UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) membekali mahasiswa dengan prinsip pelayanan kebidanan yang menghormati hak dan martabat perempuan melalui kuliah pakar bertema Respectful Midwifery Care. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 14 Oktober 2026, di Ruang Teater I-Gift Lantai 2, Gedung Iqra Unismuh Makassar, untuk mempersiapkan calon bidan yang profesional, beretika, dan mampu memberikan pelayanan berpusat pada perempuan.
Kuliah pakar tersebut menghadirkan Guru Besar Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Prof. Andari Wuri Astuti, S.SiT., MPH., Ph.D., sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menekankan pentingnya memadukan keterampilan klinis dengan penghormatan terhadap hak pasien, komunikasi yang baik, dan pengambilan keputusan berdasarkan kebutuhan masing-masing perempuan.
Dekan FKIK Unismuh Makassar, Prof. Dr. dr. Suryani As’ad, M.Sc., Sp.GK(K), membuka kegiatan tersebut secara resmi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelayanan kebidanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan sikap dan etika tenaga kesehatan ketika berinteraksi dengan pasien.
“Menghargai pasien, melayani pasien, berkomunikasi dengan pasien, harus respect, menghargai pasien kita,” ujar Suryani. Ia menekankan bahwa sikap menghormati pasien merupakan bagian penting dari profesionalisme bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermartabat.
Baca Juga: Rektor Unismuh Makassar Perkuat Kolaborasi Ilmiah melalui Sakura Science Program 2026 di Jepang
Sesi utama dipandu oleh Bidan Nurlina, S.SiT., M.Keb., selaku moderator. Dalam pemaparannya, Andari menjelaskan bahwa nilai-nilai profesionalisme perlu ditanamkan sejak mahasiswa menjalani pendidikan agar mereka memiliki landasan yang kuat ketika menghadapi berbagai situasi dalam praktik kebidanan.
Menurut Andari, pemahaman terhadap prinsip profesi dapat membantu calon bidan membangun kepercayaan diri saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bekal tersebut juga diperlukan agar bidan mampu mengambil keputusan secara tepat tanpa mengabaikan kebutuhan, kondisi, dan hak perempuan yang dilayani.
Andari turut menyoroti tantangan kesehatan ibu di Indonesia, terutama upaya menurunkan angka kematian ibu. “Kita tahu bahwa tren angka kematian ibu kita itu alhamdulillahnya ini menurun,” ungkap Andari ketika menjelaskan perkembangan kondisi kesehatan ibu di Indonesia.
Meskipun menunjukkan tren penurunan, angka kematian ibu masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Dalam pemaparannya, Andari menyebut angka tersebut masih berada pada level 144, sementara target global yang disampaikan dalam kuliah pakar itu adalah 70 pada 2030.
Untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan, Andari memaparkan empat prinsip utama Respectful Midwifery Care. Prinsip tersebut meliputi penghormatan terhadap martabat dan privasi ibu, perlindungan dari tindakan yang merugikan secara fisik maupun verbal, pemenuhan hak perempuan untuk memilih berdasarkan informasi yang memadai (informed choice), serta pemberian dukungan yang berkesinambungan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menyamaratakan kebutuhan perempuan dalam kehamilan maupun persalinan. Setiap perempuan memiliki kondisi kesehatan, latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pelayanan yang sesuai.
“Prinsip kita dalam memberikan pelayanan respectful itu adalah memandang setiap perempuan itu mempunyai kebutuhan dan karakteristik yang unik,” tegas Andari di hadapan peserta kuliah pakar. Menurut dia, pemahaman terhadap keunikan setiap perempuan menjadi dasar bagi bidan untuk memberikan pelayanan yang lebih personal dan menghormati hak pasien.
Prinsip tersebut juga berkaitan dengan keterlibatan perempuan dalam menentukan tindakan yang akan diterimanya. Bidan perlu memberikan informasi yang jelas, membuka ruang komunikasi, serta menghormati pilihan pasien selama keputusan tersebut sesuai dengan pertimbangan keselamatan dan ketentuan pelayanan kesehatan.
Selain membahas etika dan hak pasien, Andari mengajak mahasiswa melihat perkembangan prospek karier kebidanan. Ia menjelaskan bahwa peluang profesi bidan tidak terbatas pada rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat, tetapi juga mencakup bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan edukasi kesehatan melalui platform digital.
Andari juga menyoroti peluang berkarier di tingkat internasional di tengah kebutuhan tenaga kebidanan global. Dalam pemaparannya, ia menyebut dunia masih mengalami kekurangan sekitar satu juta tenaga profesional kebidanan, sehingga kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan profesionalisme menjadi bekal penting bagi lulusan yang ingin bersaing secara global.
Melalui kuliah pakar ini, FKIK Unismuh Makassar berupaya memperkuat pendidikan kebidanan yang mengintegrasikan kompetensi klinis, etika profesi, dan penghormatan terhadap hak perempuan. Mahasiswa diharapkan mampu menerapkan prinsip Respectful Midwifery Care dalam praktik profesional sehingga pelayanan kebidanan tidak hanya berorientasi pada tindakan medis, tetapi juga menjaga martabat, keselamatan, dan kebutuhan setiap perempuan.
Kontributor: Ilmia Nabila dan Nur Wahyuni
Editor: Bukhairul Iman

