Andi Mulawakkan Firdaus (Peneliti Pendidikan Matematika Unismuh Makassar)
UNISMUH.AC.ID, Makassar — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak perlu terlalu khawatir terhadap kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) karena “orang desa tidak pakai dolar” terus menjadi perbincangan di ruang publik. Pernyataan yang disampaikan saat peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, itu muncul di tengah kondisi rupiah yang masih berada pada kisaran Rp17.800 per dolar AS.
Bagi sebagian kalangan, pernyataan tersebut dipandang sebagai upaya pemerintah untuk menjaga optimisme masyarakat dan mencegah kepanikan akibat fluktuasi nilai tukar. Namun, sejumlah akademisi menilai bahwa persoalan kurs tidak dapat dipahami hanya dari aspek penggunaan mata uang dalam transaksi sehari-hari. Dalam sistem ekonomi modern yang saling terhubung, dampak perubahan nilai tukar dapat menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedesaan.
Salah satu yang memberikan perhatian terhadap isu tersebut adalah Andi Mulawakkan Firdaus, Peneliti Pendidikan Matematika. Menurutnya, perdebatan mengenai hubungan antara masyarakat desa dan dolar sesungguhnya membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang pentingnya literasi numerasi dan literasi ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
“Secara harfiah memang benar bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar sebagai alat transaksi sehari-hari. Mereka membeli kebutuhan menggunakan rupiah, menjual hasil pertanian menggunakan rupiah, dan menjalankan aktivitas ekonomi menggunakan rupiah. Namun jika pembahasan berhenti pada aspek transaksi, maka kita kehilangan gambaran yang lebih besar mengenai bagaimana sistem ekonomi bekerja,” ujar Andi Mulawakkan, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pengaruh dolar tidak hanya muncul ketika seseorang memegang atau menggunakan mata uang tersebut. Pengaruhnya dapat dirasakan melalui perubahan harga barang, biaya produksi, biaya distribusi, dan berbagai komponen ekonomi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.
Dampak Tidak Langsung
Andi Mulawakkan menjelaskan bahwa dalam era globalisasi, perekonomian nasional tidak berdiri sendiri. Banyak sektor kehidupan masyarakat yang bergantung pada barang, bahan baku, teknologi, maupun layanan yang memiliki keterkaitan dengan perdagangan internasional.
Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor cenderung meningkat. Kenaikan biaya tersebut kemudian dapat memengaruhi harga berbagai barang dan jasa yang digunakan masyarakat.
“Petani di desa mungkin tidak pernah menukar rupiah menjadi dolar. Namun pupuk yang digunakan, mesin pertanian yang dioperasikan, suku cadang alat produksi, hingga bahan bakar yang mendukung aktivitas ekonomi memiliki hubungan dengan pasar global. Ketika nilai tukar mengalami tekanan, biaya pada sektor-sektor tersebut berpotensi meningkat,” katanya.
Menurutnya, pemahaman seperti ini penting agar masyarakat tidak melihat kurs sebagai persoalan yang hanya relevan bagi kalangan pengusaha besar atau pelaku perdagangan internasional.
Ia menilai bahwa dalam ekonomi modern, dampak perubahan kurs dapat bergerak secara berantai dan akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Karena itu, pelemahan rupiah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat desa maupun perkotaan.
Pendidikan Ikut Terdampak
Lebih jauh, Andi Mulawakkan menyoroti sektor pendidikan yang menurutnya sering luput dari pembahasan ketika isu nilai tukar menjadi perhatian publik.
Menurutnya, banyak pihak mengaitkan pelemahan rupiah dengan harga pangan, energi, atau investasi. Padahal dunia pendidikan juga memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap produk dan layanan yang berkaitan dengan pasar global.
Saat ini, banyak sekolah dan perguruan tinggi menggunakan perangkat komputer, jaringan internet, proyektor, laboratorium digital, serta berbagai platform pembelajaran berbasis teknologi.
Sebagian besar perangkat tersebut menggunakan komponen impor atau layanan yang dihitung menggunakan mata uang asing.
Selain itu, akses terhadap jurnal ilmiah internasional, buku referensi akademik, perangkat lunak pendidikan, hingga berbagai aplikasi pembelajaran juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar.
