November 2, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Riset Dosen Kedokteran Unismuh Ungkap Potensi Daun Kebiul Menurunkan Gula Darah

Riset terbaru Unismuh Makassar menemukan ekstrak daun kebiul berpotensi menurunkan kadar gula darah serta melindungi jaringan pankreas tikus penderita diabetes.

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Ekstrak daun kebiul (Caesalpinia bonduc) menunjukkan potensi menurunkan kadar gula darah sekaligus mengurangi kerusakan jaringan pankreas pada tikus yang mengalami diabetes. Temuan tim peneliti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ini membuka peluang pengembangan penelitian bahan alam sebagai pendamping terapi diabetes melitus.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Pediatric Endocrinology, Diabetes and Metabolism, Volume 31, Nomor 4, tahun 2025. Artikel berjudul “Hypoglycemic Effects of Caesalpinia bonduc (L). Roxb Leaf Extract in Streptozotocin-Induced Diabetic Rats” itu ditulis Ami Febriza bersama Anisah Ainun Zahrah, Nurul Sulfi Andini, dan Fityatun Usman. Penelitian tersebut melibatkan peneliti dari Unismuh Makassar dan Universitas Hasanuddin.

Ketua Tim Peneliti, Ami Febriza, menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari upaya menggali potensi tanaman yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional. Timnya ingin mengetahui apakah daun kebiul mengandung senyawa yang dapat membantu mengendalikan kadar gula darah sekaligus mengurangi kerusakan jaringan pankreas akibat diabetes.

“Penelitian ini berangkat dari keinginan kami menggali potensi tanaman yang selama ini dikenal masyarakat dalam pengobatan tradisional. Kami ingin mengetahui apakah daun kebiul memiliki aktivitas biologis yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah sekaligus melindungi jaringan pankreas,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh itu, saat dikonfirmasi Senin, 2 November 2026.

Selama ini, tanaman kebiul telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Namun, sejumlah penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti bagian biji. Tim peneliti kemudian memilih bagian daun untuk mengkaji aktivitas biologis serta kandungan senyawa yang berpotensi memengaruhi metabolisme glukosa.

Penurunan Gula Darah dalam Enam Jam

Penelitian dilakukan menggunakan 25 tikus Wistar jantan yang dibuat mengalami kondisi diabetes melalui pemberian streptozotocin (STZ), yakni senyawa yang dapat merusak sel penghasil insulin di pankreas. Hewan coba kemudian dibagi menjadi lima kelompok untuk membandingkan pengaruh perlakuan yang diberikan.

Tiga kelompok memperoleh ekstrak daun kebiul dengan dosis masing-masing 150, 200, dan 400 miligram per kilogram berat badan. Dua kelompok lainnya mendapatkan obat antidiabetes glibenklamid sebagai kontrol positif dan plasebo sebagai pembanding.

Hasil pengujian memperlihatkan penurunan kadar glukosa darah pada ketiga kelompok yang memperoleh ekstrak daun kebiul. Pada kelompok dengan dosis 400 miligram per kilogram berat badan, kadar gula darah rata-rata turun dari 336 miligram per desiliter menjadi 116,20 miligram per desiliter dalam enam jam setelah pemberian perlakuan.

Penurunan juga ditemukan pada kelompok dengan dosis 150 miligram per kilogram berat badan, yakni dari 237,40 menjadi 103 miligram per desiliter. Sementara itu, kelompok yang memperoleh dosis 200 miligram mengalami penurunan dari 324 menjadi 199,40 miligram per desiliter.

“Pada dosis tertinggi yang kami uji, penurunan kadar glukosa darah terlihat cukup besar. Namun, hasil ini harus dipahami dalam konteks penelitian pada hewan coba, sehingga belum dapat dijadikan dasar penggunaan ekstrak daun kebiul sebagai obat diabetes pada manusia,” ujar Ami.

