UNISMUH.AC.ID, DAVAO, FILIPINA — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi melalui pengembangan kolaborasi dengan Ateneo de Davao University (ADDU), Filipina.
Kemitraan tersebut diarahkan pada sejumlah agenda, mulai dari joint research, community engagement, academic visit, pertukaran pengetahuan, hingga pengembangan program pendidikan yang mempertemukan akademisi Indonesia dan Filipina.
Kunjungan ke Ateneo de Davao University (ADDU), Filipina, digelar pada Senin – Rabu, 7 – 9 September 2026.
Delegasi Unismuh Makassar dipimpin Wakil Rektor III Dr H Mawardi Pewangi, M.Pd.I., bersama akademisi dari Fakultas Agama Islam, Program Magister Pendidikan Islam, dan Program Doktor Pendidikan Islam.
Keterlibatan akademisi lintas jenjang tersebut menjadi bagian dari upaya Unismuh membangun kemitraan internasional yang tidak berhenti pada hubungan antarlembaga, tetapi menyentuh langsung bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mawardi mengatakan internasionalisasi perguruan tinggi harus diarahkan pada kerja sama yang memiliki keluaran dan dampak yang terukur.
“Internasionalisasi Unismuh tidak boleh berhenti pada penandatanganan kerja sama atau kunjungan antarkampus. Yang kita dorong adalah kolaborasi yang menghasilkan riset bersama, pengembangan kapasitas akademik, pengalaman global bagi mahasiswa, serta manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Mawardi.
Jajaki Riset Bersama
Dalam rangkaian kunjungan akademik di Davao, delegasi Unismuh melakukan pertemuan dengan sejumlah unit akademik dan pusat kajian di Ateneo de Davao University.
Unit yang dikunjungi antara lain Islamic Studies Department, School of Arts and Sciences, serta Al-Qalam Institute.
Pertemuan tersebut membahas peluang pengembangan penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran akademik, serta inovasi pembelajaran.
Sejumlah isu yang diproyeksikan menjadi ruang joint research meliputi pendidikan Islam, kearifan lokal, moderasi beragama, literasi lintas agama, pembangunan perdamaian, literasi ekologis, pendidikan inklusif, hingga pendidikan bagi anak migran Indonesia.
Mawardi menilai kesamaan sekaligus keragaman konteks sosial Indonesia dan Filipina membuka ruang yang luas untuk penelitian kolaboratif.
“Kami melihat banyak isu yang dapat dikembangkan bersama dengan Ateneo de Davao University, mulai dari pendidikan Islam, moderasi beragama, literasi lintas agama, perdamaian, kearifan lokal, pendidikan inklusif, hingga pendidikan anak migran Indonesia. Tema-tema ini dekat dengan kebutuhan masyarakat kedua negara,” jelasnya.
Menurut Mawardi, penelitian bersama juga harus diarahkan agar hasilnya tidak berhenti pada publikasi akademik.
“Kolaborasi riset harus berangkat dari persoalan nyata. Hasilnya jangan hanya menjadi artikel ilmiah, tetapi sebisa mungkin diterjemahkan menjadi model pendidikan, program pengabdian, atau inovasi yang dapat digunakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Digital Iqra’ hingga Literasi AI
Selain riset, Unismuh dan mitra di Davao juga membahas sejumlah peluang pengabdian kepada masyarakat.
Agenda yang dikembangkan antara lain penguatan literasi Al-Qur’an melalui Digital Iqra’, pengembangan model pembelajaran berbasis Ma’had di Al-Qalam Institute Mindanao, serta penguatan AI literacy dan pemanfaatan generative AI secara bertanggung jawab dalam pendidikan Islam.
Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa kemitraan internasional diarahkan pada knowledge transfer, peningkatan kapasitas, keterlibatan masyarakat, serta penciptaan solusi terhadap persoalan pendidikan dan sosial.
Menurut Mawardi, dimensi dampak menjadi penting agar kerja sama internasional memiliki relevansi langsung terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kerja sama internasional harus memiliki orientasi dampak. Ketika perguruan tinggi bekerja bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses, membangun toleransi dan perdamaian, serta menyelesaikan persoalan masyarakat, pada saat yang sama kita sedang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertemuan di Davao juga membuka ruang bagi kedua institusi untuk memperluas pertukaran pengalaman dan pengetahuan dalam konteks masyarakat multikultural.
“Unismuh ingin hadir sebagai mitra global yang tidak hanya bertukar pengetahuan, tetapi juga ikut menciptakan solusi. Karena itu, pendidikan, penelitian, pengabdian, dan kemitraan internasional harus kita hubungkan dalam satu agenda yang berkelanjutan,” tegas Mawardi.
Kolaborasi untuk SDGs
Pengembangan kemitraan Unismuh Makassar dan Ateneo de Davao University juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).
Penguatan mutu pendidikan dan inovasi pembelajaran berkontribusi terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas, sementara perhatian terhadap kelompok yang menghadapi tantangan akses pendidikan berkaitan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.
Pengembangan kajian moderasi beragama, literasi lintas agama, dan peacebuilding beririsan dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Sementara kemitraan Indonesia-Filipina menjadi implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kontributor: Ahmad Rijal Misbah
Editor: Hadisaputra

