April 6, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
BERITA UTAMA

Syawalan IKA Teknik Unismuh: Momentum Hijrah dan Transformasi Menuju Kepedulian Sosial

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Kegiatan Syawalan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman dan profesionalitas alumni. Kegiatan tersebut digelar di Aula Fakultas Teknik Lantai 3 Gedung Menara Iqra Unismuh Makassar, Sabtu 4 April 2026. Dalam ceramah hikmah Syawalan, Dr. Ismail Rasulong, SE, MM, mengajak peserta menjadikan momen pasca-Ramadhan sebagai titik hijrah menuju pribadi yang lebih bermakna secara spiritual dan sosial.

Dalam pemaparannya, Ismail menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “ilusi akumulasi”, yakni kecenderungan manusia modern mengukur keberhasilan semata dari jumlah atau capaian yang bersifat kuantitatif. Menurutnya, hal ini tidak hanya terjadi dalam aspek duniawi, tetapi juga merambah praktik keagamaan.

“Sering kali kita merasa cukup setelah mengumpulkan banyak amal selama Ramadhan. Padahal, esensi beragama bukan sekadar akumulasi, melainkan keberlanjutan dan dampak nyata dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

Ia menegaskan, ukuran keberagamaan tidak berhenti pada ritual individual, melainkan harus terimplementasi dalam kepedulian terhadap sesama, sebagaimana diajarkan dalam teologi Al-Ma’un. Dalam konteks tersebut, ia mengajak alumni untuk tidak hanya berhenti pada praktik amal, tetapi bertransformasi menuju apa yang ia sebut sebagai “teologi pembebasan”.

Menurut Ismail, konsep ini menuntut umat untuk aktif membebaskan diri dari berbagai bentuk “perbudakan”, baik secara internal seperti hawa nafsu dan pikiran negatif, maupun eksternal seperti ketidakadilan sosial dan kemiskinan.

“Al-Qur’an menawarkan jalan mendaki yang sukar, yaitu membebaskan perbudakan. Ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental dan sosial. Kita dituntut hadir membantu mereka yang tertindas,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran alumni dalam mendukung mahasiswa yang masih menempuh pendidikan, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Baginya, alumni bukan sekadar status, tetapi panggilan untuk kembali dan berkontribusi.

“Sebagai alumni, kita harus bertanya: apa yang bisa kita berikan untuk almamater? Salah satunya dengan membantu mahasiswa yang membutuhkan, agar mereka bisa menyelesaikan studinya,” tuturnya.

Refleksi Ramadhan dan Kesadaran Sosial

Ismail menyebut Ramadhan sebagai sarana membangun kesadaran diri agar tidak terjebak dalam orientasi material semata. Ia menekankan bahwa ketakwaan harus menjadi nilai yang tertanam dalam diri dan tercermin dalam tindakan nyata.

Menurutnya, kehidupan dunia ibarat perjalanan kembali kepada fitrah awal manusia. Oleh karena itu, nilai-nilai tauhid harus menjadi fondasi dalam setiap aspek kehidupan.

“Ramadhan melatih kita untuk kembali kepada fitrah. Jika kita lahir dalam keadaan bertauhid, maka akhir kehidupan kita juga harus dalam tauhid,” ujarnya.

Peran Alumni dalam Membangun Peradaban

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemajuan peradaban hanya dapat dicapai melalui kesadaran kolektif untuk saling menguatkan dan membangun komunitas. Ia mengajak alumni untuk berani menyampaikan kebenaran dan menjadi agen pencerahan di tengah masyarakat.

“Di desa-desa, masyarakat sangat haus akan pencerahan. Alumni harus hadir, tidak hanya dengan keahlian teknis, tetapi juga dengan nilai-nilai moral dan spiritual,” katanya.

Ia menutup ceramahnya dengan mengingatkan bahwa kehidupan manusia adalah proses pembuktian atas komitmen tauhid yang telah diikrarkan sejak awal penciptaan.