June 8, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Kepala BRIN Dorong Unismuh Makassar Perkuat Riset dan Inovasi Menuju Innovation University

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mendorong perguruan tinggi memperkuat budaya riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan.

Hal itu disampaikan saat Prof. Arif menjadi pembicara utama dalam kuliah tamu dan silaturahmi akademik di Universitas Muhammadiyah Makassar, Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar itu mengangkat tema “Arah Kebijakan Riset Nasional dalam Mendukung Pembangunan Daerah yang Berdampak.”

Prof. Arif hadir didampingi Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono. Acara tersebut dimoderatori Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum.

Turut hadir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Unismuh Dr. Ir. Abd Rakhim Nanda, ST, MT, Wakil Rektor II Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor III Dr. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., Wakil Rektor IV Dr. Burhanuddin, M.Si., para dekan, pimpinan lembaga, serta dosen penerima hibah penelitian.

Dalam paparannya, Prof. Arif menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kekuatan riset dan inovasi. Menurutnya, negara yang ingin maju tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi harus memperkuat riset yang berdampak bagi industri, masyarakat, lingkungan, serta kebijakan publik.

“Indonesia ke depan sangat bergantung pada kekuatan riset dan inovasi. Jika ingin menjadi negara maju, maka tidak ada pilihan selain memperkuat riset yang berdampak bagi industri, masyarakat, lingkungan, dan kebijakan publik,” ujarnya.

Prof. Arif menjelaskan, BRIN terus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui berbagai program strategis. Program tersebut antara lain penguatan kelompok riset, kolaborasi riset strategis, serta program penguatan talenta riset yang dapat diikuti dosen maupun mahasiswa jenjang S1, S2, hingga S3.

Ia juga memperkenalkan konsep Rumah Inovasi Daerah sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan akademisi, inovator, inventor, industri, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, kampus memiliki peran besar dalam ekosistem tersebut karena kekuatan inovasi daerah sangat ditentukan oleh kualitas riset perguruan tinggi.

“Di daerah akan bisa tumbuh inovasi, dan orkestrasi itu dilakukan oleh pemerintah provinsi. Kampus punya peran besar karena kekuatan daerah sangat tergantung pada kekuatan riset di kampus,” katanya.

Pada kesempatan itu, Prof. Arif juga mengulas sejumlah tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini, mulai dari perubahan iklim, perubahan geopolitik, krisis energi, persoalan kemiskinan, hingga percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

Ia menekankan bahwa institusi pendidikan tinggi harus mampu beradaptasi dengan cepat. Menurutnya, individu dapat berubah dengan mudah, tetapi perubahan dalam institusi tidak selalu sederhana. Karena itu, kemampuan membaca tren masa depan menjadi kunci agar perguruan tinggi tidak tertinggal.

Prof. Arif kemudian mengaitkan pentingnya riset dan inovasi dengan Teori Pertumbuhan Endogen yang dikembangkan ekonom Paul Romer pada akhir 1980-an. Teori tersebut menempatkan pengetahuan, inovasi, teknologi, pendidikan, dan investasi sumber daya manusia sebagai faktor utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Menurutnya, teori ini berbeda dengan teori pertumbuhan neoklasik Robert Solow yang memandang kemajuan teknologi sebagai faktor eksternal. Dalam teori pertumbuhan endogen, teknologi dipandang sebagai hasil aktivitas ekonomi yang lahir melalui pendidikan, penelitian, pengembangan, dan inovasi.

“Pengetahuan merupakan faktor produksi yang sangat penting karena mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” kata Prof. Arif.

Ia menyebut terdapat empat asumsi utama dalam teori tersebut, yakni pengetahuan dan teknologi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, investasi pendidikan yang meningkatkan produktivitas tenaga kerja, inovasi sebagai penggerak pertumbuhan jangka panjang, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi.

Prof. Arif juga menyoroti tantangan bonus demografi Indonesia. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila didukung kualitas sumber daya manusia, kemampuan inovasi, serta kesiapan teknologi.

Ia mencontohkan sejumlah negara maju yang berhasil memanfaatkan inovasi sebagai fondasi pembangunan. Karena itu, Indonesia dinilai tidak boleh sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan harus mampu mempelajari, mengembangkan, dan melahirkan inovasi baru dari teknologi yang masuk.

“Kalau hanya menjadi konsumen teknologi, kita akan tertinggal. Teknologi yang masuk harus dipelajari, dikembangkan, lalu melahirkan inovasi baru,” tegasnya.

Dalam paparannya, Prof. Arif juga mengingatkan pentingnya adaptasi terhadap perubahan teknologi. Ia mencontohkan perusahaan besar seperti Nokia dan Kodak yang gagal mempertahankan posisinya karena terlalu bergantung pada kejayaan masa lalu dan tidak cukup cepat mengikuti perubahan inovasi.

“Nokia pernah menjadi pemimpin pasar, tetapi gagal beradaptasi dengan perubahan inovasi. Kodak juga terjebak masa lalu. Jangan sampai demi mempertahankan masa lalu, kita mengorbankan masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Arif menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya bergerak dari teaching university menuju research university. Kampus, katanya, perlu melangkah lebih jauh menjadi innovation university, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga riset yang berdampak dan terhubung dengan kebutuhan industri, masyarakat, serta pembangunan daerah.

“BRIN diharapkan bisa menjadi partner dalam membangun innovation university. Dari innovation university akan lahir banyak inovasi yang bisa dihasilkan,” jelasnya dalam kuliah tamu tersebut.

Ia juga menyebut sejumlah bidang riset strategis masa depan, antara lain kecerdasan artifisial, genomik pangan, keamanan digital, dekarbonisasi energi, teknologi baterai, carbon capture, serta hilirisasi sumber daya alam. Bidang-bidang tersebut dinilai perlu menjadi perhatian perguruan tinggi dalam menyusun arah riset yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN dan jajaran di kampus Unismuh. Ia menilai pemaparan Prof. Arif memberikan peluang besar bagi Unismuh dalam mempercepat transformasi menuju research university.

“Kami berharap seluruh sumber daya manusia, khususnya para peneliti dan dosen, mampu menangkap peluang yang telah disampaikan langsung oleh Kepala BRIN dan jajaran. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas riset dan kolaborasi,” katanya.

Rakhim menambahkan, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan visi pengembangan Unismuh. Karena itu, dukungan program BRIN dinilai sangat relevan dengan kebutuhan institusi, terutama dalam memperkuat riset, inovasi, dan kolaborasi akademik.

Menutup paparannya, Prof. Arif menegaskan komitmen BRIN untuk menjadi mitra strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem riset dan inovasi nasional. Ia menilai percepatan pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi dan teknologi yang berdampak bagi pembangunan daerah,” tandasnya.