UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Menjadi intelektual muda di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan tidak cukup hanya mengandalkan kecakapan akademik. Kejujuran, kemandirian, iman, serta sikap anti-plagiarisme harus menjadi fondasi mahasiswa sejak awal memasuki perguruan tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Dr Burhanuddin, saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru dalam rangkaian Ta’aruf Mahasiswa Baru Unismuh Tahun Akademik 2026/2027, Sabtu, 12 September 2026, di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Unismuh Makassar.
Mengawali paparannya, Burhanuddin menyebut mahasiswa baru sebagai generasi terpilih. Ia mengatakan, sebanyak 14.192 orang mendaftar di Unismuh pada 2026 dan 3.442 di antaranya lulus serta melakukan pendaftaran ulang.
“Anda ini adalah insan terpilih,” ujarnya.
Namun, status sebagai mahasiswa, kata dia, tidak hanya ditandai dengan meninggalkan seragam sekolah.
Kampus justru menjadi ruang untuk menggembleng kemampuan akademik sekaligus membentuk mahasiswa menjadi calon cendekiawan, ilmuwan, dan intelektual.
“Anda semua melangkah masuk di Unismuh Makassar bukan sekadar mengganti pakaian seragam,” katanya.
Intelektualitas Saja Tidak Cukup
Burhanuddin menegaskan, kecerdasan kognitif dan kemampuan akademik saja belum cukup untuk menjadi bekal mahasiswa menghadapi masa depan.
Menurut dia, kecendekiaan perlu dipadukan dengan keimanan dan ketakwaan. Karakter itulah yang kelak menjadi modal penting ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak semata-mata menjadikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai ukuran keberhasilan.
IPK yang tinggi tetap penting, tetapi dunia kerja tidak hanya mencari angka akademik.
“Modal utama adalah kejujuran,” tegas Burhanuddin.
Jangan Menyontek, Jangan Mengambil Karya Orang
Pesan kejujuran kemudian diterjemahkan Burhanuddin dalam situasi yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Ia mencontohkan kebiasaan menyontek dalam ujian, mengambil tugas milik orang lain, lalu mengakuinya sebagai karya sendiri.
Menurut dia, tindakan semacam itu bertentangan dengan martabat mahasiswa sebagai calon intelektual.
“Yang pertama adalah jujur dan mandiri,” katanya.
Ia meminta mahasiswa membangun integritas mulai dari hal-hal sederhana, termasuk ketika mengerjakan tugas dan mengikuti ujian.
“Kecurangan saat ujian, mengerjakan tugas, mengambil tugas kerjaan orang lain kemudian mengklaim sebagai tugas kita, itu tidak bisa,” ujarnya.
Karena itu, sikap anti-plagiarisme harus ditanamkan sejak semester pertama.
Burhanuddin mengingatkan bahwa karya mahasiswa, terutama menjelang ujian proposal dan skripsi, akan melalui pemeriksaan plagiarisme sebelum masuk ke tahapan akademik selanjutnya.
Kampus Terus Berbenah
Selain membahas karakter mahasiswa, Burhanuddin juga memperkenalkan perkembangan akademik Unismuh dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menunjukkan peningkatan jumlah program studi serta program studi berakreditasi unggul sebagai bagian dari upaya universitas memperkuat mutu pendidikan.
Menurut Burhanuddin, perkembangan tersebut bukan semata-mata soal bertambahnya program studi, tetapi menjadi bagian dari komitmen kampus untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja dan perubahan global.
“Unismuh Makassar berkomitmen untuk mengawal perubahan dan kemajuan untuk kepentingan ananda semua menembus dunia kerja,” ujarnya.
Ia juga menyebut internasionalisasi sebagai salah satu bidang yang menjadi perhatian Wakil Rektor IV.
Mobilitas mahasiswa ke luar negeri, kehadiran mahasiswa asing, serta keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program internasional menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing global kampus.
Mahasiswa Harus Siap Bersaing Global
Dalam paparannya, Burhanuddin turut memperkenalkan sejumlah capaian Unismuh dalam pemeringkatan internasional.
Menurut dia, pengakuan tersebut menjadi indikator bahwa mahasiswa Unismuh kini belajar dalam lingkungan perguruan tinggi yang semakin terhubung dengan dunia global.
Namun, capaian institusi tidak otomatis menjamin keberhasilan setiap mahasiswa.
Mahasiswalah yang harus memanfaatkan kesempatan tersebut dengan membangun kemampuan akademik, kemampuan digital, integritas, dan kemandirian.
Karena itu, pesan mengenai kejujuran kembali menjadi benang merah paparannya. Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar dan berkarya, tetapi pada saat yang sama menuntut tanggung jawab akademik yang semakin tinggi.
Bagi Burhanuddin, mahasiswa baru Unismuh tidak hanya sedang memulai perjalanan menuju gelar sarjana. Mereka sedang dipersiapkan menjadi intelektual muda yang mampu beradaptasi dengan perubahan, memiliki daya saing global, tetapi tetap berpijak pada kejujuran dan integritas

