UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPU mengurai empat fondasi Qur’ani yang menjadi pijakan dalam membangun dan mengelola kampus.
Empat fondasi itu bersumber dari QS Muhammad ayat 7, QS Al-A’raf ayat 96, QS An-Nisa ayat 9, serta QS An-Nashr ayat 1-3.
Rakhim menyampaikan gagasan tersebut saat mengisi Pengajian Bulanan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar, Rabu, 30 September 2026.
Di hadapan pimpinan fakultas, ketua program studi, dosen, dan sivitas akademika FKIP, ia menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut menjadi kerangka pembinaan Unismuh.
Tiga ayat pertama menjadi pedoman dalam menjalankan amanah, menjaga keberkahan institusi, dan menyiapkan generasi kuat. Sementara QS An-Nashr menjadi pengingat tentang sikap yang harus diambil ketika keberhasilan telah dicapai.
Menjadi Ansarullah melalui Amanah
Fondasi pertama bersumber dari QS Muhammad ayat 7. Rakhim menafsirkan pesan tentang menolong agama Allah dalam konteks kehidupan perguruan tinggi. Menurutnya, menjadi Ansarullah atau penolong agama Allah tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk dakwah verbal.
Dosen, tenaga kependidikan, maupun pimpinan universitas dapat menjadi Ansarullah dengan menjalankan tugas masing-masing secara benar, sungguh-sungguh, dan penuh keikhlasan.
“Seluruh posisi di Universitas Muhammadiyah Makassar, mau dosen biasa, tenaga pengajar, staf, dosen yang diberi tugas tambahan, bisa mengambil peran di seluruh posisinya untuk menjadi Ansarullah,” ujar Rakhim.
Ia menegaskan, kata kunci dari prinsip tersebut ialah amanah. Tugas profesional, menurutnya, harus dijalankan dengan kesadaran bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kepada Allah.
Dengan demikian, bekerja baik di lingkungan Unismuh tidak dipisahkan dari nilai keagamaan. Profesionalitas dan spiritualitas justru bertemu dalam satu titik, yakni kesungguhan menjalankan amanah.
Iman dan Takwa sebagai Syarat Keberkahan
Fondasi kedua bersumber dari QS Al-A’raf ayat 96. Rakhim menjelaskan, ayat tersebut menegaskan bahwa iman dan takwa menjadi syarat terbukanya keberkahan dari langit dan bumi.
Pesan itu kemudian ia tarik ke dalam kehidupan institusi. “Kalau sekiranya semua orang Unismuh itu beriman dan bertakwa, maka akan dibukakan keberkahan dari langit dan dari bumi,” ujarnya.
Bagi Rakhim, keberkahan kampus tidak cukup diukur dari perkembangan fisik, pertambahan program studi, jumlah mahasiswa, ataupun capaian kelembagaan.
Keberkahan juga harus tampak dalam integritas orang-orang yang mengelola institusi. Karena itu, iman dan takwa memiliki konsekuensi kelembagaan. Jika terjadi pelanggaran moral, etika, ataupun finansial, institusi tidak boleh membiarkannya.
Menurut Rakhim, pembiaran justru dapat menunjukkan bahwa institusi tidak serius menjaga nilai yang menjadi pijakannya. Sebaliknya, pemberian sanksi terhadap pelanggaran merupakan penegasan bahwa secara kelembagaan Unismuh tidak membenarkan penyimpangan.
Dalam kerangka ini, keberkahan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang dimohonkan melalui doa, tetapi juga diperjuangkan melalui tata kelola yang berintegritas.
Jangan Mewariskan Generasi Lemah
Fondasi ketiga diambil dari QS An-Nisa ayat 9.
Ayat tersebut berbicara tentang kekhawatiran meninggalkan generasi dalam keadaan lemah.
Rakhim menerjemahkannya langsung ke dunia pendidikan. “Jangan pernah berniat, apalagi bertindak, punya andil mewariskan generasi lemah,” tegasnya.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut melekat kuat pada perguruan tinggi. Dosen tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga memastikan proses pendidikan benar-benar menguatkan mahasiswa.
Ia bahkan memberi contoh dari pelayanan akademik sehari-hari. Mahasiswa yang membutuhkan tanda tangan KRS atau berkonsultasi mengenai tugas akademik tidak seharusnya dibuat kesulitan menemui dosen.
Bagi Rakhim, hal-hal yang tampak sederhana semacam itu tetap berkaitan dengan kualitas proses pendidikan. Jika dosen mengabaikan tanggung jawabnya, institusi dapat ikut memiliki andil dalam menghasilkan generasi yang lemah.
Pesan QS An-Nisa ayat 9 juga ia hubungkan dengan regenerasi kepemimpinan. Menurutnya, generasi penerus institusi harus dipersiapkan sejak sekarang, mulai dari level paling bawah hingga tingkat kepemimpinan tertinggi.
Caranya melalui kerja yang sungguh-sungguh dan keteladanan. “Buat saja, bikin saja, kerja saja. Nanti kerja-kerja kita itu dilihat oleh Allah dan Rasul-Nya dan kita-kita orang manusia,” ujarnya.
Jejak kerja yang baik, menurutnya, dapat menjadi uswah bagi generasi berikutnya. Karena itu, melahirkan generasi kuat tidak bisa diserahkan kepada proses alamiah. Ia harus dirancang melalui sistem, pembinaan, dan keteladanan.
Keberhasilan Harus Diikuti Tasbih dan Istigfar
Fondasi keempat menjadi puncak dari tiga fondasi sebelumnya. Rakhim mengaitkannya dengan QS An-Nashr ayat 1-3.
Menurutnya, setelah amanah dijalankan, keberkahan diupayakan, dan generasi kuat dipersiapkan, sebuah institusi tentu berharap mencapai keberhasilan.
Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa keberhasilan bukan alasan untuk membanggakan diri. Ketika pertolongan Allah datang dan target tercapai, manusia justru diperintahkan untuk bertasbih dan beristigfar.
Rakhim memaknai tasbih sebagai kesadaran bahwa keberhasilan tidak semata-mata lahir dari kemampuan manusia. Ada pertolongan, bimbingan, dan petunjuk Allah di balik capaian tersebut.
Sementara istigfar menjadi ruang koreksi. Sebab, sekalipun sebuah pekerjaan telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetap mungkin terdapat kekurangan yang belum memenuhi standar.
“Orang-orang Unismuh ini selalu bertasbih, memuji Allah atas keberhasilan, dan beristigfar, mohon ampun kepada Allah atas kemungkinan-kemungkinan kesalahan,” ujar Rakhim.
Dengan demikian, keberhasilan tidak menjadi titik akhir. Capaian justru harus melahirkan dua kesadaran sekaligus: rasa syukur atas pertolongan Allah dan keberanian melakukan evaluasi terhadap kekurangan.
Empat fondasi tersebut membentuk satu rangkaian. Menjadi Ansarullah berarti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Iman dan takwa menjadi dasar untuk menghadirkan keberkahan institusi. Keberkahan itu harus diarahkan untuk menyiapkan generasi yang kuat. Ketika hasil akhirnya berupa keberhasilan, maka responsnya bukan kesombongan, tetapi tasbih dan istigfar.
Dalam kerangka itulah Rakhim menempatkan Al-Qur’an bukan sekadar sebagai sumber nilai normatif, tetapi sebagai pijakan etika kerja, pembinaan, dan tata kelola Unismuh Makassar.

