September 7, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Kuliah Tamu Agung Danarto di Unismuh: Dari Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial yang Tersistem

UNISMIUH.AC.ID, MAKASSAR — Kebaikan personal tidak cukup untuk membangun institusi yang kuat. Integritas individu perlu ditopang sistem yang mampu menjaga nilai, tata kelola, dan akuntabilitas agar kebaikan tidak berhenti pada figur, tetapi menjadi budaya organisasi yang berkelanjutan.

Gagasan itu mengemuka dalam silaturahmi dan kuliah tamu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Agung Danarto, M.Ag, bersama jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin, 7 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar itu diikuti unsur Badan Pembina Harian (BPH), pimpinan universitas, badan dan lembaga, pimpinan fakultas, Pascasarjana, hingga Ma’had Al-Birr.

Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Dr Burhanuddin memandu pertemuan yang dikemas dalam suasana silaturahmi sekaligus percakapan mengenai dinamika Muhammadiyah dan penguatan perguruan tinggi.

Orang Baik Perlu Ditopang Sistem Baik

Dalam paparannya, Agung Danarto menempatkan penguatan sistem sebagai bagian penting dari karakter kelembagaan Muhammadiyah. Menurut dia, organisasi tidak cukup hanya melahirkan individu dengan integritas yang baik. Kebaikan personal perlu menemukan bentuknya dalam aturan dan tata kelola institusi.

“Membangun orangnya penting, tapi membangun sistem itu juga insya Allah penting. Juga sangat penting,” ujar Agung.

Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah berupaya menjalankan kedua agenda tersebut secara bersamaan.

“Muhammadiyah ini berusaha dua-duanya. Orangnya dibangun, sistemnya juga dibangun. Amal usaha Muhammadiyah ini bukan hanya membangun orang, tapi membangun sistem juga,” katanya.

Dalam pandangannya, sistem diperlukan agar suatu institusi tidak terlalu bergantung pada kualitas personal seorang pemimpin. Pedoman organisasi, sistem informasi, pengelolaan keuangan, pengawasan, hingga audit merupakan instrumen yang memungkinkan nilai-nilai organisasi diterjemahkan menjadi praktik kelembagaan.

Agung mencontohkan bahwa setiap penggunaan sumber daya di lingkungan amal usaha perlu mempunyai mekanisme pertanggungjawaban.

“Setiap uang yang dikeluarkan harus ada laporannya, ada sistem keuangannya, ada sistem informasinya, ada sistem auditnya,” ungkapnya.

Kesalehan Sosial yang Tersistem

Agung kemudian membawa pembahasan tersebut pada konsep kesalehan sosial yang tersistem. Menurut dia, masyarakat memiliki banyak orang baik dan saleh. Namun, kebaikan individual perlu ditransformasikan menjadi sistem sosial dan kelembagaan agar dampaknya dapat berlangsung lebih luas dan bertahan lama.

Ia membedakan kesalehan sosial yang sebatas kegiatan karitatif dengan kesalehan sosial yang telah melembaga.

“Kesalehan sosialnya sifatnya masih charity. Belum kesalehan sosial yang tersistem. Kesalehan sosial yang tersistem inilah yang akan membawa kepada kemajuan,” kata Agung.

Gagasan itu menegaskan bahwa amal usaha Muhammadiyah tidak semata-mata diarahkan menjadi tempat berkumpulnya individu-individu baik. Institusi juga harus mempunyai mekanisme yang memungkinkan nilai kejujuran, profesionalitas, pelayanan, dan akuntabilitas bekerja secara konsisten.

Dalam konteks perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), penguatan sistem menjadi penting karena kampus mengelola sumber daya manusia, pendidikan, keuangan, serta pelayanan publik dalam skala besar.

Meritokrasi dan Kualitas Kepemimpinan

Agung juga mengaitkan sistem yang baik dengan prinsip meritokrasi. Mekanisme kelembagaan, menurut dia, perlu memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia terbaik untuk berkontribusi berdasarkan kapasitas, rekam jejak, dan visi, bukan semata-mata kedekatan kelompok.

“Muhammadiyah tidak ingin sumber daya manusia terbaik tersisih hanya karena kepentingan politik,” ujarnya. Karena itu, sistem harus membuka kesempatan bagi orang-orang terbaik untuk berkhidmat.

Ia berharap pertimbangan kesukuan dan kedaerahan semakin tidak menjadi faktor dominan dalam menentukan kepemimpinan.

“Sehingga yang terpilih adalah yang terbaik. Tidak peduli dia latar belakangnya apa, kalau dia memang terbaik, track record-nya jelas, visinya jelas, dia dipilih,” kata Agung.

Islam Berkemajuan sebagai Etos Keunggulan

Penguatan manusia dan sistem tersebut, lanjut Agung, berkelindan dengan spirit Islam Berkemajuan yang menjadi identitas Muhammadiyah. Islam Berkemajuan tidak berhenti sebagai gagasan normatif, tetapi harus melahirkan etos untuk terus meningkatkan kualitas institusi.

Agung menyebut Muhammadiyah membawa “DNA yang unggul” karena mengusung Islam Berkemajuan dan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam ekosistem PTMA, semangat tersebut tidak dimaknai sebagai persaingan yang saling melemahkan. Perguruan tinggi Muhammadiyah justru didorong untuk berkompetisi dalam kualitas sembari membangun sinergi.

“Tidak saling mematikan antar-PTMA, tetapi bersaing, bersinergi, sama-sama untuk maju, untuk berkeunggulan,” ujarnya.

Dari Kepentingan Kelompok ke Kemaslahatan Universal

Agung juga menekankan perkembangan orientasi Muhammadiyah dari pelayanan untuk komunitas sendiri menuju kemaslahatan yang lebih universal. Lembaga pendidikan Muhammadiyah, menurut dia, tidak semata-mata hadir untuk mencerdaskan umat Islam, tetapi memberi manfaat bagi seluruh masyarakat.

“Muhammadiyah sudah mulai memasuki dari kepentingan yang sifatnya kepentingan agama menjadi kepentingan universal, kepentingan umat manusia,” katanya.

Ia mencontohkan pengalaman Muhammadiyah dalam pendidikan dan penanganan bencana yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang. Interaksi tersebut semakin memperluas orientasi kemaslahatan Muhammadiyah, dari lingkungan organisasi, umat Islam, bangsa, hingga kemanusiaan universal.

Sejalan dengan SDGs

Pesan penguatan sistem yang disampaikan Agung Danarto sejalan terutama dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya semangat membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan transparan.

Dalam konteks perguruan tinggi, gagasan tersebut juga berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga membutuhkan tata kelola universitas yang kuat, kepemimpinan berbasis merit, sistem pertanggungjawaban, dan budaya institusi yang menjaga mutu secara berkelanjutan.

Kontributor: Arinal Hidayah
Editor: Hadisaputra