UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menghadirkan Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D., dalam kuliah perdana dan stadium general, Selasa, 29 September 2026.
Mengangkat tema “Arah Gerak Seni Budaya Muhammadiyah Berkemajuan dalam Pendidikan Seni Rupa,” kegiatan yang berlangsung di Mini Hall Unismuh Makassar itu membahas kreativitas, pendidikan seni, serta hubungan seni dengan nilai-nilai keislaman dan kehidupan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Kusen mengajak mahasiswa tidak memandang pendidikan seni rupa sebatas kemampuan menghasilkan karya visual. Menurutnya, pendidikan seni memiliki peran lebih luas dalam membentuk cara berpikir, karakter, kreativitas, dan kemampuan generasi muda membaca persoalan di sekitarnya.
Ia mencontohkan sebuah eksperimen terhadap 100 wali santri yang diminta menggambar pemandangan, rumah, dan kapal dalam waktu masing-masing dua menit. Kendati para peserta duduk berjauhan, hasil gambar mereka menunjukkan pola yang hampir seragam.
“Hasilnya 100 persen, padahal mereka duduknya berjauhan. Seratus orang itu 100 persen persis,” ujar Kusen.
Menurutnya, kesamaan pola tersebut menjadi bahan refleksi terhadap metode pendidikan seni yang diterima seseorang sejak usia dini. Anak-anak, kata dia, seharusnya tidak hanya diarahkan mengikuti pola gambar yang dianggap baku, tetapi diberi ruang untuk mengembangkan imajinasi dan gagasannya sendiri.
Karena itu, pendidikan seni rupa memiliki posisi penting, terutama dalam mempersiapkan calon guru yang kelak mendampingi tumbuhnya kreativitas peserta didik.
“Di sinilah peran dari arah gerak seni budaya Muhammadiyah berkemajuan dalam pendidikan seni rupa,” katanya.
Kusen menjelaskan, pendidikan seni rupa dalam perspektif Islam Berkemajuan perlu diarahkan untuk melahirkan pendidik yang kreatif, terbuka terhadap perkembangan zaman, sekaligus mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menekankan hubungan antara pendidikan seni dan pembentukan karakter. Pengalaman belajar sejak masa kanak-kanak, menurutnya, ikut membentuk cara seseorang melihat dunia, berpikir, serta menghasilkan karya ketika dewasa.
“Di sinilah kehadiran pendidikan seni rupa menjadi penting,” ujarnya.
Kusen berharap mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar tidak hanya menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar, tetapi tumbuh menjadi guru yang mampu mengajarkan seni dengan pendekatan yang tepat dan memberi ruang bagi perkembangan kreativitas peserta didik.
Seni dan Pemahaman Keislaman
Selain membahas kreativitas, Kusen mengajak mahasiswa mendalami seni rupa dari perspektif keislaman. Ia menilai pemahaman terhadap karya seni tidak cukup dilakukan hanya melalui pembacaan tekstual terhadap sumber-sumber keagamaan.
Menurutnya, konteks, tujuan, serta latar belakang munculnya suatu ketentuan juga perlu dipahami secara utuh.
Dalam pemaparannya, Kusen menggunakan sejumlah contoh hadis untuk menjelaskan perbedaan pendekatan tekstual dan kontekstual. Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan persoalan gambar manusia, patung, dan bentuk karya seni rupa lainnya.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan hukum terhadap sebuah karya tanpa memahami konteks dan tujuan penggunaannya.
“Berarti hukum itu tergantung dari sebab,” kata Kusen saat menjelaskan keterkaitan antara ketentuan hukum dan konteks yang melatarbelakanginya.
Kemampuan memahami teks keagamaan sekaligus membaca realitas sosial, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan seni rupa di lingkungan Muhammadiyah.
Jadilah Seniman Pendidik
Dekan FKIP Unismuh Makassar, Dr. Baharullah, dalam sambutannya mengatakan kuliah perdana dan stadium general menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif langsung dari tokoh yang memiliki pengalaman dalam dunia seni dan kebudayaan.
Ia mendorong mahasiswa Pendidikan Seni Rupa tidak hanya mempersiapkan diri sebagai guru, tetapi juga mengembangkan identitas dan kompetensi sebagai seniman.
“Jadilah seniman pendidik. Bukan hanya pendidik seniman,” pesan Baharullah.
Menurutnya, mahasiswa perlu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus mempertahankan identitas kemuhammadiyahan melalui karya-karya yang berkarakter dan mencerminkan nilai keislaman.
Baharullah juga menyebut Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan pendidikan seni di kawasan Indonesia Timur.
Status akreditasi Unggul yang telah diraih, kata dia, perlu terus diikuti dengan penguatan kualitas pembelajaran, kreativitas akademik, serta peningkatan kompetensi mahasiswa dan lulusan.
Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Dr. Meisar Ashari, menambahkan bahwa kuliah perdana tersebut menjadi bagian dari tradisi akademik baru yang mempertemukan mahasiswa dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman dan pemikiran di bidang seni dan budaya.
Menurut Meisar, kehadiran Kusen memberikan perspektif lebih luas kepada mahasiswa mengenai posisi pendidikan seni rupa dalam lingkungan Muhammadiyah.
Ia menjelaskan, penguatan karakter keislaman menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Nilai Islam, menurutnya, tidak harus selalu diwujudkan secara literal melalui objek visual seperti masjid atau kaligrafi.
Nilai tersebut dapat hadir melalui gagasan, etika, pesan kemanusiaan, serta kebermanfaatan sebuah karya bagi kehidupan masyarakat.
Melalui stadium general tersebut, mahasiswa diajak melihat pendidikan seni sebagai bagian dari proses pembentukan manusia. Seni rupa tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis menghasilkan karya, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kreatif, membaca konteks, mengembangkan karakter, serta menghadirkan nilai dalam kehidupan sosial.
Ke depan, Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar mendorong mahasiswa tumbuh sebagai seniman sekaligus pendidik yang kreatif, berkarakter, memiliki wawasan keislaman, dan mampu menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Penguatan pendidikan seni rupa tersebut sejalan dengan komitmen Unismuh Makassar mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education melalui pendidikan berkualitas yang mendorong kreativitas dan pengembangan kompetensi peserta didik.
Pengembangan kapasitas mahasiswa untuk menjadi pendidik sekaligus pelaku kreatif juga relevan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, khususnya penguatan keterampilan dan ekonomi kreatif.
Sementara itu, penanaman nilai, karakter, sikap inklusif, dan kemampuan memahami konteks sosial turut berkontribusi terhadap semangat SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions dalam membangun masyarakat yang damai, terbuka, dan berkeadaban.

