UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Hari Kartini selalu membawa ingatan bangsa pada satu kata yang tak pernah selesai diperjuangkan: kesempatan. Kesempatan untuk belajar, tampil, memimpin, dan mengambil bagian dalam ruang publik. Bagi Prof Dr Ir Hj Ratnawati Tahir, MSi, Hari Kartini bukan sekadar penanda sejarah, melainkan titik tolak yang menegaskan bahwa perempuan memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk hadir dalam peran-peran strategis kehidupan sosial.
Prof Ratnawati memaknai Hari Kartini sebagai tonggak sejarah perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan gender untuk berkiprah di ruang publik. Baginya, kiprah perempuan di ruang publik bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan buah dari kegigihan dan kapasitas yang dibangun melalui perjuangan panjang.
“Makna Hari Kartini merupakan tonggak sejarah penggerak utama perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan gender untuk berkiprah di ruang publik,” ujar Prof Ratnawati, saat dikonfirmasi Selasa, 21 April 2026.
Ia menegaskan, perjuangan perempuan di ranah publik harus dipahami sebagai pernyataan bahwa perempuan mampu tampil dengan kegigihannya sendiri. “Perempuan mampu tampil dengan kegigihannya sendiri bukan karena dikasihani, akan tetapi sebagai salah satu bentuk pemaknaan yang luar biasa yang ditunjukkan bahwa perempuan bisa menduduki berbagai jabatan strategis yang tak kalah pentingnya dibandingkan laki-laki,” katanya.
Pandangan tersebut terasa berakar pada pengalaman hidupnya sendiri. Sebab, perjalanan Prof Ratnawati di dunia akademik bukanlah lintasan yang serba mudah. Di balik capaian sebagai guru besar, terdapat masa tunggu, perubahan aturan, dan ketekunan yang dirawat dalam waktu panjang.
Menembus Penantian Panjang
Dalam perjalanan akademiknya, tantangan yang paling berkesan bagi Prof Ratnawati adalah saat menuju puncak karier sebagai guru besar. Jalan menuju jabatan akademik tertinggi itu, menurut dia, tidak hanya menuntut kesiapan ilmiah, tetapi juga daya tahan untuk menghadapi perubahan regulasi yang kerap berganti. Di antara fase yang paling membekas adalah masa moratorium guru besar selama empat tahun, yang membuat penantian menjadi begitu panjang.
“Tantangan yang paling berkesan dalam perjalanan akademik adalah ketika akan meraih puncak karier tertinggi sebagai guru besar dengan berbagai aturan yang berubah-ubah,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Pernah merasakan penantian yang cukup besar ketika terjadi moratorium guru besar selama empat tahun, penantian yang cukup panjang.”
Namun, penundaan itu tidak memadamkan cita-citanya. Semangat untuk terus maju tetap menyala. Keteguhan itulah yang akhirnya mengantarkannya meraih jabatan guru besar pada 2015. Capaian itu bukan hanya penting bagi dirinya secara personal, tetapi juga bersejarah bagi Universitas Muhammadiyah Makassar, sebab ia tercatat sebagai profesor perempuan pertama di kampus tersebut.
“Akan tetapi, semangat untuk tetap maju sangat membara sebagai perempuan yang mempunyai cita-cita yang tinggi untuk meraih jenjang karier akademik tertinggi, dan Alhamdulillah di tahun 2015 pencapaian guru besar itu terwujud,” tutur Prof Ratnawati.
Pada 24 November 2015, Unismuh Makassar mengukuhkan Prof Ratnawati Tahir sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi Pertanian dalam rapat senat terbuka luar biasa. Ia menjadi guru besar kedua di Unismuh setelah Prof Dr Ir Salahuddin. Dalam pidato pengukuhannya, Prof Ratnawati mengangkat tema modernisasi pertanian sebagai prime mover perubahan sosial masyarakat petani dalam perspektif pengembangan teori sosiologi okupasi pertanian.
Topik itu menunjukkan bahwa capaian akademik baginya tidak berhenti pada jabatan, melainkan berhubungan erat dengan kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Ia memotret problem kerentanan hidup, kemiskinan petani, kerawanan pangan, serta kesenjangan antara petani kaya dan miskin akibat perbedaan status dan akses. Melalui kerangka sustainable livelihoods, ia menekankan pentingnya kemampuan individu dan kelompok dalam menggerakkan aset dan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mengatasi ancaman yang dihadapi.
Di titik ini, jalan akademik Prof Ratnawati tampak bukan semata perjalanan karier, melainkan juga jalan intelektual untuk membaca perubahan sosial dan merumuskan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya. Karena itu, refleksi Kartini dalam pandangannya menjadi terasa konkret: perempuan tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi juga sebagai penghasil gagasan dan penggerak perubahan.
Perempuan Harus Berani Tampil
Pesan Kartini Prof Ratnawati tidak berhenti pada pengalaman dirinya. Ia juga meletakkan refleksi itu sebagai bekal moral bagi mahasiswi dan perempuan muda di Unismuh. Kepada mereka, ia berpesan agar semangat tidak pernah kendor untuk terus berjuang meraih pendidikan yang tertinggi.
“Pesan kepada mahasiswi dan perempuan muda di Unismuh agar semangatnya tidak kendor untuk tetap berjuang meraih pendidikan yang tertinggi,” katanya.
Dalam pandangannya, perempuan muda harus berani mengisi ruang-ruang publik, tampil, dan menunjukkan jati dirinya. Perempuan, katanya, harus percaya bahwa mereka dapat bersanding dengan kepemimpinan laki-laki, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai subyek yang memiliki kemampuan, gagasan, dan tanggung jawab.
“Perempuan muda harus mengisi ruang-ruang publik untuk tampil dan menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan yang bisa bersanding dengan kepemimpinan laki-laki,” ujar Prof Ratnawati.
Pesan itu menjadi penting karena lahir dari seorang akademisi yang telah melewati proses panjang untuk mencapai posisi tertinggi dalam dunia perguruan tinggi. Ia tidak hanya berbicara tentang kemungkinan, tetapi telah membuktikan bahwa perempuan dapat menembus batas-batas yang dahulu tampak jauh dan sulit dijangkau.
Hari Kartini, dalam pandangan Prof Ratnawati, dengan demikian bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan perempuan berlangsung dalam bentuk yang nyata: belajar tanpa henti, bertahan dalam proses yang panjang, menolak tunduk pada keterbatasan, dan terus menegaskan diri di ruang publik dengan martabat dan kemampuan.
Di lingkungan Unismuh Makassar, jejak Prof Ratnawati Tahir menjadi salah satu penanda penting dari makna itu. Dari pengalaman akademiknya, tampak bahwa perempuan tidak hadir di ruang publik karena diberi tempat, melainkan karena mereka memang mampu mengisinya. Di sanalah pesan Kartini menemukan relevansinya yang terus hidup, dari sejarah menuju pengalaman, dari simbol menuju teladan.

