UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Riska Amaliah, melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris di Anubanwangmai Sartsanasart School, Thailand. Rabu 24 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, ia mengajar siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dengan memanfaatkan media audio flashcard, lembar kerja, serta video percakapan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa.
Program pembelajaran itu berlangsung sebagai bagian dari pengalaman internasional mahasiswa Unismuh Makassar. Melalui pendekatan kreatif dan interaktif, Riska berupaya menjembatani perbedaan bahasa dan budaya dengan para siswa serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Riska mengatakan bahwa mengajar siswa SD membutuhkan metode yang menarik agar mereka tetap antusias mengikuti pelajaran. Karena itu, ia memanfaatkan audio flashcard yang memungkinkan siswa mendengar pelafalan kata sekaligus melihat gambar yang sesuai.
“Meskipun kami memiliki bahasa dan budaya yang berbeda, kami menemukan cara untuk terhubung melalui bahasa Inggris,” kata Riska.
Dalam proses pembelajaran, siswa SD diperkenalkan pada kosakata dasar melalui gambar dan suara. Saat mempelajari nama-nama hewan, misalnya, siswa mendengar pengucapan kata dalam bahasa Inggris sambil melihat ilustrasi yang menarik. Menurut Riska, metode tersebut membuat siswa lebih mudah mengingat dan menirukan kosakata baru.
Selain itu, ia juga membagikan lembar kerja yang berisi aktivitas mencocokkan gambar, mewarnai, dan melengkapi kata. Melalui aktivitas tersebut, siswa dapat berlatih membaca dan menulis tanpa merasa terbebani oleh proses belajar yang formal.
Riska mengakui kendala terbesar dalam mengajar siswa SD adalah perbedaan bahasa. Ia menjelaskan bahwa sebagian siswa kerap mengalami kesulitan memahami instruksi yang disampaikan dalam bahasa Inggris sehingga diperlukan pendekatan nonverbal untuk membantu komunikasi.
“Terkadang mereka tidak mengerti instruksi saya dalam bahasa Inggris. Tapi saya menggunakan bahasa tubuh, senyuman, dan gambar untuk membantu mereka,” ujarnya.
Sementara itu, saat mengajar siswa SMP, Riska menghadapi tantangan yang berbeda. Banyak siswa merasa malu dan takut melakukan kesalahan ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menggunakan video percakapan yang menampilkan situasi sehari-hari sebagai contoh penggunaan bahasa secara nyata.
Menurut Riska, video percakapan membantu siswa memahami bahwa bahasa Inggris bukan hanya materi di dalam buku pelajaran, tetapi juga alat komunikasi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menonton video, siswa diajak berlatih dialog secara berpasangan dan membuat percakapan sederhana mereka sendiri.
“Awalnya, mereka berbicara pelan. Namun setelah beberapa pertemuan, suara mereka menjadi lebih keras dan kepercayaan diri mereka tumbuh,” kata Riska.
Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Unismuh Makassar, Dr. Radiah, M.Pd., menilai pengalaman mengajar di Thailand menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional sekaligus keterampilan lintas budaya. Menurut dia, pembelajaran bahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi dalam lingkungan yang berbeda.
“Kami mendorong mahasiswa untuk memperoleh pengalaman internasional karena hal itu memperkaya wawasan pedagogis dan memperkuat kompetensi mereka sebagai calon pendidik global. Apa yang dilakukan Riska menunjukkan bahwa kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan multikultural,” kata Radiah.
Radiah menjelaskan bahwa penggunaan media seperti flashcard, lembar kerja, dan video percakapan sejalan dengan pendekatan pembelajaran komunikatif yang dikembangkan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh. Ia menilai metode tersebut efektif meningkatkan partisipasi siswa sekaligus membangun kepercayaan diri mereka dalam menggunakan bahasa Inggris.
“Keberhasilan bukan hanya diukur dari banyaknya kosakata yang dikuasai siswa, tetapi juga dari keberanian mereka untuk berkomunikasi. Ketika siswa mulai berani menyapa, menjawab pertanyaan, dan berdialog dalam bahasa Inggris, itu merupakan indikator penting bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik,” ujarnya.
Perubahan sikap siswa juga terlihat melalui program percakapan pagi yang dijalankan bersama para guru. Setiap hari sebelum jam pelajaran dimulai, para guru berbaris di lapangan sekolah dan mengajak siswa melakukan percakapan sederhana dalam bahasa Inggris.
Mereka menyapa siswa dengan ungkapan seperti “Good morning! How are you?” dan menanyakan aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Riska menuturkan bahwa pada awalnya banyak siswa hanya tersenyum tanpa menjawab, tetapi konsistensi program tersebut perlahan membuahkan hasil.
Ia mengungkapkan bahwa setelah sekitar satu minggu, para siswa mulai merespons sapaan dalam bahasa Inggris. Mereka bahkan mampu menjawab pertanyaan sederhana seperti “I’m fine, thank you” dan “Yes, I ate rice,” yang menunjukkan peningkatan keberanian dalam berkomunikasi.
“Program pagi ini membantu mereka melihat bahwa bahasa Inggris tidak menakutkan. Bahasa Inggris adalah alat untuk berteman,” ujar Riska.
Lebih lanjut, Radiah mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan internasional juga mendukung upaya internasionalisasi kampus. Ia berharap semakin banyak mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh yang dapat mengikuti program serupa sehingga mampu membawa pengalaman global ke dalam praktik pendidikan di Indonesia.
“Kami berharap pengalaman seperti ini dapat terus diperluas melalui kerja sama internasional yang berkelanjutan. Selain memberikan manfaat bagi mahasiswa, program ini juga menjadi sarana memperkenalkan kualitas akademik Unismuh Makassar di tingkat global,” kata Radiah.
Pengalaman mengajar di Thailand memberikan pelajaran berharga bagi Riska tentang pentingnya kesabaran, kreativitas, dan pendekatan humanis dalam pendidikan. Ia menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan media yang menyenangkan, remaja memerlukan dukungan untuk membangun kepercayaan diri, dan seluruh siswa membutuhkan lingkungan yang aman untuk mencoba dan belajar dari kesalahan.
Melalui pengalaman tersebut, Riska berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berani mengambil kesempatan mengajar di lingkungan internasional. Selain memperkuat kompetensi akademik, pengalaman lintas budaya juga dapat memperkaya perspektif pendidikan sekaligus memperera hubungan antarmasyarakat melalui bahasa, kerja sama, dan saling pengertian.

