August 4, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Dari Sekolah ke Desa, KKN Pendidikan FKIP Unismuh Perluas Ruang Belajar Mahasiswa

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR– KKN Pendidikan tidak lagi sekadar menjadi tempat calon guru berlatih mengajar. Desa ditempatkan sebagai ruang untuk membaca persoalan pendidikan, memahami keragaman sosial budaya, dan membangun kerja bersama masyarakat.

Desa tidak hanya menjadi lokasi pengabdian bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unusmuh) Makassar. Dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik), desa ditempatkan sebagai ruang belajar yang mempertemukan calon pendidik dengan kenyataan sosial di luar ruang kelas.

Orientasi itu menjadi pembeda antara KKN-Dik berbasis desa dan program praktik keguruan yang sebelumnya lebih banyak berlangsung di sekolah-sekolah perkotaan ataupun kawasan pinggiran kota. Melalui KKN-Dik, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga dengan kondisi sosial budaya, persoalan pembangunan, serta kebutuhan masyarakat yang beragam.

Sebanyak 410 mahasiswa peserta KKN-Dik FKIP Unismuh dilepas untuk menjalankan pengabdian di sejumlah desa pada tiga kabupaten. Pelepasan berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar, Lantai 2 Balai Sidang Muktamar, Selasa, 4 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Unismuh Makassar Dr Abd Rakhim Nanda, Dekan FKIP Dr Baharullah, jajaran pimpinan fakultas dan program studi, dosen pembimbing lapangan, serta mahasiswa peserta KKN-Dik.

Mengapa Desa?

Dalam arahannya, Baharullah menegaskan bahwa pemilihan desa sebagai lokasi pengabdian bukan sekadar perubahan tempat. Desa dipandang sebagai lingkungan yang memungkinkan mahasiswa memahami pendidikan dalam konteks kehidupan masyarakat yang sebenarnya.

“Kenapa di desa? Karena desa itu merupakan ruang belajar yang sesungguhnya,” kata Baharullah.

Menurut dia, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan realitas pendidikan, kehidupan bersama, perbedaan sosial budaya, tantangan pembangunan, dan kebutuhan warga. Kondisi setiap desa yang tidak sama juga menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan pendekatan serta program yang mereka jalankan.

Melampaui Ruang Kelas

KKN-Dik memperluas pengertian mengenai kompetensi seorang calon guru. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menyusun perangkat pembelajaran dan mengajar di kelas. Mereka juga harus dapat membaca kondisi masyarakat, membangun komunikasi, dan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari proses pemberdayaan desa.

Baharullah mengatakan, mahasiswa diharapkan hadir sebagai mitra sekolah dan pemerintah desa. Mereka juga didorong bekerja bersama organisasi kemasyarakatan dan unsur Persyarikatan Muhammadiyah di lokasi pengabdian.

Dengan pendekatan itu, pendidikan tidak dipahami semata-mata sebagai kegiatan formal di sekolah. Pendidikan juga mencakup usaha meningkatkan kapasitas masyarakat, memperkuat kelembagaan sosial, mendampingi anak dan keluarga, serta mencari penyelesaian terhadap persoalan yang dihadapi warga.

Perubahan orientasi tersebut membuat mahasiswa harus lebih terbuka terhadap kebutuhan masyarakat. Program kerja yang telah disusun saat pembekalan tidak boleh dijalankan secara kaku tanpa mempertimbangkan kondisi setempat.

Baharullah meminta mahasiswa terlebih dahulu berkomunikasi dengan kepala desa dan unsur masyarakat. Program yang sudah direncanakan bersama dosen pembimbing harus disesuaikan kembali agar benar-benar menjawab persoalan yang ditemukan di lapangan.

“Program kerja harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada di desa. Jangan hanya mengikuti kemauan sendiri. Apa yang direncanakan perlu dibicarakan dengan pemerintah desa,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menempatkan warga bukan sebagai penerima program semata. Masyarakat menjadi mitra yang ikut menentukan kebutuhan, menyusun prioritas, dan menilai manfaat kehadiran mahasiswa.

Manfaat sebagai Ukuran

Rektor Unismuh Makassar Abd Rakhim Nanda mengingatkan bahwa model KKN berbasis desa perlu terus dievaluasi. Kehadiran mahasiswa harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia.

Menurut Rakhim, penilaian warga akan menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat apakah model KKN-Dik layak dipertahankan dan dikembangkan pada masa mendatang.

“Satu jawabannya adalah kalau desa-desa mengatakan kehadiran mahasiswa sangat memberi manfaat, terutama bagi pembangunan desa, khususnya pembangunan sumber daya manusia,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa KKN pada masa lalu tidak selalu berjalan tanpa persoalan. Perubahan sosial dan politik di daerah pernah membuat mahasiswa kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat. Dalam beberapa kasus, kehadiran mahasiswa bahkan dicurigai membawa kepentingan kelompok tertentu.

