UNISMUH.AC.ID, IFUGAO, FILIPINA — Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Nursakiah, S.Si., S.Pd., M.Pd., memberikan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kepada calon guru matematika di Ifugao State University (IFSU), Filipina, Jumat, 23 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi akademik internasional kedua perguruan tinggi untuk meningkatkan kompetensi calon guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran matematika adaptif secara etis dan bertanggung jawab.
Pelatihan bertajuk Strengthening Mathematics Pre-Service Competence in the Ethical Use of Artificial Intelligence for Developing Adaptive Mathematics Learning Packages tersebut melibatkan tiga akademisi dari Indonesia dan Filipina. Mereka adalah Nursakiah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar serta Dr Desiree Gume G. Nangpuhan dan Russel Rembrandt Paud dari IFSU.
Kegiatan ini membekali calon guru matematika dengan pengetahuan mengenai pemanfaatan AI dalam menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Selain mengenalkan potensi teknologi, pelatihan tersebut menekankan pentingnya pertimbangan pedagogis dan tanggung jawab etis dalam penggunaan AI di lingkungan pendidikan.
Dr Desiree Gume G. Nangpuhan mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang dinilainya memberikan pengetahuan baru bagi calon guru matematika. Menurut dia, pemahaman tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab perlu diperkuat seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.
“Kegiatan ini sangat baik karena memberikan wawasan kepada calon guru matematika tentang pemanfaatan AI secara etis dalam pembelajaran. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut untuk mendukung pengembangan pembelajaran matematika yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ujar Desiree.
Desiree juga menilai kontribusi Nursakiah dalam kegiatan tersebut membantu peserta memahami hubungan antara teknologi AI dan pembelajaran matematika adaptif. Ia menyebut pemaparan dosen Unismuh Makassar itu memberikan gambaran tentang penerapan teknologi dalam perencanaan pembelajaran tanpa mengabaikan tanggung jawab profesional guru.
“Nursakiah mampu menjelaskan hubungan antara pemanfaatan AI, pembelajaran matematika adaptif, dan tanggung jawab etis guru secara jelas dan sistematis. Penyampaiannya membantu peserta melihat bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan dalam perencanaan pembelajaran,” kata Desiree.
Baca Juga: Wakil Rektor UMS Rappang Jadi Narasumber Workshop Pendidikan, Tekankan Penguatan Kompetensi Guru
Ia menambahkan bahwa perspektif pendidikan matematika yang disampaikan Nursakiah menjadi bagian penting dari pertukaran pengetahuan antara kedua perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut dinilai membuka ruang bagi akademisi Indonesia dan Filipina untuk berbagi pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Sementara itu, Nursakiah menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan matematika tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan teknologi. Menurut dia, calon guru juga perlu memiliki pemahaman konsep matematika, kemampuan merancang pembelajaran, serta pertimbangan etis ketika menggunakan perangkat berbasis AI.
“Sebagai akademisi pendidikan matematika, saya memandang bahwa kontribusi kita harus hadir melalui gagasan yang dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi pembelajaran. Melalui kolaborasi ini, saya ingin membawa perspektif pendidikan matematika dari Indonesia ke dalam dialog akademik internasional, sekaligus mendorong calon guru untuk mampu merancang pembelajaran adaptif secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujar Nursakiah.
Nursakiah menekankan bahwa ukuran keberhasilan pemanfaatan AI bukan semata-mata terletak pada kemampuan guru menggunakan aplikasi digital. Teknologi tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi siswa, terutama dalam membantu mereka memahami konsep dan menyelesaikan persoalan matematika.
“Bagi saya, kompetensi guru pada era AI terletak pada kemampuannya memastikan bahwa teknologi benar-benar membantu siswa memahami matematika,” kata Nursakiah.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan AI untuk mendukung sejumlah tahapan perencanaan pembelajaran matematika. Penggunaan teknologi mencakup penyusunan materi, pengembangan soal, serta perancangan aktivitas belajar yang dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaan dan karakteristik peserta didik.
Pendekatan pembelajaran adaptif menjadi salah satu perhatian utama karena kemampuan siswa dalam memahami matematika tidak selalu sama. Melalui pemanfaatan AI, calon guru didorong untuk mengembangkan paket pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan responsif terhadap perbedaan kebutuhan belajar siswa.
Selain pengembangan materi, pelatihan ini membahas sejumlah persoalan etis yang perlu diperhatikan ketika menggunakan AI dalam pendidikan. Persoalan tersebut meliputi akurasi informasi, perlindungan data pribadi peserta didik, potensi bias algoritma, serta kewajiban guru memeriksa kembali materi yang dihasilkan teknologi.
Penekanan pada aspek etika tersebut menempatkan AI sebagai sarana pendukung pekerjaan profesional guru, bukan sebagai pengganti peran pendidik. Guru tetap memegang tanggung jawab dalam menentukan kesesuaian materi, memilih strategi pembelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar berdasarkan kondisi peserta didik.
Kolaborasi Unismuh Makassar dan IFSU ini juga menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan pengembangan kapasitas akademik. Melalui kegiatan bersama, kedua institusi membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran serta pengembangan kompetensi calon pendidik.
Kerja sama akademik Indonesia dan Filipina tersebut diharapkan terus berkembang melalui kegiatan penguatan kapasitas pendidik dan inovasi pembelajaran. Kedua perguruan tinggi juga berharap pemanfaatan AI secara etis dapat mendukung terciptanya pembelajaran matematika yang lebih adaptif, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

