UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mematangkan pelaksanaan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) dan Applied Approach (AA) Batch 10 dengan sejumlah pembaruan skema, seiring lonjakan jumlah peserta pada tahun 2026. Pembaruan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelatihan dosen yang lebih terintegrasi dan komprehensif.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat yang melibatkan pimpinan universitas, tim penyusun proposal, serta para narasumber di Ruang Rapat Lantai 16 Gedung Menara Iqra Unismuh Makassar, Kamis, 30 April 2026. Rapat tersebut juga dihadiri oleh Rektor Unismuh Makassar Dr. Abd Rakhim Nanda, dan didampingi oleh Wakil Rektor I Prof Andi Sukri Syamsuri, Wakil Rektor II, Dr. Ihyani Malik, dan Wakil Rektor III Dr. Mawardi Pewangi.
Dalam forum itu ditegaskan bahwa pelaksanaan pelatihan akan mengacu pada petunjuk teknis terbaru yang mengintegrasikan program Pekerti dan AA dalam satu sistem pembelajaran.
Ketua tim pelaksana Dr. Ishaq Made Amin menjelaskan, skema baru pelatihan mengombinasikan metode daring dan luring dengan total 46 modul yang wajib diselesaikan peserta. Rinciannya, Pekerti terdiri atas 18 modul daring dan enam modul luring, sedangkan AA mencakup 17 modul daring dan lima modul luring.
“Model ini berbeda dari sebelumnya. Sertifikat ketuntasan hanya diberikan kepada peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian, termasuk sesi luring,” ujarnya.
Lonjakan peserta pada Batch 10 menjadi fenomena tersendiri. Hingga tahap pendataan, tercatat 371 calon peserta, dengan 233 di antaranya telah menuntaskan administrasi. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah hingga penutupan pendaftaran.
Dengan jumlah tersebut, pelatihan diproyeksikan terbagi ke dalam sedikitnya enam kelas, masing-masing menampung sekitar 35 hingga 40 peserta sesuai ketentuan terbaru. Pelaksanaan pelatihan dijadwalkan berlangsung pada 4–23 Mei 2026 dengan sistem kelas bergelombang guna menyesuaikan ketersediaan narasumber.
Selain mengandalkan tenaga internal, Unismuh juga membuka peluang melibatkan narasumber eksternal untuk mendukung kelancaran pelaksanaan. Di sisi lain, tim penyusun proposal melaporkan bahwa dokumen pengajuan program telah mencapai progres 90 persen. Kurikulum, buku panduan, serta standar operasional prosedur (SOP) telah rampung, sementara penyusunan modul pembelajaran telah mencapai sekitar 60 persen dan masih dalam tahap peninjauan.
Pelaksanaan Batch 10 dinilai strategis karena akan menjadi bagian penting dalam pengajuan proposal program pelatihan dosen untuk periode 2026–2030. Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi perhatian utama.
“Kita menghadapi tantangan besar dengan jumlah peserta yang meningkat. Namun, jika dikelola dengan baik, ini menjadi peluang untuk menunjukkan kapasitas institusi dalam menyelenggarakan pelatihan berkualitas,” ujar Wakil Rektor I Prof Andi Sukri Syamsuri.
Sebagai bagian dari penguatan sistem, Unismuh akan mengoptimalkan platform pembelajaran daring SPADA, termasuk pengembangan forum diskusi, sistem umpan balik dari narasumber, serta dokumentasi rekaman pembelajaran untuk kebutuhan evaluasi dan akreditasi.
Selain itu, mekanisme remedial tetap diberlakukan bagi peserta yang belum memenuhi standar kelulusan, dengan pengawasan berbasis sistem guna menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Unismuh Makassar optimistis pelaksanaan Batch 10 tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam penguatan kualitas pelatihan dosen secara berkelanjutan.
Dalam persiapan pelatihan ini, universitas melibatkan sedikitnya 17 narasumber dari kalangan akademisi internal. Mereka antara lain Prof Andi Sukri Syamsuri, Dr Burhanuddin, Prof Eny Syatriana, Prof Ahmad, Prof Munirah, Prof Ratnawati Tahir, Prof Hartono Bancong, Prof Abd Rahman Rahim, Prof Agustan Syamsuddin, Dr Khaeruddin, Dr Baharullah, Dr Rahmi, Dr Nasrun, Dr Arief Muhsin, Dr Sukmawati, Dr Ishaq Madeamin, serta Dr Abdul Wahid.
Kegiatan ini juga didukung oleh Tim P4-DF yang terdiri atas Dr Muhajir, Dr Kasman, Dr Eka Prabawati Rumi, Sudarsono, Dr Ashar, Syamsidar, dan Husnul Khotimah.

