UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) mengembangkan teknologi virtual reality (VR) dan smartglove atau sarung tangan pintar untuk mendukung komunikasi dan terapi bagi siswa tunarungu. Inovasi yang mendapat pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini telah diuji coba secara terbatas di SLB Negeri 1 Makassar.
Perkembangan riset tersebut dipaparkan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Eksternal Riset Invitasi Berkemajuan Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 16 Menara Iqra Unismuh Makassar, Rabu, 14 Oktober 2026.
Evaluasi melibatkan tim LPDP, peneliti Unismuh, serta perwakilan SLB Negeri 1 Makassar sebagai mitra pelaksanaan riset. Selain meninjau kemajuan pengembangan teknologi, pertemuan itu membahas hasil uji coba, kendala teknis, dan peluang pemanfaatan produk secara lebih luas.
Ketua Tim Peneliti Unismuh, Dr Ir Ridwang SKom MA IPM, menjelaskan bahwa inovasi tersebut memadukan teknologi VR dengan modul Empathic Love Therapy (ELT) yang dikembangkan bersama tim psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM).
Modul itu terdiri atas tujuh sesi intervensi yang dirancang untuk membantu siswa tunarungu menjalani aktivitas terapi melalui panduan visual. Teknologi VR digunakan untuk menghadirkan simulasi dan avatar yang memandu siswa mengikuti tahapan intervensi.
“Jadi, VR ini sebagai media untuk menampilkan terapi-terapi yang nantinya akan menjadi terapi mandiri,” ujar Ridwang.
Menurut dia, pengembangan teknologi tersebut diarahkan agar siswa memiliki sarana pendukung yang dapat digunakan secara lebih mandiri, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Baca Juga: Rektor Unismuh Makassar Perkuat Kolaborasi Ilmiah melalui Sakura Science Program 2026 di Jepang
Selain perangkat VR, tim mengembangkan smartglove yang dilengkapi sensor untuk mengenali gerakan tangan. Perangkat ini diharapkan dapat membantu menjembatani komunikasi antara pengguna bahasa isyarat dan orang-orang di sekitarnya.
Uji Coba Mengungkap Kebutuhan Siswa
Dalam tahap awal penelitian, tim Unismuh melibatkan lima siswa tunarungu jenjang SMA di SLB Negeri 1 Makassar. Sekolah tersebut memiliki sekitar 400 peserta didik, termasuk 90 siswa tunarungu.
Uji coba itu memberikan masukan penting bagi penyempurnaan teknologi, terutama dalam menyesuaikan perangkat dengan kebiasaan berbahasa isyarat para siswa.
Ridwang menjelaskan, purwarupa awal smartglove dikembangkan dengan mengacu pada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) menggunakan satu sarung tangan. Namun, dalam komunikasi sehari-hari, siswa lebih terbiasa menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), yang melibatkan gerakan serta koordinasi kedua tangan.
Perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena perangkat harus mampu mengenali pola gerakan yang digunakan siswa secara alami.
Perwakilan SLB Negeri 1 Makassar, Adi Hanjang, membenarkan bahwa BISINDO lebih sering digunakan siswa dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, SIBI digunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Menurut Adi, sebagian siswa mengalami kesulitan ketika diminta menyesuaikan gerakan dengan sistem yang digunakan pada purwarupa awal.
Ia menuturkan bahwa ada siswa yang secara terbuka menyampaikan ketidaknyamanannya menggunakan SIBI karena telah terbiasa berkomunikasi dengan BISINDO.
Temuan lapangan tersebut mendorong tim peneliti Unismuh mengubah rancangan perangkat. Dari semula menggunakan satu sarung tangan, smartglove dikembangkan menjadi sepasang perangkat yang dipasang pada tangan kanan dan kiri.
Penyesuaian itu diharapkan meningkatkan kemampuan sensor dalam mengenali gerakan BISINDO. Tim kini masih menyempurnakan perangkat sebelum melanjutkan pengujian kepada siswa.
Siswa Antusias, Orang Tua Mulai Bertanya
Meski pengembangan teknologi masih menghadapi sejumlah tantangan, respons awal siswa dinilai menggembirakan.
Adi mengungkapkan, para siswa menunjukkan ketertarikan besar ketika perangkat diperkenalkan dan diuji coba. Bahkan, sebagian siswa enggan melepaskan alat setelah mencobanya.
“Itu nggak ada yang mau melepas,” kata Adi menggambarkan antusiasme siswa.
Menurut dia, kehadiran teknologi tersebut memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam mengikuti aktivitas pembelajaran dan mengenal media komunikasi berbasis perangkat digital.
Ketertarikan juga datang dari orang tua. Adi mengungkapkan, sejumlah orang tua siswa mulai menanyakan kemungkinan memperoleh atau membeli perangkat apabila nantinya telah tersedia untuk digunakan secara luas.
Respons tersebut menjadi salah satu masukan bagi tim peneliti untuk menilai kebutuhan pengguna sekaligus mempertimbangkan pengembangan produk setelah tahapan riset selesai.
LPDP Dorong Hilirisasi Inovasi
Dalam evaluasi tersebut, perwakilan LPDP menekankan pentingnya memastikan bahwa hasil penelitian benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pengembangan teknologi, menurut tim peninjau, tidak cukup berhenti pada keberhasilan menghasilkan purwarupa atau publikasi ilmiah. Peneliti juga perlu memikirkan kemungkinan penerapan, keberlanjutan pengembangan, serta akses masyarakat terhadap produk.
“Karena kami berharap bahwa apa yang dibuat oleh Pak Ridwang bisa memang sesuai dengan kebutuhan yang memang dibutuhkan oleh pasar,” ujar perwakilan analis pendanaan riset LPDP.
Masukan itu sekaligus menjadi dorongan agar tim peneliti memperhatikan pengalaman pengguna dan kebutuhan institusi pendidikan khusus sejak tahap pengembangan.
Bagi Unismuh, penelitian yang disebut sebagai riset pertama kampus tersebut dengan pendanaan LPDP ini menjadi kesempatan untuk memperkuat pengembangan teknologi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan UNM dan SLB Negeri 1 Makassar, tim berupaya memastikan inovasi yang dihasilkan tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan siswa dan pendidik.
Tahap berikutnya akan difokuskan pada penyempurnaan sensor smartglove dua tangan, pengujian kembali perangkat, serta evaluasi kemudahan penggunaannya.
Hasil pengembangan tersebut diharapkan membuka peluang pemanfaatan teknologi VR dan smartglove sebagai sarana pendukung pembelajaran, komunikasi, dan intervensi psikologis bagi siswa tunarungu di sekolah pendidikan khusus.

