NEWS.UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dan Ifugao State University, Filipina, mempertemukan akademisi kedua negara untuk membahas pertanian sirkular dan inovasi pertanian cerdas iklim. Pertemuan digelar melalui kuliah tamu internasional secara daring, Senin, 27 Juli 2026.
Kuliah bertajuk Building Sustainable Food Systems through Circular Agriculture and Climate-Smart Innovation itu diikuti dosen dan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi. Pembahasan diarahkan pada upaya membangun sistem pangan berkelanjutan melalui pemanfaatan kembali limbah pertanian serta penerapan teknologi yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan, hasil penelitian, dan praktik pengelolaan pertanian di Indonesia dan Filipina. Kedua negara menghadapi sejumlah tantangan yang relatif serupa, antara lain perubahan iklim, degradasi lahan, pertumbuhan penduduk, persoalan limbah pertanian, dan ancaman terhadap ketahanan pangan.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemitraan Unismuh Makassar, Prof Andi Sukri Syamsuri, serta Vice President for Academic Affairs Ifugao State University, Marissa P Bulong, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam mengembangkan penelitian dan inovasi pertanian.
“Kemitraan global harus terus diperluas untuk memperkuat kapasitas riset dan inovasi perguruan tinggi,” kata Andi Sukri.
Menurut dia, kolaborasi perguruan tinggi tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan forum akademik. Kerja sama tersebut perlu diarahkan pada penelitian bersama serta penerapan hasil riset yang dapat menjawab persoalan pangan dan lingkungan di masyarakat.
Pembicara pertama, John M Celoy Jr, membahas pendekatan pertanian sirkular dan pertanian cerdas iklim di wilayah Ifugao. Ia merupakan ahli teknik pertanian dan biosistem sekaligus dosen pada College of Agriculture and Sustainable Development, Ifugao State University-Potia Campus.
Dalam materi berjudul Closing the Loop: Sustainable Food Systems for Ifugao through Circular and Climate-Smart Approaches, John menjelaskan bahwa sistem pertanian perlu mengurangi ketergantungan pada pola produksi linear yang menghasilkan banyak limbah.
“Pendekatan circular agriculture memungkinkan limbah kembali menjadi sumber daya produktif,” ujarnya.
Melalui pendekatan sirkular, sisa hasil pertanian tidak semata-mata dipandang sebagai material buangan. Limbah dapat diolah kembali menjadi pupuk, pakan, energi, atau bahan lain yang berguna bagi proses produksi pertanian berikutnya.
Cara tersebut dinilai dapat mengurangi pencemaran sekaligus menekan kebutuhan terhadap bahan baku dari luar sistem pertanian. Pendekatan ini juga dapat membantu petani membangun usaha yang lebih efisien dan tahan terhadap tekanan perubahan iklim.
Pembicara kedua, Prof Syamsia, mengulas pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik. Ia menyampaikan materi berjudul Agricultural Waste Valorization for Organic Fertilizer Production: Advancing Circular Agriculture and Soil Health.
“Limbah pertanian memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Syamsia.
Menurut dia, pengolahan limbah menjadi pupuk organik tidak hanya mengurangi beban pencemaran. Pemanfaatan tersebut juga dapat memperbaiki kualitas tanah, mengembalikan unsur hara, serta mengurangi ketergantungan petani pada pupuk berbahan kimia.
Kesehatan tanah menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Tanah yang terus-menerus mengalami penurunan kualitas akan mengurangi produktivitas pertanian dan meningkatkan kerentanan petani terhadap perubahan cuaca.
Diskusi yang dipandu Dr. Nurdevi Bte Abdul, S.Pd., M.Pd. itu juga membahas produksi pupuk organik, pengelolaan sisa hasil pertanian, dan penerapan teknologi pertanian yang sesuai dengan kondisi lokal. Peserta dapat membandingkan pengalaman pengelolaan pertanian di Indonesia dan Filipina.
Pertemuan tersebut membuka peluang pengembangan kerja sama antara Unismuh dan Ifugao State University dalam bentuk penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta program pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama diharapkan menghasilkan model pertanian yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kedua negara.
Kegiatan ini berkaitan dengan pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Penguatan pertanian dan ketahanan pangan mendukung SDG 2, Tanpa Kelaparan. Pengolahan limbah pertanian menjadi sumber daya baru sejalan dengan SDG 12, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, sedangkan penerapan pertanian cerdas iklim mendukung SDG 13, Penanganan Perubahan Iklim. Kerja sama Unismuh dan Ifugao State University juga memperkuat SDG 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Akademik & Pembelajaran
Internasional
Unismuh Makassar dan Ifugao State University – Filipina Mengembangkan Gagasan Pertanian Sirkular
- by Humas Unismuh
- July 27, 2026
- 73 Views

