UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini tidak sekadar dikenang sebagai momentum historis perjuangan perempuan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang pendidikan, ketangguhan, dan peran perempuan di tengah perubahan zaman. Bagi Prof Eny Syatriana, Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Makassar, Kartini adalah simbol terbukanya jalan bagi perempuan untuk tumbuh, berkarya, dan memberi manfaat luas dalam dunia akademik.
Prof Eny memaknai Hari Kartini sebagai pengingat bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkontribusi, baik pada tingkat lokal maupun global. Namun, kontribusi itu, menurutnya, tetap harus berpijak pada nilai, karakter, dan identitas yang membentuk diri perempuan.
“Kartini telah membuka jalan bahwa perempuan tidak boleh dibatasi oleh stereotip, melainkan harus diberi ruang untuk berkembang, berkarya, dan memberi manfaat bagi universitas yang menuju world class university,” ujar Prof Eny, saat dikonfirmasi, Selasa, 21 April 2026.
Ia menambahkan, perempuan dapat mengambil peran penting dalam kepemimpinan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat tanpa harus kehilangan kualitas dirinya, termasuk nilai-nilai luhur yang melekat pada perempuan Bugis Makassar.
Jejak Akademik
Pandangan Prof Eny tentang Kartini tidak lahir di ruang hampa. Ia sendiri menempuh perjalanan akademik yang panjang hingga ditetapkan sebagai Guru Besar ke-19 Unismuh Makassar. Ia juga tercatat sebagai Guru Besar kedua dari kalangan dosen persyarikatan di kampus tersebut.
Pengangkatannya sebagai guru besar tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 67925/M/07/2023. Lahir di Ujung Pandang, 18 Oktober 1974, Prof Eny menapaki pendidikan tinggi dari STKIP YPUP, lalu melanjutkan studi magister dan doktor di Universitas Negeri Makassar pada bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Disertasi doktornya berjudul Designing English Instructional Materials for EFL Senior High School Students Based on School Curriculum. Konsistensinya dalam bidang pendidikan bahasa Inggris tampak pula dari pengalaman mengajar berbagai mata kuliah, seperti Education Psychology, Academic Writing, English for Specific Purpose, dan Curriculum Development.
Selain aktif mengajar, Prof Eny juga terlibat dalam pengembangan bahan ajar, pelatihan profesional, penyuntingan jurnal, serta forum ilmiah internasional. Salah satu karya ilmiah yang mengantarkannya menuju jabatan guru besar merupakan hasil kolaborasi antara Unismuh Makassar dan Samarkand State Institute of Foreign Language, Uzbekistan, yang didukung hibah kolaborasi internasional LP3M Unismuh Makassar.
Kartini dan Pesan bagi Generasi Muda
Di balik capaian akademik itu, Prof Eny menilai perjalanan perempuan di dunia pendidikan tinggi tidak pernah sepenuhnya mudah. Tantangan yang paling berkesan baginya adalah menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai akademisi, keluarga, dan peran sosial di masyarakat.
Namun, tantangan tersebut tidak dipandangnya sebagai hambatan semata. Ia justru memaknainya sebagai proses pendewasaan, pembentukan karakter, dan ruang untuk menguji ketangguhan diri. Dalam pandangannya, semangat Kartini hari ini bukan hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi juga tentang keberanian perempuan menghadapi perubahan zaman dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur.
“Tantangan itu justru menjadi motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi teladan di berbagai bidang serta diharapkan selalu bersikap act locally, think globally,” ungkapnya.
Pandangan ini sejalan dengan sikap akademik Prof Eny yang menekankan pentingnya ketekunan dan mutu. Dalam perjalanannya menuju guru besar, ia pernah mengingatkan bahwa pencapaian akademik tertinggi bukanlah sesuatu yang mustahil bagi dosen yang berdedikasi. Tantangan seperti penolakan artikel di jurnal bereputasi, termasuk jurnal terindeks Scopus, menurutnya bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh dan memperbaiki kualitas karya ilmiah.
Karena itu, pada momentum Hari Kartini, Prof Eny berpesan kepada mahasiswi dan perempuan muda Unismuh agar tidak pernah berhenti belajar dan berani bermimpi besar. Ia berharap lahir generasi perempuan yang cerdas, berakhlak, mandiri, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan semangat inovasi serta nilai-nilai keislaman.
“Jadilah generasi penerus yang berkemajuan bagi diri sendiri dan warga Unismuh. Tetap santun dan bersinar demi masa depan cemerlang,” pesan Prof Eny.
Bagi Prof Eny, Hari Kartini pada akhirnya bukan hanya peringatan atas jasa seorang tokoh perempuan dalam sejarah bangsa. Lebih dari itu, Kartini adalah energi moral yang terus hidup dalam dunia pendidikan, riset, pengabdian, dan dalam keberanian perempuan menapaki masa depan tanpa tercerabut dari akar nilai yang dimilikinya.

