October 31, 2026
JL. SULTAN ALAUDDIN NO. 259, Kec. Rappocini, Gunung Sari, Kota Makassar, 90221
Berita Utama

Buka Seminar Literasi MGMP Bahasa Indonesia, Prof Andis Ajak Generasi Muda Terapkan “Jeda Unggah” di Era AI

UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Kemampuan membaca dan menulis belum cukup untuk menghadapi derasnya informasi di era kecerdasan buatan. Generasi muda juga harus mampu menguji kebenaran informasi, membedakan fakta dari opini, serta menahan diri sebelum menyebarkan sesuatu melalui media sosial.

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Dr H Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., menekankan pentingnya kemampuan tersebut dalam Seminar Literasi bersama ratusan guru dan siswa SMA di Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA Kota Makassar bekerja sama dengan Unismuh itu, Prof Andis memperkenalkan istilah “jeda unggah”, yakni kebiasaan menahan diri sebelum membagikan informasi yang diterima melalui media digital.

“Kalau ada hal yang Anda dapatkan, ananda semua, jangan dulu langsung diunggah,” ujar Prof Andis di hadapan peserta seminar yang terdiri atas 108 guru dan 370 siswa SMA.

Menurut dia, kemampuan menahan diri merupakan bagian penting dari literasi. Informasi yang diterima melalui pesan singkat maupun media sosial perlu diperiksa terlebih dahulu agar seseorang tidak terburu-buru menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.

Baca Juga: Gandeng MGMP Bahasa Indonesia, Unismuh Makassar Kenalkan Dunia Kampus dan Jalur PMB kepada 370 Siswa SMA

“Coba dicerna dulu. Itu adalah bagian dari literasi,” katanya. Sikap tersebut, menurut Prof Andis, perlu dibiasakan agar generasi muda tidak sekadar menjadi penerima dan penyebar informasi, tetapi juga mampu menilai kebenaran serta memahami konteksnya.

Bahasa sebagai Alat Berpikir

Prof Andis menilai pembelajaran bahasa Indonesia perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas daripada sekadar menguasai keterampilan berkomunikasi. Bahasa memiliki peran mendasar dalam membentuk cara manusia memahami persoalan, menyusun argumentasi, dan mengembangkan pemikiran.

Ia mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga alat berpikir. Karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah semestinya mendorong siswa mengembangkan penalaran, bukan hanya memahami kaidah kebahasaan.

“Mari kita menjadikan Bahasa Indonesia pelajaran di sekolah itu adalah betul-betul sebagai ilmu, bukan hanya kecakapan berkomunikasi,” ujarnya.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap pemahaman literasi yang berhenti pada aktivitas membaca. Menurut Prof Andis, membaca merupakan tahapan awal yang seharusnya menghasilkan kemampuan mengolah pengetahuan menjadi pemikiran yang lebih mendalam.

“Endingnya adalah kita mampu melahirkan ide dan gagasan dari literasi itu,” katanya.

Dengan demikian, keberhasilan literasi tidak cukup diukur dari banyaknya bahan bacaan yang diselesaikan. Hal yang lebih penting ialah kemampuan seseorang memahami, menguji, dan mengembangkan informasi menjadi gagasan yang bermanfaat.

Guru Harus Menjadi Teladan

Dalam kesempatan itu, Prof Andis juga menegaskan bahwa penguatan literasi siswa tidak dapat dilepaskan dari keteladanan guru. Kebiasaan membaca, berpikir kritis, serta membangun argumentasi harus terlebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan pendidik.

Ia menilai guru Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan proses pembentukan kemampuan berbahasa dan bernalar siswa. Keteladanan tersebut juga berlaku bagi dosen di lingkungan perguruan tinggi.

“Dosen harus menjadi contoh, harus menjadi teladan, harus menjadi panutan dalam kaitannya menegakkan literasi itu,” tegasnya.

Menurut Prof Andis, tantangan tersebut semakin besar ketika generasi muda hidup di tengah perkembangan teknologi yang memungkinkan berbagai informasi diperoleh secara instan. Kemudahan teknologi perlu diimbangi kemampuan menyaring informasi dan membangun gagasan secara mandiri.

Seminar bertema “Menjaga Jiwa dalam Aksara: Strategi dan Eksistensi Penulis di Era AI” itu juga menghadirkan Dr Anis Kurniawan, S.S., M.Si., M.Pd., sebagai narasumber. Pembahasan diarahkan pada tantangan dunia kepenulisan, terutama pentingnya mempertahankan kreativitas dan orisinalitas karya manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota Makassar, Asrianingsih, S.Pd., M.Pd., mengatakan, peran guru dalam menghadapi AI bukan sekadar memperkenalkan teknologi kepada siswa. Guru juga bertanggung jawab mengarahkan penggunaannya secara beretika dan bertanggung jawab.

Melalui kolaborasi tersebut, MGMP Bahasa Indonesia dan Unismuh Makassar berupaya memperkuat budaya literasi yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga pada pembentukan generasi yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam kehidupan digital.