UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan perlu disertai sikap kritis, etika akademik, dan kehati-hatian dalam mengelola data. Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi itu dinilai dapat melemahkan kemampuan berpikir sekaligus mengancam kejujuran akademik.
Hal tersebut mengemuka dalam kuliah tamu Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang menghadirkan akademisi Faculty of Education, Yala Rajabhat University, Thailand, Dr Muhammad Suhaimi Haengyama. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar FAI Unismuh, Makassar, Selasa, 4 Agustus 2026.
Suhaimi mengatakan, perkembangan AI telah mengubah cara manusia belajar, mengajar, menulis, dan memperoleh informasi. Meskipun demikian, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir dan tanggung jawab akademik.
“AI adalah alat untuk membantu. Namun, jika kita bergantung sepenuhnya kepada AI, pendidikan akan menghadapi masalah, terutama berkaitan dengan kejujuran akademik dan hilangnya kemampuan berpikir,” kata Suhaimi.
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan tinggi saat ini ialah meningkatnya ketergantungan mahasiswa terhadap AI untuk menyelesaikan tugas akademik. Penggunaan AI secara tidak bijak dapat mengurangi kemampuan analisis, kreativitas, dan daya kritis peserta didik.
Padahal, kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari proses pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak semestinya hanya menerima jawaban yang dihasilkan mesin, tetapi juga harus mampu memeriksa, membandingkan, dan mempertanggungjawabkan informasi yang digunakan.
Suhaimi juga mengingatkan risiko keamanan data dalam penggunaan platform berbasis AI. Pengguna diminta tidak sembarangan memasukkan identitas pribadi, dokumen institusi, hasil penelitian yang belum dipublikasikan, ataupun informasi penting lainnya.
“Kita harus berhati-hati menggunakan AI. Data yang kita masukkan dapat diambil atau digunakan oleh pihak lain. Karena itu, keamanan data sangat penting untuk diperhatikan,” ujarnya.
Selain keamanan data, ia menekankan pentingnya amanah dan kejujuran dalam penyusunan karya ilmiah. AI dapat membantu pencarian informasi dan proses penulisan, tetapi setiap informasi yang digunakan tetap harus diverifikasi serta disertai rujukan yang jelas.
“Apa pun yang diambil dari suatu sumber harus disebutkan dan dimasukkan dalam rujukan, baik dalam buku, makalah, tesis, maupun karya ilmiah lainnya,” katanya.
AI dalam Studi Islam
Diskusi kemudian berkembang pada penggunaan AI dalam studi Islam. Sejumlah peserta menyoroti kecenderungan AI menghasilkan informasi keliru atau halusinasi, terutama ketika menjawab persoalan hadis, fikih, sejarah Islam, dan kajian keislaman lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengguna AI tetap memerlukan dasar keilmuan yang kuat. Tanpa penguasaan sumber dan metodologi, pengguna akan kesulitan membedakan informasi yang benar, tidak tepat, atau bahkan sepenuhnya dibuat oleh sistem.
Wakil Dekan I FAI Unismuh, Dr Ilham Muchtar, mengatakan, penggunaan AI dalam pendidikan merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
“Tantangannya bukan lagi apakah AI digunakan atau tidak, melainkan bagaimana AI dimanfaatkan tanpa menghilangkan daya kritis, integritas akademik, dan tradisi keilmuan yang menjadi ruh pendidikan tinggi,” kata Ilham.
Menurut dia, FAI Unismuh terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat etika dalam pembelajaran dan penelitian. AI seharusnya digunakan sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai jalan pintas untuk menghasilkan karya akademik.
Kampus juga perlu mengembangkan penelitian mengenai hubungan antara AI, algoritma, validitas data, dan studi Islam. Kajian tersebut diperlukan agar perkembangan teknologi dapat dipahami secara kritis dan dimanfaatkan secara konstruktif.
Ketua Program Studi S-3 Pendidikan Agama Islam Unismuh, Prof Bahaking Rama, menambahkan, kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan penguasaan metodologi ilmiah. Tanpa kemampuan tersebut, mahasiswa berisiko terjebak dalam praktik akademik instan yang menurunkan kualitas penelitian.
Menurut Bahaking, tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada kesiapan penggunanya. Mahasiswa dan dosen harus mampu memastikan validitas data, memahami keterbatasan teknologi, serta bertanggung jawab terhadap setiap karya yang dihasilkan.
Dalam sesi tanya jawab, pembahasan juga mencakup perkembangan pendidikan Islam di Thailand Selatan. Suhaimi menjelaskan, masyarakat Muslim di Pattani, Yala, dan Narathiwat terus mengembangkan lembaga pendidikan Islam melalui kerja sama dengan berbagai institusi luar negeri, termasuk perguruan tinggi di Indonesia.
Kolaborasi akademik tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam dan memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Muslim di kawasan Thailand Selatan.
Kuliah tamu itu dihadiri Ketua Gugus Kendali Mutu FAI Unismuh Dr Mursyid Fikri, Ketua Program Studi S-2 Pendidikan Islam Dr Rusli Malli, para ketua program studi, dosen, serta mahasiswa di lingkungan FAI Unismuh.
Melalui kegiatan tersebut, FAI Unismuh berharap pembahasan mengenai AI tidak berhenti pada aspek teknis. Diskusi juga diharapkan mendorong penguatan integritas akademik, pengembangan riset berbasis teknologi, serta kajian kritis mengenai kecerdasan buatan dalam perspektif pendidikan dan studi Islam.

