August 20, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Opini

Buah Naga dan Jalan Baru Ekonomi Desa

Oleh: Abdul Wahid (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan Tahun ke-2, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat)

Apa yang dapat dilakukan sebuah desa dengan buah naga selain menjualnya sebagai buah segar? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, bagi saya, justru dari pertanyaan semacam itulah pembangunan desa seharusnya dimulai: melihat kembali apa yang telah dimiliki, lalu mencari cara agar potensi itu menghasilkan nilai yang lebih besar.

Pengalaman mendampingi masyarakat Desa Sukamaju melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Muhammadiyah Makassar memperlihatkan bahwa satu komoditas pertanian dapat membuka banyak pintu. Buah naga tidak hanya dapat dipanen dan dijual. Ia dapat diolah, dikemas, dipasarkan secara digital, bahkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan agroeduwisata.

Program tahun kedua ini didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam pelaksanaannya, kami bekerja bersama pemerintah desa, Kelompok Tani Merpati, Karang Taruna, dan masyarakat. Kolaborasi ini penting sebab pemberdayaan desa tidak mungkin berhasil apabila masyarakat hanya ditempatkan sebagai penerima program.

Dari Hulu ke Hilir

Saya melihat satu kekeliruan yang kerap terjadi dalam pengembangan ekonomi desa: kita terlalu cepat berbicara tentang pemasaran, tetapi lupa memastikan hulunya sehat.

Karena itu, penguatan buah naga Sukamaju dimulai dari kebun. Pada 26 Juli 2026, misalnya, petani mendapatkan pelatihan pengendalian kanker batang buah naga. Mereka belajar mengenali gejala, faktor risiko, melakukan pemangkasan bagian yang terserang, menjaga sanitasi kebun, serta menerapkan pengendalian secara terpadu.

Bagi petani, pengetahuan harus dapat dipraktikkan. Tidak cukup menjelaskan penyakit tanaman melalui presentasi jika petani masih kesulitan mengenalinya di kebun sendiri. Produktivitas adalah fondasi. Tanpa bahan baku yang sehat dan berkelanjutan, pembicaraan mengenai hilirisasi hanya akan menjadi jargon.

Setelah aspek budidaya diperkuat, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memperpanjang nilai ekonomi buah naga.

Selama ini, komoditas pertanian sering menghadapi persoalan klasik. Ketika panen melimpah, harga justru dapat turun. Petani berada pada posisi yang lemah karena produk segar memiliki umur simpan terbatas. Diversifikasi menjadi salah satu jalan keluar.

Di Sukamaju, masyarakat diperkenalkan pada pengolahan buah naga menjadi sirup, dodol, selai, dan produk kering. Bagi saya, inti dari kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan empat jenis produk baru. Yang jauh lebih penting adalah perubahan cara pandang: hasil kebun ternyata dapat memasuki rantai ekonomi yang lebih panjang.

Namun, produk olahan tidak otomatis menjadi usaha yang sehat. Karena itu, masyarakat juga perlu memahami pencatatan keuangan, harga pokok produksi, harga jual, arus kas, dan keuntungan.

Pertanyaannya sederhana: berapa sebenarnya biaya membuat satu botol sirup? Berapa harga jual yang wajar? Apakah usaha memperoleh keuntungan atau hanya menghasilkan perputaran uang?

Kemampuan menjawab pertanyaan tersebut menentukan apakah kegiatan produksi akan bertahan setelah program pendampingan selesai.

Desa dan Pasar Digital

Tantangan lain adalah pasar. Produk desa tidak cukup hanya bagus; ia harus ditemukan konsumen.

Di sinilah teknologi digital memberi peluang baru. WhatsApp Business, Facebook, Instagram, dan marketplace memungkinkan produk dari sebuah desa menjangkau konsumen yang sebelumnya sulit dicapai.

Namun, pemasaran digital menurut saya bukan sekadar mengunggah foto produk dan mencantumkan harga. Produk lokal memiliki sesuatu yang sering tidak dimiliki produk massal: cerita.

Di balik sebotol sirup buah naga terdapat petani, kebun, proses panen, keluarga yang mengolahnya, serta identitas Desa Sukamaju. Cerita semacam itu dapat menjadi kekuatan pemasaran sekaligus cara membangun kebanggaan masyarakat terhadap produknya sendiri.

Peran generasi muda menjadi sangat penting. Karang Taruna dapat mengisi ruang yang membutuhkan kreativitas: membuat konten, mengelola media sosial, membangun jejaring pemasaran, serta kelak melayani pengunjung agroeduwisata.

Di titik inilah pertanian dapat bertemu teknologi, dan pengalaman generasi tua dapat bertemu kreativitas generasi muda.

Kebun sebagai Ruang Belajar

Saya membayangkan pengembangan buah naga Sukamaju tidak berhenti pada produk olahan. Kebun juga dapat menjadi ruang belajar.

Pengunjung dapat datang untuk melihat bagaimana buah naga dibudidayakan, mengenal penyakit tanaman, mengikuti proses pengolahan, mencicipi produk, lalu membelinya langsung dari masyarakat. Pertanian dengan demikian tidak hanya menjual buah, tetapi juga menghadirkan pengalaman.

Tentu, agroeduwisata tidak cukup dibangun dengan memasang papan nama. Ia membutuhkan kelembagaan, standar pelayanan, kebersihan, keamanan, pembagian peran, serta kesinambungan pengelolaan. Karena itulah penguatan Kelompok Tani dan Karang Taruna serta penyusunan standar operasional wisata menjadi bagian penting dari program.

Pada akhirnya, ukuran pemberdayaan bukan berapa banyak pelatihan yang diselenggarakan. Ukurannya adalah apakah masyarakat tetap mampu bergerak ketika pendamping sudah tidak berada di sana.

Bagi saya, pelajaran Sukamaju sederhana tetapi penting. Desa tidak selalu memerlukan komoditas baru. Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah cara baru melihat komoditas yang sudah dimiliki.

Dari buah lahir produk. Dari produk tumbuh usaha. Dari usaha terbuka pasar. Dari kebun muncul ruang pendidikan dan wisata.

Buah naga memang tumbuh dari tanah Sukamaju. Namun, dengan pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan kerja bersama, nilai yang tumbuh darinya dapat menjangkau jauh melampaui kebun.