UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Ketepatan penanganan pasien tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tenaga medis menegakkan diagnosis, tetapi juga oleh kecermatan memilih terapi berdasarkan bukti ilmiah. Karena itu, keterhubungan antara pemeriksaan laboratorium, ilmu biomedik, dan farmasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam kuliah tamu internasional yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar, Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater Lantai 6 Gedung ADIS FKIK Unismuh itu menghadirkan akademisi dari University of Luzon, Filipina, bersama dosen Unismuh Makassar.
Mengangkat tema “From Laboratory Diagnostics to Therapeutics: Integrating Biomedical Science and Pharmacy for Better Patient Care,” forum ini membahas pentingnya menghubungkan pengetahuan dasar kedokteran dengan penerapannya dalam pelayanan pasien.
Dekan FKIK Unismuh Makassar, Prof Dr dr Suryani As’ad, MSc, SpGK, SubspKM, mengatakan, tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks membutuhkan kerja sama antarbidang keilmuan. Menurut dia, hasil pemeriksaan diagnostik perlu menjadi landasan pengambilan keputusan klinis yang didukung pengetahuan biomedik dan farmasi.
“Integrasi ilmu biomedik, diagnostik laboratorium, dan farmasi merupakan hal penting untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat serta meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan pasien,” ujar Suryani.
Ia menambahkan, kolaborasi internasional juga diperlukan untuk memperluas perspektif dosen dan mahasiswa terhadap perkembangan ilmu kesehatan. Pertukaran pengalaman antarkampus diharapkan tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi berlanjut melalui pengembangan pembelajaran, penelitian, dan kerja sama kelembagaan.
“Melalui kegiatan International Guest Lecture ini, kami berharap terbangun pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik yang dapat memperkaya perspektif dosen maupun mahasiswa,” katanya.
Menghubungkan Pengetahuan Dasar dan Praktik Klinis
Kuliah tamu tersebut menghadirkan dua pembicara dengan bidang keilmuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Pembicara pertama, Prof Tzarita Marie P Mayo dari University of Luzon, Filipina, mengangkat topik Reflections on Teaching and Learning Medical Parasitology.
Dalam paparannya, Mayo menyoroti pentingnya pengembangan pembelajaran parasitologi medis yang relevan dengan persoalan kesehatan. Mahasiswa kesehatan tidak cukup hanya memahami klasifikasi dan karakteristik parasit, tetapi juga perlu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan persoalan penyakit yang dijumpai dalam praktik klinis.
Pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis ilmu pengetahuan, menurut pokok paparan Mayo, diperlukan agar mahasiswa dapat memahami penerapan parasitologi medis dalam pelayanan kesehatan. Dengan demikian, pembelajaran ilmu dasar memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kompetensi profesi kesehatan.
Sementara itu, dosen Unismuh Makassar, Zulkifli, SFarm, MKes, membawakan materi “The Role of Pharmacy in Evidence-Based Therapeutics and Patient Safety”. Ia membahas pentingnya penerapan terapi berdasarkan bukti ilmiah serta peran tenaga kefarmasian dalam menjaga keselamatan pasien.
Pembahasan Zulkifli menekankan perlunya kolaborasi antarprofesi kesehatan untuk memastikan pemilihan dan penggunaan obat dilakukan secara tepat. Efektivitas terapi, keamanan penggunaan obat, dan kebutuhan individual pasien menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pengobatan.
Baca Juga: Ketua PP Muhammadiyah Bekali Maba FKIK Unismuh, Tekankan Ilmu, Akhlak, dan Kepemimpinan
Kedua materi tersebut memperlihatkan hubungan antara pendidikan ilmu dasar, penegakan diagnosis, dan pengambilan keputusan terapi. Pemahaman mengenai penyakit perlu diikuti kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam pelayanan kesehatan yang aman dan rasional.
Diskusi dipandu Dr dr Ami Febriza A, MKes, AIFO-K, Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik FKIK Unismuh Makassar. Forum ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai keterkaitan ilmu biomedik, pemeriksaan laboratorium, dan praktik kefarmasian.
Memperluas Kerja Sama Internasional
Selain menghadirkan Mayo sebagai pembicara, University of Luzon mengirimkan delegasi dari sejumlah bidang akademik. Mereka antara lain Dr Imelda E Cuartel, Dekan College of Education; Dr Ma Emma J Tuvera dari Graduate School dan College of Liberal Arts; serta Prof Jhared C Calimlim yang menangani bidang internasionalisasi di Graduate School.
Delegasi lainnya ialah Dr Carmelita S Quinto, Dekan College of Liberal Arts, dan Dr Dante A De Castro, pelaksana tugas Dekan College of Criminology. Mayo sendiri menjabat Dekan College of Medical Laboratory Science, Pharmacy and Biology di University of Luzon.
Kehadiran delegasi tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi, pengembangan pembelajaran, dan penguatan jejaring akademik internasional. Kedua perguruan tinggi juga memiliki peluang mengembangkan kerja sama lebih lanjut dalam bidang pendidikan, penelitian, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Bagi FKIK Unismuh Makassar, kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Penguatan kompetensi dalam diagnostik laboratorium, terapi berbasis bukti ilmiah, dan keselamatan pasien sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Sementara itu, pengembangan pembelajaran lintas disiplin mendukung SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, sedangkan kolaborasi akademik dengan University of Luzon, Filipina, mencerminkan semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kerja sama tersebut, kedua perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kontribusi pendidikan dan penelitian bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

