UNISMUH.AC.ID, DAVAO, FILIPINA — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperluas kontribusi internasionalnya melalui pengembangan pendidikan inklusif bagi anak-anak migran Indonesia di Davao, Filipina.
Agenda tersebut dibahas dalam rangkaian academic visit dan community engagement delegasi Unismuh Makassar bersama Ateneo de Davao University (ADDU) dan mitra pendidikan setempat, Senin, 7 September 2026.
Kolaborasi diarahkan pada penguatan akses dan kualitas pendidikan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya anak-anak migran yang tumbuh dan belajar dalam lingkungan sosial serta budaya yang multikultural.
Delegasi Unismuh dipimpin Wakil Rektor III Dr H Mawardi Pewangi, M.Pd.I., bersama akademisi dari Fakultas Agama Islam, Program Magister Pendidikan Islam, dan Program Doktor Pendidikan Islam.
Mawardi mengatakan keberadaan masyarakat Indonesia di luar negeri juga menjadi bagian dari ruang pengabdian perguruan tinggi.
“Pendidikan harus hadir untuk semua, termasuk anak-anak Indonesia yang tumbuh dan belajar di luar negeri. Mereka membutuhkan akses pendidikan yang berkualitas, tetapi pada saat yang sama tetap perlu memiliki ikatan yang kuat dengan identitas dan kebudayaan Indonesia,” ujar Mawardi.
Sekolah Indonesia Davao Jadi Mitra Strategis
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Sekolah Indonesia Davao (SID) menjadi salah satu mitra penting yang dijajaki Unismuh Makassar.
Kehadiran sekolah itu memberi kesempatan kepada Unismuh untuk memahami lebih dekat dinamika dan kebutuhan pendidikan anak-anak Indonesia di Filipina sekaligus mengeksplorasi program akademik dan pengabdian yang relevan.
Menurut Mawardi, pendekatan pendidikan bagi anak migran tidak dapat semata-mata menyalin pola pembelajaran yang diterapkan di dalam negeri.
“Konteks mereka berbeda. Anak-anak ini berinteraksi dengan lingkungan sosial, bahasa, dan budaya yang beragam. Karena itu, pendidikan juga harus adaptif, inklusif, tetapi tetap mampu memperkuat jati diri mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama dengan Sekolah Indonesia Davao membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk ikut mendukung kebutuhan akademik sekolah melalui penelitian, pengabdian, dan keterlibatan mahasiswa.
“Unismuh ingin melihat kebutuhan yang benar-benar ada di lapangan. Dari situlah kita dapat merancang program yang relevan, apakah dalam bentuk pendampingan pembelajaran, pengembangan kapasitas guru, penelitian, maupun keterlibatan mahasiswa,” kata Mawardi.
Kearifan Lokal Nusantara dan Mindanao
Kolaborasi tersebut juga diarahkan pada pemanfaatan kearifan lokal Nusantara dan Mindanao sebagai sumber pembelajaran.
Pertukaran perspektif Indonesia–Filipina diharapkan memperkaya pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperkuat identitas budaya, pemahaman lintas budaya, inklusi sosial, toleransi, dan kehidupan bersama yang damai.
Mawardi menilai pengalaman hidup di tengah dua lingkungan budaya dapat menjadi kekuatan bagi peserta didik apabila dikelola melalui pendekatan pendidikan yang tepat.
“Anak-anak migran tidak boleh hanya dilihat dari sisi tantangannya. Mereka justru memiliki pengalaman lintas budaya yang sangat berharga. Pendidikan perlu membantu mereka menjadikan pengalaman itu sebagai modal untuk tumbuh menjadi generasi yang adaptif, terbuka, tetapi tetap memiliki identitas yang kuat,” ujarnya.
Jajaki Praktik Mengajar Mahasiswa
Selain program bagi anak migran, Unismuh Makassar juga menjajaki pengembangan student mobility dan international learning experience bagi mahasiswa.
Salah satu peluang yang sedang dikembangkan adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa Unismuh, terutama yang memiliki latar belakang kependidikan, untuk menjalani teaching practicum atau praktik pengalaman mengajar di Sekolah Indonesia Davao.
Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi pedagogik yang diperoleh di kampus sekaligus mendapatkan pengalaman mengajar dalam konteks pendidikan Indonesia di luar negeri.
“Bagi mahasiswa kependidikan, mengajar di lingkungan internasional akan memberi pengalaman yang sangat berbeda. Mereka belajar bukan hanya tentang metode mengajar, tetapi juga adaptasi, komunikasi lintas budaya, dan bagaimana memahami karakter peserta didik dalam konteks yang lebih beragam,” ujar Mawardi.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat memberi manfaat dua arah.
Mahasiswa mendapatkan pengalaman global, sementara sekolah dan komunitas Indonesia di Filipina dapat memperoleh tambahan dukungan akademik dari sivitas akademika Unismuh.
“Ini yang kita inginkan dari internasionalisasi. Mahasiswa memperoleh pengalaman global, tetapi pada saat yang sama kehadiran mereka juga harus membawa manfaat bagi masyarakat,” tambah Mawardi.
Pendidikan sebagai Instrumen Inklusi
Bagi Unismuh Makassar, kemitraan dengan ADDU, Sekolah Indonesia Davao, dan mitra lokal diarahkan agar berkembang dari kunjungan akademik menjadi program yang berkelanjutan.
Kerja sama diharapkan dapat menghadirkan manfaat bagi mahasiswa, sekolah, komunitas, serta masyarakat Indonesia di Filipina.
Inisiatif tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong pendidikan yang inklusif, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Perhatian terhadap anak-anak migran Indonesia juga berkaitan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, sedangkan penguatan pemahaman lintas budaya, toleransi, dan kehidupan bersama yang damai mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
Sementara pengembangan student mobility, teaching practicum, serta kemitraan pendidikan Indonesia–Filipina menjadi bagian dari implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui kolaborasi tersebut, Unismuh Makassar menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan mobilitas akademik, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat inklusi, pemberdayaan, pemahaman lintas budaya, dan pembangunan berkelanjutan.
Kontributor: Ahmad Rijal Misbah
Editor: Hadisaputra

