UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Marbot tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai petugas kebersihan, melainkan bagian dari tim manajemen yang bertanggung jawab mengembangkan masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Drs Muhammad Jamaluddin Ahmad M.Psi. saat membuka Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) di Masjid Subulussalam Al-Khoory, Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis, 22 Oktober 2026.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga 24 Oktober tersebut menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan masjid, khususnya di kawasan Indonesia Tengah dan Timur.
“Kita definisi ulang, bukan sekadar tukang bersih, tapi marbot adalah tim manajemen masjid,” kata Jamaluddin.
Menurut dia, penguatan kapasitas marbot diperlukan agar masjid tidak hanya terawat secara fisik, tetapi juga berkembang menjadi pusat kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pengurus dan marbot perlu memiliki kepedulian, kemampuan manajerial, serta komitmen untuk memakmurkan masjid.
Jamaluddin mengungkapkan, berdasarkan survei LPCRPM bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), jumlah jemaah salat lima waktu di masjid-masjid Muhammadiyah rata-rata sekitar 30 orang. Angka tersebut menjadi salah satu alasan Muhammadiyah perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap pengelolaan dan pengembangan aktivitas masjid.
Ia membandingkan pengelolaan masjid dengan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan. Ketika jumlah mahasiswa sebuah perguruan tinggi menurun atau tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit berkurang, pimpinan lembaga biasanya segera melakukan evaluasi dan mencari solusi.
Namun, menurut Jamaluddin, perhatian serupa belum selalu diberikan ketika sebuah masjid mengalami penurunan jumlah jemaah.
“Mari, masjid-masjid Muhammadiyah, khususnya masjid percontohan, dikelola seperti mengelola amal usaha yang lain,” ujarnya.
Baca Juga: Di Unismuh, LPCRPM Sulsel Dorong Akademi Marbot Menjangkau Masjid Kampus
Ia mendorong masjid-masjid Muhammadiyah menerapkan sistem pengelolaan yang lebih profesional. Masjid berukuran besar dapat memiliki direktur, sedangkan masjid dengan skala lebih kecil dapat dikelola oleh seorang manajer.
Pendekatan tersebut, menurut dia, diperlukan agar pengelolaan masjid mempunyai arah, tanggung jawab, serta program yang jelas. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan, tetapi juga dari kehidupan berjemaah dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Penguatan Masjid Muhammadiyah
Jamaluddin menjelaskan, Akademi Marbot merupakan tindak lanjut keputusan Muktamar Ke-48 Muhammadiyah di Surakarta. Melalui keputusan tersebut, LPCRPM mendapat amanah untuk melakukan pembinaan dan mendorong lahirnya masjid-masjid percontohan di lingkungan persyarikatan.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan Muhammadiyah sejak awal tidak dapat dipisahkan dari masjid. Gerakan pembaruan yang dirintis KH Ahmad Dahlan tumbuh dari Langgar Kidul dan lingkungan Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta.
“Muhammadiyah harus kembali ke masjid,” katanya.
Menurut Jamaluddin, pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah perlu kembali menjadikan masjid sebagai salah satu basis utama gerakan. Masjid yang makmur akan menjadi tempat berkembangnya aktivitas dakwah, pengaderan, serta berbagai kegiatan yang memperkuat kehidupan masyarakat.
“Kalau masjidnya enggak makmur, susah sekali Muhammadiyahnya tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam pengelolaan masjid. Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk menghadirkan kegiatan dakwah yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jamaluddin berharap Akademi Marbot melahirkan penggerak yang mampu membawa perubahan ketika kembali ke daerah masing-masing. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan rutin masjid, tetapi juga mampu mengembangkan program yang menarik masyarakat untuk datang dan beraktivitas di masjid.
Masjid Harus Menghadirkan Ketenangan dan Kebahagiaan
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr KH Mawardi Pewangi, mengingatkan bahwa memakmurkan masjid bukan sekadar menjalankan tugas organisasi. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam yang memiliki nilai ibadah.
Mawardi merujuk pada Surah At-Taubah yang menjelaskan pentingnya orang-orang beriman memakmurkan masjid. Menurut dia, para pengelola masjid memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan suasana yang membuat jemaah merasa nyaman, tenang, dan bahagia.
Ia menekankan bahwa pengelolaan masjid perlu memperhatikan kebersihan, keindahan, serta kualitas pelayanan. Masjid tidak cukup hanya menyediakan tempat pelaksanaan salat, tetapi juga harus menjadi ruang yang menghadirkan ketenteraman bagi siapa pun yang datang.
Mawardi berharap masjid Muhammadiyah berkembang menjadi pusat pelayanan umat yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan masyarakat.
“Bagaimana masjid makmur dan memakmurkan, masjid bahagia dan membahagiakan, masjid sejahtera dan menyejahterakan,” ujarnya.
Menurut dia, masjid yang dikelola dengan baik tidak hanya memberikan kenyamanan secara fisik. Kehadirannya juga dapat memperkuat hubungan sosial, membangun kepedulian antarsesama, dan menjadi tempat masyarakat memperoleh ketenangan ketika menghadapi persoalan hidup.
Karena itu, Mawardi mengajak peserta Akademi Marbot menjadikan masjid sebagai ruang pelayanan yang terbuka dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ia berharap masjid Muhammadiyah benar-benar menjadi pusat kedamaian dan ketenteraman masyarakat.
Dari Masjid, Muhammadiyah Bangkit
Menutup sambutannya, Jamaluddin mengajak peserta Akademi Marbot menggelorakan tiga semangat dalam gerakan pemakmuran masjid.
Ketiga semangat tersebut adalah “Masjid makmur, memakmurkan”, “Dari masjid kita bangkit”, dan “Apa pun masalahnya, masjid solusinya”.
Seruan itu, menurut Jamaluddin, bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk membangun kembali kehidupan persyarikatan melalui masjid. Ia berharap para marbot dan pengurus masjid mampu menjadi penggerak perubahan, terutama dengan melibatkan generasi muda dalam berbagai aktivitas dakwah.
Dengan mengucapkan basmalah, Jamaluddin secara resmi membuka Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah di Unismuh Makassar. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal lahirnya masjid-masjid percontohan yang mampu menginspirasi penguatan gerakan Muhammadiyah di Indonesia Timur.