“Anak-anak di desa memang tidak memegang dolar di tangan mereka. Tetapi mereka menggunakan teknologi yang rantai produksinya dipengaruhi oleh dolar. Mereka belajar melalui perangkat yang komponennya berasal dari berbagai negara. Mereka mengakses sumber belajar yang sebagian besar terhubung dengan ekosistem global. Jadi mengatakan bahwa dolar tidak berdampak kepada masyarakat desa tentu perlu dipahami secara lebih hati-hati,” jelasnya.
Menurut Andi Mulawakkan, keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas berpotensi menjadi kelompok yang paling merasakan dampak tersebut. Ketika biaya pendidikan meningkat, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah memiliki ruang adaptasi yang lebih sempit dibandingkan kelompok ekonomi menengah ke atas.
Momentum Pembelajaran
Di tengah polemik yang berkembang, Andi Mulawakkan justru melihat fenomena pelemahan rupiah sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Sebagai peneliti pendidikan matematika, ia menilai bahwa peristiwa ekonomi yang sedang terjadi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Menurutnya, selama ini matematika masih sering diajarkan sebagai kumpulan rumus yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak peserta didik mampu menyelesaikan soal-soal di kelas, tetapi kesulitan memahami data dan informasi yang mereka temui dalam kehidupan nyata.
“Padahal fenomena kurs dolar merupakan contoh yang sangat baik untuk pembelajaran matematika. Di dalamnya ada konsep persentase, perbandingan, statistik, analisis data, grafik, hingga pengambilan keputusan berbasis informasi. Semua itu merupakan bagian penting dari kompetensi numerasi yang dibutuhkan masyarakat abad ke-21,” ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa guru dapat mengajak siswa menghitung persentase pelemahan rupiah dalam kurun waktu tertentu, menganalisis tren pergerakan kurs, atau memperkirakan dampaknya terhadap harga suatu produk.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar memahami bagaimana data digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial dan ekonomi.
Literasi Numerasi
Menurut Andi Mulawakkan, polemik mengenai pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” sesungguhnya menunjukkan pentingnya penguatan literasi numerasi masyarakat di Indonesia.
Literasi numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi berbasis angka dalam kehidupan sehari-hari.
“Masyarakat yang memiliki literasi numerasi yang baik tidak akan melihat kurs hanya sebagai angka yang muncul di layar televisi atau media sosial. Mereka akan bertanya apa penyebabnya, apa dampaknya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan mereka. Kemampuan seperti inilah yang perlu dibangun melalui pendidikan,” katanya.
Ia menilai bahwa peningkatan literasi numerasi juga akan membantu masyarakat menjadi lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi ekonomi yang beredar di ruang publik.
Dengan kemampuan tersebut, masyarakat dapat memahami persoalan secara lebih objektif tanpa mudah terjebak pada kepanikan maupun penyederhanaan yang berlebihan.
Perlu Edukasi Publik
Andi Mulawakkan menegaskan bahwa komunikasi publik yang baik tidak hanya bertujuan menenangkan masyarakat, tetapi juga membantu masyarakat memahami situasi secara lebih utuh.
Menurutnya, edukasi ekonomi perlu menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar informasi bahwa mereka tidak perlu khawatir. Yang lebih penting adalah membantu mereka memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, apa dampaknya, dan bagaimana mereka dapat meresponsnya secara rasional,” tuturnya.
Ia berharap momentum perdebatan mengenai nilai tukar rupiah dapat menjadi titik awal untuk memperkuat literasi numerasi, literasi finansial, dan literasi ekonomi masyarakat Indonesia.
“Pada akhirnya, yang paling penting bukan apakah seseorang menggunakan dolar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memahami bagaimana perubahan nilai tukar dapat memengaruhi kehidupan mereka. Ketika pemahaman itu tumbuh, masyarakat akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data serta fakta yang ada,” pungkasnya.
Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung, penguatan kemampuan masyarakat dalam memahami data dan informasi ekonomi dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Dengan literasi numerasi yang kuat, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi warga yang kritis, rasional, dan siap menghadapi perubahan zaman.