Baca Juga: Tim Pakar Unismuh Makassar Kaji Hilirisasi Suplemen Pakan Ikan Berbasis Limbah Kelapa di Unpad

Kendati demikian, pengamatan setelah 24 jam menunjukkan kadar gula darah kembali meningkat pada kelompok yang mendapat ekstrak. Pada kelompok dosis 400 miligram, misalnya, kadar gula darah rata-rata meningkat menjadi 240,80 miligram per desiliter. Kondisi ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami lama kerja dan efektivitas ekstrak tersebut.

Mengurangi Kerusakan Jaringan Pankreas

Temuan penelitian tidak terbatas pada perubahan kadar gula darah. Tim peneliti juga memeriksa jaringan pankreas menggunakan metode histopatologi untuk mengamati perubahan struktur jaringan setelah pemberian ekstrak.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tikus yang memperoleh ekstrak, terutama pada dosis lebih tinggi, memiliki gambaran jaringan pankreas yang lebih baik dibandingkan kelompok plasebo. Perubahan itu terlihat dari berkurangnya area nekrosis atau kematian jaringan, peradangan, serta sejumlah tanda kerusakan sel.

“Hal yang menarik dari penelitian ini bukan hanya penurunan kadar gula darah, melainkan juga perubahan gambaran jaringan pankreas. Temuan tersebut memberi petunjuk awal bahwa ekstrak daun kebiul mungkin memiliki efek perlindungan terhadap kerusakan jaringan akibat kondisi diabetes,” ungkap Ami.

Temuan tersebut penting karena pankreas berperan dalam menghasilkan insulin, hormon yang membantu mengatur kadar gula darah. Kerusakan sel beta pankreas dapat mengganggu produksi insulin sehingga memperburuk kondisi diabetes.

Meski demikian, gambaran perbaikan jaringan belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa ekstrak daun kebiul mampu memulihkan fungsi pankreas secara menyeluruh. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme perlindungan jaringan dan pengaruhnya terhadap produksi insulin.

Dalam pemeriksaan fitokimia, peneliti mengidentifikasi sejumlah kelompok senyawa, antara lain flavonoid, tanin, dan saponin. Flavonoid diduga berkontribusi terhadap aktivitas penurunan gula darah dan perlindungan jaringan melalui sifat antioksidannya. Namun, mekanisme kerja senyawa tersebut dalam ekstrak daun kebiul masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

Masih Memerlukan Pengujian Klinis

Meskipun menunjukkan hasil yang menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap praklinis. Hasil percobaan pada tikus tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa ekstrak daun kebiul aman dan efektif sebagai obat diabetes pada manusia.

Perbedaan fisiologi, metabolisme, dan respons tubuh terhadap senyawa aktif menjadi pertimbangan penting sebelum suatu bahan alam dikembangkan menjadi produk kesehatan. Karena itu, pengujian keamanan, penentuan dosis, identifikasi senyawa aktif, dan penelitian mekanisme kerja masih diperlukan.

Penelitian lanjutan juga perlu menguji kemungkinan interaksi ekstrak dengan obat diabetes yang telah digunakan secara klinis. Pengujian tersebut penting untuk memastikan bahwa pengembangan bahan alam tidak justru menimbulkan risiko baru bagi pasien.

“Kami berharap penelitian ini menjadi langkah awal bagi pengembangan bahan alam lokal di bidang kesehatan. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam, termasuk pengujian keamanan dan efektivitas, sebelum ekstrak daun kebiul dapat dipertimbangkan untuk penggunaan klinis,” kata Ami.

Penelitian ini memperlihatkan peluang perguruan tinggi dalam menggali potensi keanekaragaman hayati melalui pendekatan ilmiah. Tanaman yang telah lama dikenal masyarakat dapat menjadi sumber penelitian untuk menemukan senyawa bioaktif, sepanjang manfaat dan keamanannya diuji melalui tahapan penelitian yang memadai.

Riset tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan pengetahuan mengenai penyakit tidak menular. Kajian terhadap potensi tanaman lokal juga berkaitan dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, khususnya dalam memperluas pengetahuan ilmiah mengenai keanekaragaman hayati.