July 28, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Akademik & Pembelajaran Berita Kampus

Tim Peneliti LP3M Unismuh Petakan Aktor Penguatan Smart Tourism Branding Makassar

NEWS.UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Penguatan citra destinasi wisata di era digital membutuhkan tata kelola kolaboratif yang mampu menyinergikan pemerintah, akademisi, pelaku industri, media, komunitas, dan kreator konten. Berangkat dari kebutuhan tersebut.

LP3M Unismuh Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Desain Collaborative Governance dalam Smart Tourism Branding: Framing Narasi Media Digital untuk Penguatan Citra Destinasi Pariwisata Kota Makassar di Makassar, Kamis 23 Juli 2026.

FGD menjadi bagian dari penelitian yang bertujuan menyusun model tata kelola kolaboratif (collaborative governance) sebagai rekomendasi kebijakan dalam pengembangan pariwisata Kota Makassar berbasis media digital.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unismuh Makassar, Dr. Syukri, S.Sos., M.Si., mengatakan pengembangan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur dan destinasi, tetapi juga pada kemampuan membangun narasi yang konsisten di ruang digital.

“Masukan dari berbagai pemangku kepentingan dalam forum ini akan menjadi dasar penyusunan naskah akademik yang akan kami serahkan kepada Pemerintah Kota Makassar sebagai rekomendasi kebijakan,” ujarnya saat membuka kegiatan.

FGD menghadirkan perwakilan Dinas Pariwisata, Dinas Komunikasi dan Informatika, Bappeda, akademisi, peneliti, pelaku industri pariwisata, media massa, RRI Makassar, komunitas, serta influencer yang selama ini aktif mempromosikan destinasi wisata Sulawesi Selatan.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Muhammad Yahya, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan ke Kota Makassar yang belum sepenuhnya diikuti pengelolaan komunikasi digital secara terpadu.

Menurutnya, narasi mengenai destinasi wisata saat ini diproduksi oleh berbagai aktor dengan sudut pandang yang berbeda-beda sehingga berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan citra di mata publik.

“Pariwisata modern tidak hanya berbicara mengenai destinasi, tetapi juga bagaimana narasi tentang destinasi itu dibangun. Karena itu diperlukan tata kelola kolaboratif agar seluruh pemangku kepentingan memiliki arah komunikasi yang sama dalam memperkuat citra Kota Makassar,” kata Muhammad Yahya.

Ia menjelaskan penelitian tersebut memiliki tiga fokus utama, yakni memetakan konfigurasi aktor dalam pengembangan smart tourism branding, mengidentifikasi pola framing narasi media digital lintas platform, serta merumuskan desain operasional collaborative governance yang dapat diterapkan dalam pengelolaan komunikasi pariwisata.

Sementara itu, akademisi Dr. Syamsu Alam menilai media digital telah menjadi instrumen utama dalam membentuk persepsi publik terhadap sebuah destinasi wisata.

Menurut dia, kekayaan budaya dan kearifan lokal Sulawesi Selatan merupakan modal penting yang harus dikemas melalui narasi digital yang autentik, kreatif, dan konsisten.

“Peran influencer dan media sangat strategis, tetapi narasi yang dibangun harus tetap mencerminkan identitas budaya lokal sehingga mampu memperkuat positioning Makassar sebagai destinasi wisata unggulan,” ujarnya.

Tim peneliti dalam kajian tersebut terdiri atas Dr. Muhammad Yahya, M.Si., Andi Herenal Daeng Toto, S.E., M.M., Indah Pratiwi Manggaga, S.Sos., M.A., Riskasari, S.Sos., M.AP., Sitti Rahmawati Arfah, S.Sos., M.Si., dan Munawir, S.Ag.

Selain menghasilkan model Collaborative Governance dalam Smart Tourism Branding, penelitian ini juga menargetkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, penyusunan policy brief, serta roadmap implementasi yang diharapkan dapat menjadi acuan Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat pengelolaan pariwisata berbasis kolaborasi dan transformasi digital.