UNISMUH.AC.ID, PANGKEP — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperkuat kontribusinya dalam peningkatan mutu pendidikan di wilayah kepulauan dan pesisir melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Coastal Innovative Learning: Pendampingan Guru dalam Mengembangkan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Potensi dan Permasalahan Lingkungan Pesisir.”
Kegiatan dilaksanakan di Pulau Salemo, Desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Kamis, 10 September 2026.
Program menghadirkan dua akademisi Unismuh Makassar sebagai narasumber, yakni Prof Dr Eny Syatriana, M.Pd. dan Dr Ratnawati, S.Pd., M.Pd.
Pendampingan diarahkan untuk membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata peserta didik, khususnya dengan memanfaatkan potensi sekaligus persoalan lingkungan pesisir sebagai sumber belajar.
Pesisir sebagai Laboratorium Belajar
Program tersebut berangkat dari kenyataan bahwa kawasan pesisir memiliki kekayaan lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Selama ini, pembelajaran di sekolah masih cenderung bertumpu pada buku teks. Konteks lokal seperti ekosistem laut, mangrove, aktivitas nelayan, sampah laut, abrasi, dan konservasi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai bagian dari proses belajar.
Melalui pendekatan Coastal Innovative Learning (CIL), lingkungan pesisir ditempatkan sebagai “laboratorium belajar” bagi siswa.
Ekosistem laut dapat digunakan sebagai sumber observasi. Kawasan mangrove dapat dikaitkan dengan pembelajaran konservasi. Aktivitas nelayan dapat dibaca sebagai bagian dari kearifan lokal dan ekonomi masyarakat. Sementara persoalan sampah laut serta abrasi dapat dikembangkan menjadi tema proyek pembelajaran.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari konsep dari buku, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan yang mereka lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari.
Guru Jadi Kunci
Program ini memusatkan perhatian pada peningkatan kapasitas guru.
Guru didampingi untuk merancang pembelajaran kontekstual yang berangkat dari potensi dan persoalan lingkungan pesisir, sekaligus mengembangkan perangkat ajar, media digital, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan kegiatan berbasis proyek.
Bentuk pendampingan meliputi pelatihan, workshop penyusunan perangkat ajar, praktik pembelajaran, hingga pendampingan implementasi di kelas.
Coastal Innovative Learning dikembangkan melalui enam tahapan, yakni Coastal Exploration, Contextual Connection, Problem Identification, Collaborative Investigation, Innovative Project, serta Reflection & Coastal Action.
Melalui tahapan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengenali persoalan, melakukan penyelidikan, bekerja secara kolaboratif, dan menghasilkan proyek atau aksi yang berkaitan dengan lingkungan pesisir.
Dari Masalah Menjadi Proyek
Salah satu kekuatan pendekatan CIL adalah menempatkan persoalan nyata sebagai pemantik belajar.
Sampah laut, misalnya, tidak hanya dibicarakan sebagai masalah lingkungan. Isu tersebut dapat diolah menjadi bahan observasi, diskusi, pengumpulan data, penyusunan solusi, hingga proyek kampanye atau aksi lingkungan oleh siswa.
Demikian pula abrasi, mangrove, kehidupan nelayan, dan budaya masyarakat pesisir dapat dihubungkan dengan berbagai mata pelajaran sesuai konteks pembelajaran.
Pendekatan ini diharapkan memperkuat literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian siswa terhadap lingkungannya.
Siapkan Coastal Innovative Learning Kit
Program juga menargetkan lahirnya Coastal Innovative Learning Kit sebagai perangkat yang dapat digunakan guru secara berkelanjutan.
Perangkat tersebut dirancang mencakup modul implementasi CIL, panduan guru pembelajaran pesisir, LKPD berbasis masalah lingkungan, media pembelajaran digital, bank proyek pembelajaran pesisir, instrumen asesmen literasi dan berpikir kritis, video praktik baik, serta panduan refleksi dan evaluasi.
Program dijalankan secara bertahap, mulai dari asesmen kebutuhan guru dan identifikasi potensi pesisir, pelatihan konsep CIL, workshop penyusunan perangkat, implementasi di kelas, evaluasi, hingga diseminasi praktik baik.
Selain dampak langsung bagi sekolah mitra, program juga diarahkan menghasilkan luaran akademik berupa artikel pengabdian, publikasi media, dokumentasi video, serta peluang Hak Kekayaan Intelektual terhadap modul maupun model pembelajaran yang dikembangkan.
Guru Berdaya, Siswa Peduli
Coastal Innovative Learning membawa semangat “Guru Berdaya, Siswa Peduli, Sekolah Berkelanjutan.”
Melalui program ini, potensi dan persoalan pesisir tidak lagi dipandang sekadar sebagai latar kehidupan siswa, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang aktif, relevan, dan berorientasi pada aksi.
Pendampingan tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education melalui penguatan kualitas pembelajaran dan kapasitas guru.
Pemanfaatan isu sampah laut, abrasi, mangrove, dan konservasi berkaitan dengan SDG 13: Climate Action serta SDG 14: Life Below Water. Sementara penguatan kepedulian terhadap lingkungan pesisir juga mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities.
Melalui penguatan kapasitas guru, Unismuh mendorong sekolah-sekolah pesisir membangun pembelajaran yang tidak tercabut dari kehidupan peserta didik, tetapi justru menjadikan laut, mangrove, budaya lokal, aktivitas masyarakat, dan persoalan lingkungan sebagai sumber pengetahuan sekaligus ruang pembentukan kepedulian generasi muda.

