UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Mengikuti mata kuliah kewirausahaan ternyata belum tentu membuat mahasiswa semakin berminat mendirikan usaha sendiri. Penelitian dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar terhadap 519 mahasiswa menunjukkan bahwa motivasi pribadi, kepercayaan terhadap kemampuan diri, dan dukungan keluarga justru memiliki hubungan yang signifikan dengan niat berwirausaha.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar, Dr Nasrullah, bersama dosen Unismuh Andi Risfan Rizaldi dan akademisi Universitas Palangka Raya, Fitria Husnatarina.
Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal internasional “Review of Integrative Business and Economics Research”, Volume 15, Nomor 1, tahun 2026, halaman 615–634. Artikel tersebut berjudul “Theory of Planned Behavior Model to Measure Factors Affecting Entrepreneurial Desire among College Students: Insights from Indonesia”.
Penelitian ini memberikan gambaran mengenai tantangan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi. Meskipun mahasiswa telah memperoleh pengetahuan mengenai dunia usaha melalui perkuliahan, pembelajaran tersebut belum tentu berkaitan langsung dengan tumbuhnya keinginan menjadi pengusaha.
Nasrullah menjelaskan bahwa penelitian ini berupaya memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan niat mahasiswa membangun usaha. Menurut hasil penelitian, keberhasilan pendidikan kewirausahaan perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dari terselenggaranya mata kuliah, tetapi juga dari kesiapan psikologis dan dukungan lingkungan mahasiswa.
“Mahasiswa bisa saja sudah mengikuti mata kuliah kewirausahaan, tetapi belum memiliki keinginan kuat untuk memulai usaha. Karena itu, pendidikan kewirausahaan perlu memperhatikan motivasi, kepercayaan diri, dan dukungan lingkungan mahasiswa,” ujar Nasrullah, saat dikonfirmasi Senin, 2 November 2026.
Motivasi Menjadi Faktor Penting
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kerangka “Theory of Planned Behavior” (TPB), yakni teori yang menjelaskan bagaimana niat seseorang terbentuk melalui keyakinan pribadi, pengaruh lingkungan sosial, dan persepsi terhadap kemampuan melakukan suatu tindakan.
Tim peneliti menghimpun data melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada mahasiswa yang telah mengikuti dan lulus mata kuliah kewirausahaan. Dari 557 responden awal, sebanyak 519 kuesioner dinyatakan memenuhi persyaratan analisis.
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode “Structural Equation Modeling” (SEM) untuk menguji hubungan antara motivasi berwirausaha, kepercayaan terhadap kemampuan diri, dukungan keluarga, pendidikan kewirausahaan, dan niat membangun usaha.
Hasilnya, ketiga faktor utama yang diteliti menunjukkan hubungan positif dan signifikan dengan niat berwirausaha mahasiswa.
Baca Juga: Wisuda Ke-89, Unismuh Perluas Kerja Sama dan Sosialisasikan Tiga Prodi Baru
Motivasi berwirausaha mencatat koefisien hubungan sebesar 0,633, lebih tinggi dibandingkan kepercayaan terhadap kemampuan diri sebesar 0,232 dan dukungan keluarga sebesar 0,171. Angka tersebut menunjukkan besarnya hubungan dalam model statistik yang digunakan, bukan persentase peningkatan minat berwirausaha.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya dorongan dari dalam diri mahasiswa untuk memilih kewirausahaan sebagai salah satu pilihan karier. Mahasiswa yang memiliki motivasi dan keyakinan lebih kuat terhadap kemampuannya cenderung menunjukkan niat berwirausaha yang lebih tinggi.
Dukungan keluarga juga berkaitan dengan terbentuknya niat tersebut. Dukungan dapat berupa dorongan moral, bantuan keuangan, maupun kesempatan mengakses pengalaman dan jaringan usaha.