Pengalaman tersebut, menurut Rakhim, harus menjadi bahan pembelajaran. KKN tidak boleh kembali menjadi kegiatan rutin yang sekadar memenuhi kewajiban akademik. Program itu hanya bermakna apabila tercipta hubungan saling menguntungkan antara mahasiswa, masyarakat, dan pengelola perguruan tinggi.

Karena itu, mahasiswa diminta membangun hubungan yang wajar dan harmonis dengan warga. Mereka harus mampu beradaptasi, memahami kebiasaan masyarakat, serta menghindari sikap merasa lebih mengetahui kebutuhan desa.

“Adaptasi dengan masyarakat menjadi bagian yang penting bagi mahasiswa,” kata Rakhim.

Kemampuan beradaptasi tersebut juga menjadi bagian dari pembentukan calon pendidik. Guru nantinya tidak hanya bekerja dalam ruang kelas yang seragam. Mereka akan berhadapan dengan latar sosial, ekonomi, budaya, dan karakter peserta didik yang berbeda-beda.

Desa, dengan seluruh kompleksitasnya, menyediakan ruang pembelajaran yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh mahasiswa melalui perkuliahan. Mereka belajar mengamati, mendengarkan, bernegosiasi, mengambil keputusan, dan bekerja bersama kelompok masyarakat yang beragam.

Menjadi duta kampus

Selain membawa program pendidikan dan pengabdian, mahasiswa juga membawa identitas Unismuh Makassar sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah. Karena itu, perilaku mereka selama berada di lokasi KKN-Dik akan turut menentukan cara masyarakat memandang universitas.

Rakhim menyebut mahasiswa sebagai duta kampus yang harus menjaga kepercayaan masyarakat. Ia meminta mereka memahami identitas dan capaian universitas agar tampil percaya diri, tetapi tetap rendah hati ketika berinteraksi dengan warga.

Baharullah juga mengingatkan mahasiswa agar menjaga nama baik universitas melalui sikap dan karya yang memberikan kesan positif. Kebaikan yang ditunjukkan mahasiswa diharapkan tidak berhenti selama program berlangsung, tetapi meninggalkan hubungan yang tetap terjaga setelah mereka kembali ke kampus.

Ia merangkum pesan tersebut dalam ungkapan, “Datang membawa semangat, pulang dikenang karena manfaat.”

“Bekerja dengan ikhlas, mengabdi dengan tulus, dan dikenang karena manfaat. Saat datang kita disambut, saat pulang kita dikenang,” kata Baharullah.

Harapan itu sekaligus menjadi ukuran keberhasilan KKN-Dik. Keberhasilan bukan hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, laporan yang diselesaikan, atau dokumentasi yang dikumpulkan. Hal yang lebih penting adalah perubahan dan manfaat yang tetap dirasakan warga setelah mahasiswa meninggalkan desa.

Pendidikan sebagai Kerja Bersama

Model KKN-Dik berbasis desa menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan sekolah sendirian. Pemerintah desa, keluarga, organisasi sosial, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu bekerja bersama membangun lingkungan yang mendukung perkembangan anak dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Mahasiswa dalam konteks tersebut berfungsi sebagai penghubung. Mereka membawa pengetahuan dari kampus, tetapi pada saat bersamaan belajar dari pengalaman dan pengetahuan masyarakat. Hubungan itu diharapkan tidak berjalan satu arah.

Program kerja mahasiswa dapat mencakup pendampingan pendidikan, penguatan literasi, pemberdayaan masyarakat, pengembangan kegiatan kepemudaan, ataupun program lain yang disusun berdasarkan hasil observasi. Namun, bentuk kegiatan harus tetap ditentukan oleh kebutuhan nyata di lokasi, bukan semata-mata oleh agenda yang dibawa dari kampus.

FKIP Unismuh juga mendorong mahasiswa membangun kolaborasi dengan sekolah, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat. Kerja bersama itu diharapkan menghasilkan program yang dapat dilanjutkan warga, bukan kegiatan sesaat yang berakhir ketika masa KKN selesai.

Pada akhirnya, KKN-Dik menjadi ujian atas kemampuan mahasiswa menghubungkan ilmu pendidikan dengan realitas masyarakat. Di desa, mereka tidak hanya belajar menjadi guru yang mampu mengajar, tetapi juga calon pendidik yang memahami lingkungan sosial peserta didik dan mampu ikut menggerakkan perubahan.

Kegiatan ini berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pembelajaran dan sumber daya manusia di desa. Kolaborasi mahasiswa, sekolah, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat juga mendukung SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sementara itu, program pemberdayaan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dapat berkontribusi terhadap SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, khususnya dalam memperluas akses dan kualitas pendidikan di wilayah perdesaan.