UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mendorong pengetahuan, pengalaman, dan jejaring akademisi Indonesia yang berkarier di luar negeri kembali memberi kontribusi bagi penyelesaian persoalan di Tanah Air.
Semangat itu mengemuka dalam Guest Lecture Program Diaspora Berdampak yang menghadirkan Dr Ilmas Abdurofi dari Fakulti Pertanian Lestari Universiti Malaysia Sabah (UMS), Malaysia, di Ruang Teater I-GIFt Lantai 2 Unismuh Makassar, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kuliah tamu mengangkat tema The Challenges of Global Food Chain and Regenerative Agriculture. Kegiatan diikuti jajaran pimpinan universitas, pimpinan fakultas dan program studi, dosen, serta mahasiswa.
Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda ST MT IPU mengatakan, Program Diaspora Berdampak membuka ruang agar sumber daya manusia Indonesia yang telah lama berkiprah di luar negeri tetap dapat menyumbangkan ilmu dan pengalamannya untuk kemajuan Indonesia.
“Diaspora berdampak sebetulnya mengembalikan sumber daya orang Indonesia yang berdiaspora untuk kembali menyumbangkan ilmunya di tanah air Indonesia, dan hari ini Pak Ilmas melakoni untuk itu,” ujar Rakhim.
Menurutnya, kehadiran akademisi diaspora tidak semestinya berhenti pada kegiatan kuliah tamu. Jejaring tersebut dapat dikembangkan menjadi kolaborasi riset, pembimbingan akademik, hingga berbagai kerja sama internasional yang memberi dampak langsung bagi perguruan tinggi dan masyarakat.
Rakhim juga mendorong sivitas akademika Unismuh untuk aktif menangkap berbagai peluang kolaborasi dan hibah penelitian. Perguruan tinggi swasta, kata dia, perlu membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kualitas melalui kemampuan dosen menciptakan dan memanfaatkan peluang kerja sama.
Bangun Kolaborasi Riset
Dr Ilmas Abdurofi menjelaskan, Program Diaspora Berdampak menjadi ruang untuk mempertemukan akademisi Indonesia di luar negeri dengan perguruan tinggi di Tanah Air dalam berbagai bentuk kolaborasi.
Menurutnya, kerja sama tidak hanya dilakukan melalui guest lecture, tetapi dapat diarahkan pada riset bersama dan agenda akademik jangka panjang.
Salah satu fokus yang tengah dikembangkan bersama akademisi Unismuh ialah penelitian terkait kopi di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi itu diharapkan berkembang melalui peta jalan penelitian untuk dua hingga tiga tahun mendatang.
Dengan pola tersebut, kehadiran diaspora tidak berhenti pada kunjungan singkat, tetapi dapat menghasilkan jejaring penelitian yang berkelanjutan dan menyentuh persoalan konkret di masyarakat.
Dalam kuliah tamunya, Ilmas banyak membahas persoalan rantai pangan, perubahan iklim, akses pasar petani, dan pertanian regeneratif.
Ia menegaskan bahwa persoalan pangan tidak semestinya hanya dibebankan kepada petani. Petani hanya merupakan salah satu bagian dari rantai panjang yang membawa produk pangan dari lahan hingga ke tangan konsumen.
Ilmas mencontohkan rantai perdagangan kopi. Produk petani dapat melewati pengumpul, pengolah, perantara, hingga jaringan pemasaran sebelum akhirnya dibeli konsumen.
Rantai yang terlalu panjang, kata dia, dapat meningkatkan harga pada tingkat konsumen, sementara petani sebagai produsen utama justru memperoleh bagian nilai ekonomi yang relatif kecil.
“The best agriculture practices for the food supply is we are trying to shorten the process. Kita pendekkan rantainya,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong upaya memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan pengetahuan petani mengenai pemasaran dan rantai pasok.
Petani Perlu Akses Pasar
Ilmas mengatakan, salah satu masalah pertanian di Indonesia ialah sebagian petani memiliki kemampuan produksi, tetapi belum menguasai akses pasar.
“They only know how to produce the products. But they don’t know how to market the products,” katanya.
Kondisi tersebut membuat akses pasar lebih banyak dimainkan oleh pengumpul dan perantara. Padahal, menurut Ilmas, petani perlu memperoleh kesempatan lebih besar untuk berhubungan langsung dengan pasar dan konsumen.
Teknologi digital dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat posisi tersebut. Petani dapat diperkenalkan dengan pemasaran daring sehingga produk mereka memiliki akses yang lebih luas.
Ia mencontohkan penggunaan aplikasi digital yang pernah dikembangkan untuk membantu petani menawarkan produk secara langsung kepada komunitas.
Selain akses pasar, Ilmas menyoroti pendapatan petani yang tidak stabil. Menurutnya, kondisi ekonomi petani berkaitan erat dengan persoalan regenerasi.
Jika profesi petani tidak mampu memberikan kehidupan yang layak, generasi tua cenderung tidak mendorong anak-anaknya mengikuti pekerjaan yang sama.
Sebaliknya, pertanian yang memberikan kesejahteraan dapat menarik kembali generasi muda. Karena itu, petani masa depan tidak cukup hanya memahami cara bercocok tanam, tetapi juga perlu menguasai teknologi, rantai pasok, pengolahan produk, dan pemasaran.
Pertanian untuk Generasi Mendatang
Ilmas juga mengingatkan bahwa pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan keuntungan ekonomi. Aspek ekologis harus menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor pertanian.
Menurutnya, perubahan iklim memiliki hubungan timbal balik dengan sektor pertanian. Produksi yang tidak memperhatikan keberlanjutan dapat meningkatkan tekanan terhadap lingkungan, sementara perubahan iklim pada saat yang sama dapat mengurangi produktivitas akibat perubahan suhu, curah hujan, dan ketersediaan air.
“Alam ini bukan hanya dari generasi kita. Alam ini akan digunakan untuk generasi lain,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong penerapan pertanian regeneratif yang berupaya menjaga dan memulihkan ekosistem. Pendekatan ekonomi sirkular juga dapat digunakan dengan memanfaatkan kembali limbah pertanian.
Ilmas mencontohkan limbah kopi yang selama ini dibuang atau dibakar. Limbah tersebut sebenarnya dapat diolah kembali menjadi pupuk untuk mengurangi ketergantungan pada input pertanian sekaligus menekan beban terhadap lingkungan.
Gagasan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 2 tentang Tanpa Kelaparan, Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta Tujuan 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi dengan akademisi diaspora mempertemukan penguatan ketahanan pangan, kesejahteraan petani, keberlanjutan lingkungan, dan kemitraan akademik internasional dalam satu agenda.
Bagi Unismuh Makassar, Program Diaspora Berdampak sekaligus menjadi peluang memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi melalui penelitian, pertukaran pengetahuan, dan jejaring akademik lintas negara.
Ilmas berharap kolaborasi tersebut terus dikembangkan, tidak hanya dalam bidang pertanian, tetapi juga lintas disiplin yang dapat mempertemukan pengalaman akademisi diaspora dengan persoalan nyata di Indonesia.