Pendidikan Kewirausahaan Perlu Dievaluasi
Temuan penting lainnya berkaitan dengan posisi pendidikan kewirausahaan dalam membentuk niat mahasiswa menjadi pengusaha.
Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan langsung antara pendidikan kewirausahaan dan niat berwirausaha tidak signifikan secara statistik, dengan nilai signifikansi 0,613. Pendidikan kewirausahaan juga tidak terbukti menjadi variabel perantara yang signifikan dalam hubungan antara motivasi, kepercayaan diri, dan dukungan keluarga dengan niat berwirausaha.
Namun, hasil tersebut bukan berarti pendidikan kewirausahaan tidak diperlukan. Temuan ini justru menjadi masukan bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran yang selama ini diterapkan.
Dalam pembahasan artikelnya, tim peneliti mengemukakan bahwa efektivitas pendidikan kewirausahaan dapat berbeda bergantung pada kualitas kurikulum dan metode pengajaran. Pembelajaran yang terlalu menekankan teori, tanpa pengalaman praktis yang memadai, berpotensi membuat mahasiswa belum merasa siap memulai usaha.
“Temuan ini tidak berarti pendidikan kewirausahaan tidak penting. Justru kita perlu mengevaluasi bagaimana mata kuliah tersebut diajarkan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori bisnis, tetapi juga perlu memperoleh pengalaman untuk mengembangkan gagasan usaha,” jelas Nasrullah.
Temuan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan pembelajaran kewirausahaan yang lebih kontekstual. Perguruan tinggi dapat mengkaji pendekatan berbasis praktik, pendampingan usaha, pengembangan proyek bisnis mahasiswa, serta keterlibatan pelaku usaha dalam proses pembelajaran.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengenali konsep kewirausahaan, tetapi juga memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan dalam mengidentifikasi peluang, menyusun rencana bisnis, dan menghadapi tantangan usaha.
Kendati demikian, penelitian ini belum menguji secara langsung efektivitas berbagai pendekatan pembelajaran tersebut. Karena itu, penerapannya masih memerlukan evaluasi dan penelitian lanjutan.
Perkuat Ekosistem Wirausaha Mahasiswa
Selain memberikan masukan bagi perguruan tinggi, penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan lingkungan sosial dalam membangun minat berwirausaha mahasiswa.
Menurut tim peneliti, dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan niat mahasiswa untuk memulai usaha. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kewirausahaan tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan.
“Kampus tidak bisa bekerja sendiri dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan mahasiswa. Dukungan keluarga juga penting agar mahasiswa memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk mempertimbangkan usaha sebagai pilihan masa depan,” kata Nasrullah.
Dalam rekomendasinya, tim peneliti mendorong pengembangan pendidikan kewirausahaan yang lebih memperhatikan penguatan motivasi, peningkatan kepercayaan diri, dan keterlibatan keluarga.
Dukungan kebijakan juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi calon wirausahawan muda. Program pendampingan, akses pembiayaan, dan penguatan ekosistem kewirausahaan menjadi sejumlah pendekatan yang dapat dipertimbangkan.
Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena mengukur niat berwirausaha melalui survei dalam satu periode. Penelitian belum menelusuri apakah mahasiswa yang memiliki niat kuat benar-benar mendirikan dan mengembangkan usaha setelah menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami hubungan antara pendidikan kewirausahaan, motivasi, dukungan lingkungan, dan tindakan nyata mahasiswa dalam membangun usaha.
Bagi Unismuh Makassar, publikasi ini turut memperkuat kontribusi akademik dalam pengembangan ilmu manajemen dan kewirausahaan. Penelitian berbasis data diharapkan dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi dalam merancang pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa dan perkembangan dunia usaha.
Penelitian ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan pembelajaran berbasis hasil penelitian; SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui penguatan kesiapan generasi muda berwirausaha; serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui kontribusi pengetahuan bagi pengembangan kewirausahaan dan inovasi.

