UNISMUH.AC.ID, PANGKEP — Mahasiswa KKN-Dik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menghadirkan program Bimbel Ceria bagi anak-anak di Pulau Balang Caddi, Desa Mattiro Bintang, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 September 2026, itu diikuti 41 siswa tingkat SD hingga SMP.
Bimbel Ceria menjadi bagian dari program KKN-Dik FKIP Unismuh untuk memberikan pendampingan pendidikan kepada anak-anak di wilayah tempat mahasiswa melaksanakan pengabdian.
Materi yang diberikan meliputi Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Indonesia, serta membaca, menulis, dan berhitung (Calistung).
Pembelajaran dilakukan secara tatap muka dengan membagi peserta berdasarkan tingkat dan kebutuhan belajar. Mahasiswa mendampingi siswa memahami materi, mengerjakan latihan, hingga menyelesaikan tugas yang dianggap sulit.
Belajar Lebih Santai
Pendekatan pembelajaran dibuat interaktif agar anak-anak dapat belajar dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan.
Siswa kelas V SD, Muh Sakir, mengaku senang mengikuti pendampingan tersebut.
“Kami senang ikut Bimbel Ceria. Kakak-kakak mahasiswa mengajarnya seru dan kalau ada pelajaran yang belum kami mengerti, kami bisa langsung bertanya,” ujar Sakir.
Hal serupa disampaikan Muh Sabir, juga siswa kelas V. Menurutnya, kesempatan bertanya secara langsung membantu siswa lebih mudah memahami soal.
“Kalau ada soal yang susah, kami bisa bertanya langsung kepada kakak mahasiswa. Setelah dijelaskan, biasanya jadi lebih mudah dipahami,” katanya.
Sementara itu, siswa SMP Nur Ainun mengatakan Bimbel Ceria membantunya mengulang materi yang telah diperoleh di sekolah.
“Suasananya lebih santai, jadi kami lebih berani bertanya kalau ada materi yang belum dipahami,” ujar Nur Ainun.
Orang Tua dan Sekolah Beri Dukungan
Program tersebut mendapat respons positif dari orang tua siswa. Hayani, salah seorang orang tua peserta, mengatakan pendampingan mahasiswa memberi kegiatan belajar tambahan bagi anak-anak.
“Kami sebagai orang tua tentu senang melihat anak-anak punya kegiatan belajar tambahan. Apalagi mereka bisa belajar bersama mahasiswa dan mendapatkan pendampingan langsung. Anak-anak juga terlihat antusias,” ujarnya.
Kepala UPT SDN 32 Pulau Balang Caddi, Darmawati Syam, S.Pd., M.Pd., juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN-Dik.
“Kegiatan seperti Bimbel Ceria menjadi tambahan yang positif bagi proses belajar siswa. Anak-anak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga memperoleh pendampingan secara langsung,” jelas Darmawati.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa turut memberi pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa di pulau tersebut.
Mahasiswa Belajar dari Masyarakat
Bagi mahasiswa KKN-Dik, Bimbel Ceria tidak hanya menjadi program kerja, tetapi juga ruang untuk mengenali kebutuhan pendidikan masyarakat secara langsung.
Perwakilan mahasiswa, Riska Sari, mengatakan tim berupaya menciptakan suasana belajar yang membuat siswa nyaman dan berani bertanya.
“Bagi kami, Bimbel Ceria bukan sekadar menjalankan program kerja. Kami ingin anak-anak merasa nyaman belajar dan tidak ragu bertanya. Ketika melihat mereka mulai aktif menjawab dan berani bertanya, itu menjadi pengalaman yang berkesan bagi kami,” tutur Riska.
Lurah Mattiro Bintang, Suwadi, S.Sos., mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam mendampingi anak-anak.
“Kehadiran mereka tidak hanya menjalankan program kampus, tetapi juga ikut membantu kebutuhan masyarakat, khususnya dalam memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak,” ujar Suwadi.
Libatkan 15 Mahasiswa
Bimbel Ceria dilaksanakan oleh 15 mahasiswa KKN-Dik FKIP Unismuh yang berasal dari sejumlah program studi, di antaranya Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD).
Kegiatan berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Irsan Kadir, S.Pd., M.Pd., dan Firdaus Rahim, S.Pd., M.Pd.
Adapun Muh Zaky Rahmat Dany S. bertindak sebagai koordinator kelompok.
Melalui Bimbel Ceria, mahasiswa KKN-Dik FKIP Unismuh berupaya menghadirkan pembelajaran tambahan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak di Pulau Balang Caddi.
Selama tiga hari, para siswa mendapat ruang untuk belajar, berlatih, bertanya, dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman menerapkan ilmu pendidikan di tengah masyarakat dan memahami secara langsung kebutuhan belajar anak-anak di wilayah kepulauan.

