UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) mempertemukan 12 pimpinan perguruan tinggi dari sejumlah daerah di Indonesia dengan mitra universitas luar negeri melalui Global University Meeting, Senin, 3 Agustus 2026.
Forum yang menjadi bagian dari program Malebbi Leaders Bilateral and Boundless Incorporation (MALEBBI) #9 itu berlangsung di Lantai 16 Menara Iqra Unismuh Makassar.
Pimpinan perguruan tinggi yang hadir berasal dari Makassar, Majene, Buton, dan Gorontalo. Mereka dipertemukan dengan mitra internasional, antara lain Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Thaksin University (TSU), Thailand, dan Yala Rajabhat University (YRU), Thailand.
Pertemuan tersebut diarahkan untuk membahas kemungkinan kerja sama yang dapat segera diterjemahkan menjadi kegiatan akademik bagi dosen dan mahasiswa.
Dengan demikian, kerja sama antarperguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), tetapi bergerak menuju program yang dapat dilaksanakan bersama.
Dari Dokumen ke Program
Dalam sesi Collaboration Program Presentation, sejumlah akademisi dari perguruan tinggi mitra memaparkan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi di Indonesia.
Mereka adalah Assoc Prof Abbas Paliket, PhD, dari Yala Rajabhat University; Assist Prof Dr Dita Morakot dari Thaksin University; Assoc Prof Dr Fadillah Binti Ismail dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia; serta Prof Jinwoong Song, PhD, dari Seoul National University, Korea Selatan.
Kehadiran akademisi dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan memperluas pilihan bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi peserta.
Salah satu perhatian dalam pertemuan itu adalah bagaimana kerja sama internasional menghasilkan kegiatan yang langsung menyentuh proses pembelajaran.
Dua bentuk kegiatan yang dibahas adalah kuliah tamu internasional dan kompetisi mahasiswa internasional.
Kuliah tamu memungkinkan mahasiswa dan dosen berinteraksi langsung dengan akademisi dari perguruan tinggi luar negeri tanpa harus selalu melalui mobilitas fisik dalam jangka panjang. Sementara kompetisi mahasiswa internasional dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan, bertukar gagasan, serta membangun jejaring dengan mahasiswa dari negara lain.
Peluang kerja sama juga dapat dikembangkan lebih jauh melalui pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, publikasi internasional, hingga pengembangan program akademik kolaboratif.
Orientasi tersebut menjadi penting karena ukuran keberhasilan kerja sama perguruan tinggi pada akhirnya tidak semata-mata terletak pada jumlah dokumen yang ditandatangani, tetapi pada seberapa banyak kegiatan akademik yang benar-benar berlangsung dan memberi manfaat bagi sivitas akademika.
Menghubungkan Kampus Indonesia Timur
Keterlibatan 12 pimpinan perguruan tinggi dari Makassar, Majene, Buton, dan Gorontalo memberi dimensi lain pada penyelenggaraan MALEBBI #9.
Unismuh tidak hanya mempertemukan mitra internasional dengan sivitas akademikanya sendiri, tetapi juga membuka ruang agar perguruan tinggi lain, khususnya dari kawasan Indonesia Timur, dapat membangun komunikasi langsung dengan universitas luar negeri.
Model tersebut memungkinkan jejaring internasional yang telah dimiliki sebuah perguruan tinggi diperluas menjadi jejaring kolaboratif antarkampus.
Perguruan tinggi dengan pengalaman dan akses internasional yang lebih luas dapat berfungsi sebagai penghubung bagi kampus lain untuk mengembangkan kegiatan bersama.
Bagi perguruan tinggi di kawasan Indonesia Timur, pola seperti itu dapat memperluas akses terhadap mitra akademik internasional sekaligus membuka kemungkinan berbagi sumber daya, pengalaman, dan jaringan.
MALEBBI dikembangkan Unismuh sebagai salah satu ruang pertemuan pimpinan perguruan tinggi untuk membangun kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.
Melalui forum tersebut, internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antara satu perguruan tinggi Indonesia dan satu universitas luar negeri. Kerja sama dapat dibangun dalam jejaring yang melibatkan sejumlah institusi sekaligus.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pertemuan tersebut berlanjut menjadi program nyata. Kesepakatan akan memperoleh makna ketika dosen mulai melakukan riset bersama, mahasiswa mengikuti kegiatan lintas negara, kuliah tamu berlangsung secara rutin, dan hasil kolaborasi dapat diukur melalui kegiatan akademik yang berkelanjutan.
Dalam kerangka itu, Global University Meeting MALEBBI #9 menjadi upaya Unismuh memperluas fungsi jejaring internasionalnya: bukan hanya untuk kepentingan satu kampus, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan perguruan tinggi di Indonesia dengan mitra akademik global.

