorium Fakultas Pertanian Unismuh Makassar. Tanah Alfisol yang digunakan dalam penelitian diambil dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sedangkan limbah sayuran dikumpulkan dari Pasar Sungguminasa.
Mengolah Limbah Pasar
Dalam riset itu, limbah sayur dicacah menjadi ukuran kecil, dicampur dengan arang sekam untuk memperbaiki aerasi, lalu diberi bioaktivator EM4. Campuran tersebut dikomposkan dalam kondisi aerob melalui pembalikan secara berkala.
Kasifah menjelaskan, penggunaan EM4 membantu mempercepat proses penguraian bahan organik. Kompos yang matang kemudian digunakan sebagai perlakuan pada tanaman pakcoy dengan empat dosis, yakni tanpa kompos, 10 ton per hektare, 20 ton per hektare, dan 30 ton per hektare.
Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Setiap perlakuan diulang tiga kali, dengan masa pengamatan selama 35 hari di rumah kaca. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering tajuk, dan bobot kering akar.
Menurut Kasifah, tanah Alfisol dipilih karena banyak dimanfaatkan untuk pertanian di wilayah tropis, termasuk Sulawesi Selatan, tetapi memiliki keterbatasan unsur hara. Dalam penelitian ini, tanah Alfisol menunjukkan pH agak masam, karbon organik rendah, nitrogen rendah, serta fosfor tersedia yang sangat terbatas.
“Kondisi tanah seperti ini membutuhkan pembenahan. Petani selama ini sering mengandalkan pupuk kimia karena hasilnya cepat terlihat, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menurunkan bahan organik tanah dan meningkatkan risiko pencucian hara,” ujarnya.
Pakcoy Tumbuh Lebih Baik
Hasil penelitian menunjukkan, pemberian kompos limbah sayur berpengaruh signifikan terhadap seluruh parameter pertumbuhan pakcoy. Dosis tertinggi, yakni 30 ton per hektare, secara umum memberikan hasil terbaik dibandingkan kontrol tanpa kompos.
Pada perlakuan 30 ton per hektare, tinggi tanaman meningkat dari 14,2 sentimeter pada kontrol menjadi 15,8 sentimeter. Jumlah daun naik dari 9,3 menjadi 10,2 helai. Bobot segar tajuk meningkat dari 10,7 gram menjadi 20,5 gram, sedangkan bobot segar akar naik dari 2,2 gram menjadi 4,1 gram.
Peningkatan juga tampak pada bobot kering tanaman. Bobot kering tajuk naik dari 5,2 gram menjadi 7,1 gram, sedangkan bobot kering akar meningkat dari 1,3 gram menjadi 1,9 gram. Data tersebut menunjukkan bahwa kompos tidak hanya memengaruhi pertumbuhan bagian atas tanaman, tetapi juga memperkuat perkembangan akar.
Kasifah mengatakan, pertumbuhan pakcoy yang lebih baik menunjukkan bahwa kompos limbah sayur membantu memperbaiki ketersediaan hara secara bertahap. Kompos juga berperan memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan mendukung aktivitas mikroba tanah.
“Pakcoy membutuhkan tanah yang subur dan gembur. Ketika kompos diberikan, tanah menjadi lebih mampu menyediakan hara dan air bagi tanaman. Dampaknya terlihat pada tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot tanaman,” katanya.
Alternatif Pupuk Sintetis
Riset ini juga menegaskan pentingnya mencari alternatif terhadap penggunaan pupuk sintetis. Pupuk kimia memang dapat menyediakan hara secara cepat, tetapi jika digunakan berlebihan dalam jangka panjang, dapat menurunkan kualitas tanah dan meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.
Kompos bekerja berbeda. Hara dilepaskan secara bertahap, sehingga tanaman memperoleh pasokan nutrisi lebih stabil. Pelepasan hara yang lambat juga dapat mengurangi risiko pencucian unsur hara ke lingkungan.
Baca juga: Riset Dosen Unismuh Dorong Inovasi Sumur Resapan dan Biopori untuk Mitigasi Banjir
Kasifah menilai, pendekatan tersebut penting bagi pertanian tropis yang menghadapi tekanan perubahan iklim, degradasi tanah, dan kenaikan biaya input produksi. Dengan memanfaatkan limbah sayur sebagai kompos, petani dapat memperoleh sumber hara organik yang lebih ramah lingkungan.
“Kompos limbah sayur tidak dimaksudkan untuk meniadakan seluruh input lain secara tiba-tiba. Namun, ia dapat menjadi bagian dari strategi pemupukan berimbang yang lebih sehat bagi tanah dan lebih berkelanjutan bagi petani,” ujarnya.
Dalam artikel tersebut, peneliti juga menekankan bahwa pemanfaatan kompos sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Limbah organik dari pasar tidak berhenti sebagai sampah, tetapi diputar kembali menjadi input produktif bagi pertanian.
Rujukan Pertanian Berkelanjutan
Bagi Kasifah, kontribusi utama riset ini adalah memberi dasar ilmiah bahwa limbah sayur dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah pada lahan Alfisol. Temuan ini relevan bagi wilayah yang memiliki tanah miskin hara, tetapi juga menghadapi persoalan limbah organik perkotaan.
Ia menjelaskan, model ini dapat dikembangkan lebih lanjut dalam skala lapangan. Penelitian berikutnya perlu menguji penerapan kompos pada lahan petani, menghitung kelayakan ekonomi, serta melihat dampaknya terhadap sifat kimia dan biologi tanah setelah panen.
“Penelitian rumah kaca memberi gambaran awal yang kuat. Namun, agar bisa diadopsi lebih luas oleh petani, perlu pengujian skala lapangan, analisis biaya, dan pendampingan teknis,” kata Kasifah.
Riset ini juga memberi pesan bagi pemerintah daerah dan pengelola pasar. Pengelolaan limbah organik tidak hanya menjadi urusan kebersihan, tetapi dapat dihubungkan dengan program pertanian kota, ketahanan pangan, dan pemberdayaan petani.
Menurut Kasifah, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghubungkan riset, petani, dan kebijakan publik. Kampus dapat membantu merancang teknologi sederhana, menguji efektivitasnya, lalu mendorong penerapan bersama masyarakat.
“Jika limbah pasar dapat dikelola menjadi kompos, manfaatnya ganda. Lingkungan menjadi lebih bersih, petani memperoleh bahan pembenah tanah, dan produksi pangan lokal dapat meningkat,” ujarnya.
Dari riset ini, Unismuh Makassar menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Limbah sayur yang selama ini terbuang dapat menjadi sumber daya untuk memperbaiki tanah, menumbuhkan tanaman, dan mengurangi tekanan lingkungan.
Riset ini sekaligus menegaskan komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian tentang pemanfaatan kompos limbah sayur ini berkaitan dengan SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, melalui dukungan terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan; SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena mendorong daur ulang limbah organik dalam kerangka ekonomi sirkular; SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, melalui pengurangan ketergantungan pada pupuk sintetis dan pemanfaatan limbah organik; serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, karena berkontribusi pada perbaikan kesuburan tanah dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan.
Artikel lengkap dapat diakses melalui tautan: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772826925001166

