April 6, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Di Syawalan IKA FT Unismuh, Anggota DPR-RI: Kampus Harus Siapkan SDM Unggul Hadapi Perang Siber

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal Marzuki Ibrahim, menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah berada di tengah dinamika global yang semakin kompleks, khususnya dalam bidang teknologi dan keamanan siber. Kegiatan Syawalan tersebut digelar di Aula Fakultas Teknik, Lantai 3 Gedung Menara Iqra Unismuh Makassar, Sabtu 4 April 2026.

Ia menyebut, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar ancaman, melainkan telah menjadi bagian dari “medan pertarungan” global.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam ceramah pada kegiatan syawalan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar. Dalam kesempatan itu, ia mengajak alumni dan sivitas akademika untuk lebih peka terhadap perubahan global yang berlangsung cepat.

Menurut Syamsu Rizal, perubahan lanskap hubungan internasional saat ini ditandai oleh pergeseran dari kekuatan konvensional menuju penguasaan teknologi, data, dan sumber daya strategis. Ia mencontohkan bagaimana negara-negara memanfaatkan sumber daya dasar sebagai alat tawar dalam percaturan global.

Ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar, termasuk komoditas strategis seperti kelapa sawit (CPO), serta sumber daya alam lainnya. Namun, potensi tersebut belum dimaksimalkan sebagai keunggulan kompetitif di tingkat global.

“Indonesia ini sangat kaya, tetapi belum mampu memaksimalkan kekayaan itu menjadi value advantage dibanding negara lain,” ujarnya.

Lebih jauh, Syamsu Rizal menekankan bahwa dunia kini memasuki era perang nonkonvensional, di mana konflik tidak lagi selalu berbentuk fisik, melainkan melalui ruang digital atau siber.

Ia menyebut fenomena ini sebagai “soft battlefield”, yakni medan pertempuran yang tidak terlihat secara langsung, tetapi berdampak besar terhadap stabilitas politik, ekonomi, dan sosial suatu negara.

Menurutnya, Indonesia bahkan telah menjadi bagian dari medan tersebut, mengingat posisi strategisnya dalam percaturan global serta kebijakan politik luar negeri yang terbuka.

“Indonesia hari ini bukan hanya menjadi target, tetapi sudah menjadi battlefield. Semua kekuatan global masuk dan berinteraksi di sini,” katanya.

Ia juga menyinggung sejumlah kasus di berbagai negara yang mengalami gangguan serius akibat lemahnya sistem keamanan siber, yang berujung pada instabilitas nasional.

Dalam konteks tersebut, ia menilai bahwa ancaman terbesar saat ini tidak lagi berasal dari perang fisik, melainkan dari serangan siber yang dapat melumpuhkan sistem vital suatu negara.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa Indonesia pernah menghadapi situasi kritis akibat gangguan sistem digital dalam skala besar. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan di bidang cybersecurity menjadi sangat krusial.

“Kalau sistem kita tidak kuat, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari pemerintahan sampai kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong penguatan sistem keamanan digital secara menyeluruh, baik di tingkat pemerintah maupun lembaga pendidikan.

Syamsu Rizal juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia menyambut positif rencana pengembangan program studi cybersecurity di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Menurutnya, langkah tersebut sangat relevan dengan kebutuhan nasional dan global saat ini. Ia bahkan mendorong adanya kolaborasi dengan lembaga strategis seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk memperkuat kualitas pendidikan dan riset di bidang tersebut.

“Kalau ini dikembangkan dengan baik, Unismuh bisa punya keunggulan tersendiri di bidang cybersecurity,” katanya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran alumni dalam mendukung pengembangan kampus, baik melalui jejaring profesional, kolaborasi, maupun kontribusi nyata di masyarakat.

Dalam bagian reflektif ceramahnya, Syamsu Rizal mengajak seluruh peserta untuk memahami dan mengembangkan potensi masing-masing. Ia menekankan pentingnya mengenali “basic resources” atau keunggulan utama yang dimiliki, baik oleh individu maupun institusi.

Menurutnya, tanpa pemahaman tersebut, potensi besar yang dimiliki tidak akan memberikan dampak maksimal. Ia mengibaratkan bahwa setiap individu harus mampu “menjual” keunggulan yang dimilikinya sesuai dengan kapasitas dan kekuatannya.

“Kalau kita tidak memahami keunggulan kita, maka kita tidak akan mampu bersaing secara optimal,” ujarnya.

Ia menutup ceramahnya dengan mengapresiasi kegiatan syawalan sebagai ruang silaturahmi sekaligus konsolidasi pemikiran. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk mempertemukan gagasan, memperkuat jejaring, serta membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan zaman.

Syamsu Rizal berharap, alumni Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar tidak hanya menjaga hubungan emosional, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan bangsa, khususnya melalui penguasaan teknologi dan inovasi.

“Silaturahmi ini harus melahirkan kerja-kerja nyata. Kita punya potensi besar, tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi kekuatan,” katanya.