UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Riset dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menawarkan model konservasi air yang dapat menjadi rujukan pemerintah daerah dalam mengurangi risiko banjir, limpasan permukaan, dan degradasi lahan di kawasan daerah aliran sungai.
Riset tersebut dipublikasikan di Journal of Hydrology: Regional Studies, Volume 64, April 2026, terbitan Elsevier. Artikel berjudul “Enhancing Hydrological Resilience through Infiltration Wells and Biopore Holes on Critical Lands of Sub-Watershed Areas” itu ditulis oleh Dr Abd Rakhim Nanda, Dr Amrullah Mansida, Dr Farida Gaffar, dan Prof Hartono Bancong.
Penelitian dilakukan di Sub-DAS Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan ini dipilih karena memiliki karakter lahan kritis, kemiringan lereng yang curam, serta tanah liat dengan daya serap rendah. Kondisi tersebut membuat air hujan lebih cepat berubah menjadi limpasan permukaan, terutama saat hujan berintensitas tinggi.
Peneliti dari Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Dr Abd Rakhim Nanda, mengatakan riset ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan solusi praktis bagi daerah yang menghadapi tekanan hidrologis akibat perubahan tutupan lahan dan meningkatnya intensitas hujan ekstrem.
Menurut dia, pendekatan konservasi air tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur besar. Pemerintah daerah juga membutuhkan intervensi kecil, murah, dan dapat ditempatkan langsung pada titik-titik rawan limpasan.
Baca juga: Dosen Unismuh Teliti E-Budgeting Makassar, Dorong Tata Kelola Kota Lebih Transparan
“Sumur resapan dan lubang resapan biopori dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan air hujan di tingkat tapak. Teknologi ini sederhana, tetapi bila ditempatkan dengan tepat dapat membantu memperlambat aliran air permukaan dan meningkatkan daya serap tanah,” kata Abd Rakhim, saat dikonfirmasi, Sabtu, 2 Mei 2026.
Diuji di Sub-DAS Tanralili
Dalam riset itu, tim peneliti menguji kinerja Lubang Sumur Resapan (LSR) dan Lubang Resapan Biopori (LRB) pada dua jenis tutupan lahan, yakni hutan lahan kering sekunder dan pertanian lahan kering campuran. Dua tipe lahan tersebut mewakili kondisi hidrologis yang berbeda di kawasan Sub-DAS Tanralili.
Hasil penelitian menunjukkan, tanah pada lokasi uji memiliki permeabilitas sangat rendah, dengan nilai rata-rata sekitar 0,00077 sentimeter per detik. Dengan karakter tanah seperti ini, air hujan sulit meresap secara cepat ke dalam tanah dan lebih mudah mengalir di permukaan.
Kondisi itu diperparah oleh dominasi pertanian lahan kering campuran di wilayah Sub-DAS Tanralili. Dalam peta tutupan lahan yang dianalisis peneliti, pertanian lahan kering campuran menjadi penggunaan lahan paling dominan, yakni sekitar 68 hingga 70 persen dari total kawasan.
Abd Rakhim menjelaskan, temuan tersebut penting bagi pemerintah daerah karena menunjukkan bahwa pengendalian limpasan tidak dapat dilakukan secara seragam. Setiap lokasi memerlukan desain intervensi yang mempertimbangkan jenis tanah, tutupan lahan, kemiringan lereng, dan titik pertemuan aliran air.
“Temuan kami menunjukkan bahwa lokasi pemasangan sangat menentukan. Sumur resapan dan biopori sebaiknya ditempatkan pada area yang menjadi jalur konsentrasi aliran, cekungan kecil, atau bagian lereng yang berpotensi mempercepat limpasan,” ujarnya.
Infiltrasi Naik, Limpasan Berkurang
Secara kuantitatif, pemasangan LSR meningkatkan infiltrasi air hingga sekitar 77 persen dibandingkan lahan tanpa perlakuan. Pada saat yang sama, limpasan permukaan berkurang sekitar 23 persen.
Ketika LSR dikombinasikan dengan LRB, kinerja hidrologisnya meningkat. Kombinasi sumur resapan dan biopori membantu memperbesar jalur peresapan air, mengurangi genangan permukaan, serta menunda awal terjadinya limpasan.
Baca juga: Riset Dosen Unismuh Tawarkan Model Digital Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus
Dalam skenario tertentu, kombinasi LSR dan LRB mampu menurunkan volume limpasan sekitar 31 persen. Temuan ini memperlihatkan bahwa teknologi sederhana dapat memberi dampak nyata jika diterapkan dengan desain yang sesuai dengan karakter lahan.
Bagi Abd Rakhim, angka-angka tersebut bukan sekadar capaian laboratorium. Ia melihatnya sebagai dasar teknis yang dapat digunakan pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan konservasi air, mitigasi banjir, dan rehabilitasi lahan kritis.
“Pemerintah daerah dapat menggunakan hasil riset ini sebagai bahan awal untuk menentukan lokasi prioritas. Misalnya pada lahan pertanian kering, lahan terbuka, atau kawasan dengan tanah padat dan daya serap rendah,” katanya.
Rujukan Kebijakan Lokal
Riset ini juga memberi pesan penting bagi tata kelola daerah aliran sungai. Di kawasan tropis seperti Sulawesi Selatan, hujan sering turun dalam durasi singkat tetapi dengan intensitas tinggi. Dalam kondisi demikian, air membutuhkan ruang untuk tertahan lebih lama sebelum mengalir ke sungai atau kawasan hilir.
Sumur resapan dan biopori berfungsi sebagai ruang kecil penahan air. Keduanya tidak serta-merta menggantikan infrastruktur pengendalian banjir berskala besar, tetapi dapat melengkapinya melalui pendekatan berbasis tapak dan komunitas.
Model seperti ini relevan bagi pemerintah kabupaten/kota, terutama dalam program konservasi tanah dan air, pengendalian banjir lokal, rehabilitasi lahan kritis, serta adaptasi perubahan iklim. Intervensi ini juga dapat melibatkan masyarakat, kelompok tani, sekolah, kampus, dan pemerintah desa.
Abd Rakhim menegaskan, riset kampus perlu bergerak dari publikasi menuju pemanfaatan. Menurut dia, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jurnal tempat artikel diterbitkan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab persoalan masyarakat.
“Publikasi internasional penting untuk menunjukkan mutu akademik. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil riset itu dapat dipakai untuk memperbaiki kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan di daerah,” ujarnya.
Riset Unismuh ini menunjukkan bahwa masalah banjir dan krisis air tidak selalu harus dijawab dengan pendekatan besar dan mahal. Pada banyak kasus, solusi dapat dimulai dari teknologi sederhana, berbasis data, dan ditempatkan pada lokasi yang tepat.
Dari Sub-DAS Tanralili, riset dosen Unismuh Makassar memberi pesan bahwa perguruan tinggi dapat berperan lebih jauh dalam membantu pemerintah daerah menghadapi tantangan lingkungan. Kampus tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga menawarkan jalan keluar yang bisa diuji, diterapkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.
Riset ini sekaligus menjadi wujud komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, penelitian ini berkaitan dengan SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, terutama dalam penguatan konservasi air dan peningkatan daya resap tanah; SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui kontribusi terhadap mitigasi banjir dan pengelolaan kawasan rawan limpasan; SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, karena riset ini menawarkan model adaptasi terhadap hujan ekstrem; serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, melalui upaya rehabilitasi lahan kritis dan pengurangan degradasi lingkungan di kawasan daerah aliran sungai.
Artikel lengkap dapat diakses melalui tautan: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S221458182600159X

