UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Kemarau mulai meninggalkan jejak pada sumber-sumber air di Sulawesi Selatan. Di Bendungan Bili-bili, Gowa, salah satu penyangga utama kebutuhan air baku dan irigasi bagi Gowa dan Makassar, permukaan air berada di bawah kondisi normal.
Harian Fajar, Rabu, 12 Agustus 2026, melaporkan elevasi muka air Bendungan Bili-bili berada di kisaran 90,88 meter di atas permukaan laut dengan volume 128,120 juta meter kubik. Angka itu berada di bawah elevasi normal sekitar 99,5 meter, meskipun masih jauh dari kategori kekeringan yang berada pada kisaran 60-70 meter.
Kondisi Bili-bili menjadi satu tanda bahwa musim kemarau perlu dihadapi lebih dari sekadar menunggu hujan kembali turun. Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Prof Nurlina mengingatkan, intervensi pemerintah semestinya dilakukan sebelum cadangan air memasuki titik kritis.
“Mitigasi harus dilakukan berdasarkan informasi iklim sehingga intervensi dapat diberikan sebelum cadangan air benar-benar kritis,” kata Nurlina.
Menurut dia, dua kebutuhan mesti ditempatkan sebagai prioritas, yakni menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan melindungi sektor pertanian. Keduanya akan menjadi sektor yang paling cepat merasakan tekanan ketika kemarau berlangsung lebih panjang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat kekeringan akibat kemarau panjang terjadi di 13 provinsi, termasuk Sulawesi Selatan. Enam provinsi di antaranya telah menetapkan status siaga darurat.
Nurlina menilai pemerintah daerah perlu mempunyai peta sumber air yang dapat digunakan ketika pasokan utama mulai berkurang. Sungai, waduk, embung, hingga sumber air lainnya harus diidentifikasi sebelum keadaan menjadi darurat.
Air untuk Sawah
Di sektor pertanian, persoalannya bukan semata menemukan air, melainkan bagaimana mengalirkannya sampai ke lahan yang membutuhkan. Karena itu, Nurlina mendorong pompanisasi diperluas, khususnya pada kawasan pertanian yang jauh dari sumber air.
Teknologi pompa hibrida bertenaga listrik ataupun tenaga surya, menurut dia, dapat menjadi salah satu pilihan. Dengan dukungan jaringan pipa hingga sekitar dua kilometer, air dari sungai atau sumber cadangan dapat dialirkan menuju lahan yang sulit dijangkau.
“Gerakan pompanisasi secara masif juga penting. Kementerian Pertanian telah menyiapkan sekitar 56.000 unit pompa air untuk mengalirkan air dari sungai atau cadangan air terdekat,” ujarnya.
Namun, membawa air ke sawah hanya satu sisi dari mitigasi. Pada wilayah yang pasokan airnya semakin terbatas, petani juga perlu mulai menyesuaikan jenis tanaman.
Nurlina menyebut padi gogo dan palawija sebagai alternatif yang lebih toleran terhadap kondisi kering dibandingkan tanaman yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Penyesuaian pola tanam penting agar kemarau tidak langsung berujung pada gagal panen.
Dengan cara itu, mitigasi pertanian bergerak pada dua jalur sekaligus: mempertahankan pasokan air sejauh mungkin dan menyesuaikan komoditas dengan kemampuan lahan.
Puncak Agustus-September
Tekanan terhadap sumber air diperkirakan masih berlangsung. Nurlina menyebut puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Situasi tersebut diperkuat El Niño yang, berdasarkan indikator iklim global yang dirujuk Nurlina, berada dalam kategori kuat. Pada saat bersamaan, angin kering dari Benua Australia bergerak melalui jalur selatan Indonesia, termasuk bagian selatan Selat Makassar dan daratan Sulawesi Selatan.
Dalam penjelasan fisika atmosfer, aliran udara kering itu membuat pembentukan awan hujan semakin sulit. Ketersediaan uap air berkurang dan proses pembentukan awan di banyak wilayah ikut terhambat.
Fenomena inilah yang juga menjelaskan mengapa kemarau dapat berlangsung hampir bersamaan di banyak bagian Sulawesi Selatan kendati provinsi ini mempunyai lebih dari 20 zona musim dengan karakteristik berbeda.
Menurut Nurlina, dalam kondisi tertentu, fenomena iklim berskala besar dapat mengalahkan pengaruh faktor-faktor lokal.
