UNISMUH.AC.ID, GOWA — Kemandirian pesantren tidak semestinya berhenti pada kemampuan membiayai kebutuhan lembaganya sendiri. Pesantren yang mandiri justru diharapkan mempunyai kemampuan lebih besar untuk memberi manfaat kepada masyarakat.
Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. Mustari Bosra saat menyampaikan amanat dalam Resepsi Milad Ke-20 Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Rabu, 12 Agustus 2026.
”Mandirinya bukan hanya membiayai dirinya sendiri, tapi bisa memberi kepada orang lain,” kata Mustari.
Pernyataan itu disampaikan ketika Darul Fallaah memasuki dasawarsa ketiga dengan tema ”Menuju Pondok Pesantren Unggul dan Mandiri”. Bagi Mustari, cita-cita kemandirian tersebut mesti ditempatkan dalam fungsi pesantren yang lebih luas, yakni membentuk manusia berilmu, berdaya, dan bermanfaat bagi lingkungannya.
Dalam amanahnya, Mustari merujuk Surah At-Taubah Ayat 122 tentang perlunya sebagian umat mendalami ilmu agama, kemudian kembali kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman dan peringatan.
Karena itu, ia berharap santri Darul Fallaah tidak berhenti pada pencapaian pribadi setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka diharapkan membawa ilmu yang diperoleh kembali ke kampung halaman dan memberi manfaat di tengah masyarakat.
Mustari bahkan berharap sebagian santri kelak dapat menghadirkan lembaga-lembaga pendidikan serupa di daerah asal masing-masing.
Dalam pandangan tersebut, keberhasilan pesantren tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan, jumlah santri, ataupun kemampuan keuangan. Jejak pendidikan pesantren juga terlihat dari apa yang dilakukan alumninya setelah kembali ke masyarakat.
Belajar mandiri sejak santri
Mustari menilai kemampuan ekonomi juga perlu menjadi bagian dari pembentukan santri.
Menurut dia, pendidikan agama tidak semestinya membuat santri jauh dari keterampilan bekerja dan berproduksi. Justru sejak usia sekolah, santri perlu diperkenalkan dengan aktivitas yang menumbuhkan kemandirian.
”Umur-umur santri seperti kita ini harus diajari untuk berbisnis, diajari untuk berproduksi. Sudah harus berproduksi,” ujarnya.
Gagasan itu berkelindan dengan agenda Darul Fallaah memasuki dasawarsa ketiga.
Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar Dr. Dahlan Lama Bawa sebelumnya menyampaikan bahwa pesantren menargetkan keunggulan akademik sekaligus kemandirian ekonomi.
Untuk menopang arah tersebut, pesantren mulai menyiapkan sekitar 20 hektar lahan untuk dikembangkan secara produktif. Pengembangan itu diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan pondok pada masa mendatang.
Pemanfaatan lahan sebenarnya bukan hal baru bagi Darul Fallaah. Pesantren pernah mengembangkan sawah dan kebun jagung. Sebagian hasilnya digunakan untuk kebutuhan sendiri, sebagian lainnya dijual. Dahlan menyebut hasil penjualan jagung pernah ikut menopang pembangunan asrama.
Kini, skala usaha itu hendak diperbesar.
Pengelola juga menyatakan pembukaan lahan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan seluruh vegetasi. Di bagian pinggir kebun direncanakan penanaman sejumlah jenis pohon, antara lain mahoni, sukun, dan bambu.
Bagi Mustari, aktivitas produktif seperti itu juga mempunyai dimensi pendidikan. Pesantren dapat menjadi ruang tempat santri melihat secara langsung bagaimana kerja, produksi, dan kemandirian dibangun.
Ilmu dan Al Quran
Namun, kemandirian ekonomi bukan satu-satunya ukuran.
Mustari menekankan bahwa karakter dasar pesantren tetap terletak pada pendidikan agama. Santri perlu bersungguh-sungguh mempelajari dan mengajarkan Al Quran.
Menurut dia, keunggulan harus dibangun dengan mempertemukan kemampuan agama dan kecakapan menghadapi kehidupan.
Karena itu, Mustari mendorong santri memiliki cita-cita tinggi. Mereka tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga didorong menjadi manusia berilmu, sehat, memiliki kemampuan ekonomi, dan berani mengambil tanggung jawab di masyarakat.
Pesan tersebut memberi makna lebih luas pada dua kata yang menjadi cita-cita Darul Fallaah: unggul dan mandiri.
Keunggulan tidak berhenti pada nilai akademik. Kemandirian juga tidak sekadar berarti sanggup menutup seluruh biaya operasional pondok.
Keduanya bertemu pada manusia yang dihasilkan pesantren.
Pesantren menjadi berarti ketika melahirkan santri yang memahami agama, mempunyai keterampilan hidup, mampu berdiri sendiri, sekaligus menggunakan kemampuan itu untuk membantu orang lain.
Tumbuh perlahan
Mustari melihat Darul Fallaah memiliki modal untuk bergerak ke arah tersebut.
Dalam wawancara seusai kegiatan, ia menggambarkan perjalanan Darul Fallaah selama dua dasawarsa sebagai pertumbuhan yang berlangsung bertahap.
Menurut dia, Muhammadiyah kerap memulai sebuah lembaga dari kondisi yang serba terbatas. Lembaga itu kemudian tumbuh sedikit demi sedikit.
Darul Fallaah, katanya, mengalami perkembangan yang mungkin tidak berlangsung dengan lompatan besar, tetapi bergerak ”perlahan-lahan tapi pasti”.
Ia optimistis dasawarsa ketiga akan membawa perkembangan yang lebih pesat. Salah satu modalnya ialah keterkaitan pesantren dengan Unismuh Makassar serta dukungan masyarakat di sekitarnya.
Mustari juga melihat kehadiran unsur pemerintah kecamatan dan sejumlah kepala desa dalam peringatan milad sebagai tanda penerimaan masyarakat terhadap keberadaan Darul Fallaah.
Dukungan itu penting karena pesantren tidak tumbuh di ruang kosong. Ia berkembang di tengah masyarakat dan pada akhirnya juga diharapkan kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
Selama dua dasawarsa, Darul Fallaah dibesarkan oleh dukungan universitas, warga Muhammadiyah, pemerintah, orangtua santri, alumni, masyarakat sekitar, dan para donatur.
Memasuki dasawarsa ketiga, tantangannya berbeda.
Pesantren tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga memperbesar kemampuannya mengelola sumber daya sendiri. Lahan harus menjadi produktif. Santri perlu dibekali keterampilan. Kualitas pendidikan agama harus tetap terjaga. Alumni harus mampu kembali memberi manfaat.
Di titik itulah pesan Mustari tentang kemandirian memperoleh maknanya.
Pesantren yang mandiri bukan pesantren yang kemudian berjalan sendirian. Kemandirian justru seharusnya membuat lembaga mempunyai daya lebih besar untuk berbagi.
Darul Fallaah kini sedang menuju ke sana: dari lembaga yang selama dua dasawarsa dibesarkan oleh banyak tangan menuju pesantren yang diharapkan kelak mempunyai kekuatan lebih besar untuk mengulurkan tangannya kepada orang lain.

