UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Ada bagian dari perjalanan hidup yang tidak tertulis pada kartu nama seorang menteri.
Sabtu pagi, 12 September 2026, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman membukanya di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar). Bukan tentang ruang kerja kementerian atau rapat kabinet, melainkan tentang kamar kos, sumur yang berbau, kasur sederhana, penolakan, dan ejekan yang pernah ia terima ketika masih muda.
Di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Unismuh Makassar, Amran berdiri bukan sekadar sebagai pejabat negara. Di depan tiga ribuan mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademiknya, ia kembali menjadi anak muda yang pernah hidup dengan keterbatasan.
Ia memperlihatkan kepada mahasiswa gambaran tempat kosnya semasa kuliah.
“Ini kos-kosan saya dulu. Ini kamar saya. Ini sumur,” ujarnya.
Cerita berikutnya mengundang tawa sekaligus membuat mahasiswa menyimak lebih serius. Selama sekitar empat tahun, kata Amran, ia hidup dengan kondisi kos yang jauh dari nyaman. Sumur tempatnya mandi bahkan berdekatan dengan toilet sehingga airnya berbau.
“Bayangkan empat tahun mandi dengan sumur yang bau,” katanya.
Bagi Amran, pengalaman tersebut kini bukan kenangan yang perlu disesali. Justru dari tekanan itulah ia merasa ditempa.
Ia menggunakan perumpamaan berlian. Benda berharga itu, katanya, terbentuk melalui tekanan yang luar biasa. Begitu pula manusia. Kesulitan tidak selalu menjadi alasan untuk menyerah, tetapi bisa menjadi proses yang menguatkan.
“Jangan pernah mengeluh,” pesannya kepada mahasiswa.
Di layar, ia juga memperlihatkan foto dirinya pada masa muda. Penampilannya jauh dari sosok menteri yang kini dikenal publik.
Dengan gaya bercerita yang cair, Amran mengenang masa ketika dirinya pernah dipandang sebelah mata. Bahkan, menurut dia, pernah ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak mungkin menjadi pejabat karena berasal dari desa.
“Kamu tidak mungkin jadi pejabat. Kamu anak desa, anak kampung,” kenangnya menirukan ucapan yang pernah diterimanya.
Ucapan itu tidak ia balas dengan kemarahan. Amran mengatakan dirinya memilih menjadikannya sebagai tenaga untuk bekerja lebih keras.
“Saya hanya urut dada. Ya Allah, berikan aku kekuatan,” tuturnya.
Lima belas tahun kemudian, jalan hidup mempertemukannya kembali dengan orang yang pernah meremehkannya. Saat itu Amran telah menjadi Menteri Pertanian. Alih-alih membalas perlakuan masa lalu, ia memilih memaafkan.
Dari pengalaman itu, ia menitipkan satu pesan kepada mahasiswa baru Unismuh, “jangan memelihara dendam.”
“Kalau ada yang menghinamu, ada yang mencacimaki kamu, itu adalah guru terbaik yang mengangkat kamu secara eksponensial,” ujarnya.
“Jangan rawat dendam. Dalam Islam tidak boleh,” lanjutnya.
Mimpi Besar Tak Cukup
Cerita kehidupan itu kemudian bermuara pada pesan yang berulang kali ia tekankan: kesuksesan tidak datang hanya karena seseorang memiliki mimpi.
“Mimpi besar” harus diikuti tindakan besar dan konsistensi.
Menurut Amran, terlalu banyak orang mampu merangkai cita-cita dengan indah, tetapi berhenti pada kata-kata. Ia meminta mahasiswa baru Unismuh membangun kebiasaan bekerja keras sejak hari pertama menjadi mahasiswa.
“Mimpi besar, bertindak besar, persisten, Anda sukses,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak mengenal asal perguruan tinggi, suku, agama, maupun latar belakang keluarga. Setiap orang, katanya, memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.
Pesan itu terasa dekat dengan ribuan mahasiswa yang pagi itu baru saja memasuki babak baru kehidupannya.
“Kalau Anda bermain-main hari ini, Anda akan dipermainkan kehidupan 15 tahun ke depan,” kata Amran.
Ia mengingatkan bahwa para mahasiswa membawa harapan orang tua ketika memilih kuliah di Unismuh.
“Anda adalah putra terbaik masuk di Unismuh. Dan harapan kedua orang tua bahwa Anda nanti akan bisa mengubah kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Motivator yang Nyata
Sebelum Amran menyampaikan orasi, Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda ST MT IPU menjelaskan mengapa pengalaman hidup Menteri Pertanian penting didengar mahasiswa baru.
Menurut Rakhim, Amran bukan hanya pandai memberikan motivasi, tetapi menjadi contoh nyata perjalanan seseorang merancang masa depannya.
“Beliau adalah motivator yang nyata, bukan hanya ulung, tetapi sekaligus menjadi contoh nyata dari sebuah kesuksesan perancangan masa lalu menuju masa depan,” ujar Rakhim.
Rektor kemudian mengingatkan mahasiswa baru bahwa mereka sedang berada pada titik yang sama: titik awal merancang masa depan.
Orasi Amran akhirnya menjadi lebih dari cerita seorang menteri. Di hadapan mahasiswa baru Unismuh, ia seperti sedang menunjukkan dua gambar kehidupan sekaligus: seorang anak kos yang pernah mandi dengan air sumur berbau dan seorang menteri yang telah dipercaya menduduki jabatan Menteri Pertanian tiga kali.
Di antara dua gambar itu terdapat jarak panjang bernama proses. “Tidak ada manusia sukses tiba-tiba,” pesannya.
Dan pagi itu, kepada mahasiswa yang baru memulai perjalanan panjangnya di Unismuh, Amran seolah ingin mengatakan, jangan takut memulai dari keadaan yang sederhana.
Kontributor: Sulaeman, Bukhaerul Iman, Arinal Hidayah
Editor: Hadisaputra

