NEWS.UNISMUH.AC.ID, TOKYO, JEPANG — Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc., mempresentasikan riset mengenai tata kelola dan digitalisasi keuangan masjid Muhammadiyah dalam konferensi internasional di Tokyo, Jepang, 28–29 Juli 2026.
Riset tersebut dipaparkan dalam International Conference Malaysia-Japan Islam and Diversity: Masjids 3.0 2026 yang mengangkat subtema “Wisdom for Overcoming Social Divisions” atau kearifan untuk mengatasi perpecahan sosial.
Konferensi diselenggarakan oleh Sophia University, Jepang, bekerja sama dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA).
Forum akademik tersebut mempertemukan para cendekiawan dan peneliti dari sejumlah negara untuk membahas peran strategis masjid di tengah perkembangan masyarakat modern. Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat literasi, penguatan kelembagaan, pelayanan sosial, dan perekat masyarakat yang beragam.
Baca juga:
Dalam forum itu, Agusdiwana mempresentasikan makalah berjudul “Bridging Ideology and Accountability: Institutional Logics, Digitalisation, and Financial Governance in Muhammadiyah Mosques in Sulawesi, Indonesia”.
Makalah tersebut merupakan hasil penelitian bersama Mawardi Pewangi, Wakil Rektor III Unismuh Makassar Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan.
Penelitian itu mengkaji upaya masjid-masjid Muhammadiyah di Sulawesi dalam mempertemukan dua tuntutan kelembagaan. Di satu sisi, pengelolaan masjid harus tetap berpegang pada ideologi Muhammadiyah dan prinsip-prinsip syariah. Di sisi lain, masjid dituntut menerapkan tata kelola keuangan yang transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada jamaah.
Agusdiwana menjelaskan bahwa logika kelembagaan memengaruhi cara pengurus masjid mengelola dan melaporkan dana umat. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat membantu memperkuat transparansi, meningkatkan kepercayaan jamaah, dan mengefisienkan pengelolaan keuangan masjid.
Selain membahas tata kelola keuangan, pemaparan tersebut memperkenalkan secara lebih mendalam ideologi Muhammadiyah kepada peserta konferensi. Nilai-nilai amanah, profesionalitas, pelayanan sosial, serta pengelolaan organisasi yang tertib menjadi bagian penting dalam pengembangan masjid pada era digital.
“Masjid 3.0 bukan hanya tentang fisik bangunan. Masjid merupakan ekosistem digital dan kelembagaan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga marwah ideologi organisasi. Akuntabilitas adalah bagian dari ibadah,” ujar Agusdiwana dalam sesi presentasi.
Menurutnya, digitalisasi tidak boleh dipahami sebatas penggunaan aplikasi atau perangkat teknologi. Transformasi digital perlu disertai penguatan kapasitas pengurus, sistem pengawasan, standar pelaporan, dan pemahaman mengenai nilai-nilai dasar persyarikatan.
Melalui sistem tersebut, jamaah dapat memperoleh informasi yang lebih terbuka mengenai sumber penerimaan, penggunaan dana, program sosial, serta perkembangan kegiatan masjid. Transparansi itu diharapkan memperkuat partisipasi jamaah sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Kehadiran perwakilan Unismuh Makassar dalam konferensi tersebut memperlihatkan kontribusi perguruan tinggi Muhammadiyah dalam diskursus global mengenai Islam, keberagaman, dan pengelolaan masjid.
Forum itu juga membuka peluang penguatan jejaring penelitian, pertukaran gagasan, dan pengembangan praktik terbaik pengelolaan masjid antara akademisi dan pengelola lembaga keagamaan dari Indonesia, Malaysia, dan Jepang.
Konferensi Malaysia-Japan Islam and Diversity: Masjids 3.0 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi bagi pengurus masjid agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Dengan demikian, masjid dapat semakin berperan sebagai pusat pemberdayaan umat dan bagian dari solusi dalam mengatasi perpecahan sosial.