Pengecualian terlihat di sebagian wilayah utara Sulawesi Selatan, antara lain Luwu Raya, Luwu Utara, serta bagian utara Enrekang. Wilayah tersebut masih mempunyai peluang menerima hujan lokal karena karakteristik ekuatorial dan topografi pegunungan.
Ketika sisa udara yang mengandung uap air bertemu pegunungan, massa udara dipaksa naik. Pada ketinggian tertentu udara mengalami pendinginan dan kondensasi sehingga awan hujan masih dapat terbentuk. Proses ini membuat sejumlah wilayah utara tetap berpeluang memperoleh hujan ketika daerah lain memasuki periode kering.
Kemarau dan El Niño Tak Selalu Berakhir Bersamaan
Nurlina memperkirakan kekeringan akibat musim kemarau tidak akan terus berlangsung hingga sepanjang 2027. Indonesia diperkirakan kembali memasuki periode musim hujan normal pada akhir 2026.
Namun, berakhirnya musim kemarau tidak selalu berarti fenomena El Niño berakhir pada saat yang sama.
Dalam ulasan yang dimuat Fajar, fenomena El Niño disebut masih mungkin bertahan hingga akhir 2026 dan berpotensi memasuki awal 2027. Pengaruhnya terhadap kekeringan, kata Nurlina, harus dibaca bersama dengan siklus musim.
Ketika Indonesia telah memasuki musim penghujan, keberadaan El Niño tidak otomatis berarti kekeringan akan terus berlangsung seperti pada puncak kemarau. Dengan kata lain, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama El Niño bertahan, tetapi juga bagaimana ia berinteraksi dengan musim yang sedang berlangsung.
Karena itu, Agustus dan September menjadi periode penting untuk memperkuat ketahanan air. Pemerintah masih mempunyai waktu untuk memastikan cadangan air, jaringan irigasi, pompa, embung, dan sumber air darurat dapat berfungsi ketika kebutuhan mencapai titik tertinggi.
Penanganan, menurut Nurlina, tidak semestinya baru dimulai ketika sumur warga telah menyusut atau sawah mulai mengering.
Hujan Buatan Bukan Tombol Pemanggil Hujan
Di tengah ancaman kemarau, operasi modifikasi cuaca atau OMC kerap muncul sebagai salah satu pilihan. Teknologi ini memungkinkan penyemaian awan untuk menambah peluang turunnya hujan, terutama di daerah tangkapan air bendungan, waduk, embung, ataupun wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.
Bagi Nurlina, OMC memungkinkan diterapkan di Sulawesi Selatan. Namun, teknologi itu mempunyai satu syarat mendasar: harus ada awan yang layak disemai.
“Hujan buatan bukan solusi yang bisa dilakukan kapan saja. Keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memiliki cukup kandungan air,” katanya.
Inilah persoalan ketika kemarau berada di titik terkuat. Monsun Australia yang membawa udara kering justru menekan pertumbuhan awan di wilayah selatan dan barat Sulawesi Selatan.
Tanpa pasokan uap air dan awan yang memadai, penerbangan untuk menyemai bahan seperti garam atau natrium klorida tidak akan menghasilkan hujan secara optimal.
Pemberitaan Fajar juga mencatat pandangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan bahwa rekayasa cuaca tidak dapat dilakukan secara tiba-tiba. Kondisi awan dan potensi “bibit hujan” perlu dihitung lebih dahulu agar operasi tidak berakhir sia-sia.
Jika kondisi atmosfer mendukung, Nurlina menilai OMC sebaiknya diarahkan ke kawasan yang mempunyai nilai strategis. Hujan dapat ditargetkan pada daerah tangkapan waduk dan embung untuk membantu mempertahankan debit air, menjaga kelembapan lahan, serta memperkuat pasokan bagi pertanian.
Namun, modifikasi cuaca tetap bukan pengganti pengelolaan air.
Kemarau memang tidak selalu dapat dihentikan. Dampaknya, menurut Nurlina, masih dapat diperkecil apabila mitigasi dimulai sebelum keadaan berubah menjadi krisis: mengetahui di mana air tersimpan, mengalirkannya ke tempat yang membutuhkan, menyesuaikan tanaman dengan ketersediaan air, dan menggunakan teknologi cuaca ketika kondisi atmosfer benar-benar memungkinkan.

