UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel mendorong perluasan Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) ke masjid-masjid kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Program ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan pengelolaan masjid sekaligus pengembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua LPCRPM PWM Sulsel, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang akrab disapa Prof Andis, saat memberikan sambutan pada pembukaan Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah di Masjid Subulussalam, Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 24 Oktober 2026 itu menghadirkan peserta dari sejumlah daerah di Sulsel dan Sulawesi Tenggara.
Prof Andis, yang juga Wakil Rektor I Unismuh Makassar, mengatakan penyelenggaraan Akademi Marbot menjadi langkah penting untuk memperkuat perhatian Muhammadiyah terhadap pengelolaan masjid. Menurut dia, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat pelaksanaan salat, tetapi perlu dikembangkan menjadi pusat kegiatan keislaman, sosial, dan kemasyarakatan.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan Akademi Marbot pada awalnya direncanakan hanya melibatkan peserta dari Sulsel. Namun, cakupan kegiatan kemudian diperluas setelah pihaknya berkomunikasi dengan pimpinan LPCRPM PP Muhammadiyah.
“Awalnya kita rencanakan hanya di PWM Sulsel, tapi saya minta ke Pak Ketua Umum, berkenankah kalau kita mengundang kawasan timur, ternyata alhamdulillah beliau izinkan,” ujar Prof Andis.
Perluasan tersebut mendapat sambutan positif. Sejumlah peserta dari luar Sulsel, termasuk Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, datang mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Kampus Unismuh Makassar.
Menurut Prof Andis, kehadiran peserta dari berbagai daerah memperlihatkan adanya perhatian terhadap pengembangan masjid Muhammadiyah. Ia berharap Akademi Marbot angkatan pertama tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi melahirkan penggerak yang dapat menyebarluaskan pengetahuan dan pengalaman ke daerah masing-masing.
“Kita angkatan pertama ini, semoga bisa menjadi anak panah untuk Akademi Marbot yang ada di PDM,” katanya.
Penguatan Masjid Kampus Muhammadiyah
Prof Andis mengusulkan agar pelaksanaan Akademi Marbot berikutnya difokuskan pada pengelola masjid di lingkungan PTMA. Menurut dia, masjid kampus dan lembaga pendidikan Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk menjadi percontohan pengelolaan masjid yang lebih baik.
Penguatan masjid kampus juga dinilai penting karena perguruan tinggi menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia dan gerakan dakwah Muhammadiyah. Dengan pengelolaan yang terencana, masjid kampus diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan ibadah, pendidikan, pembinaan mahasiswa, dan pelayanan sosial.
Prof Andis berharap pengembangan program tersebut tidak hanya menjangkau masjid kampus di Sulsel, tetapi juga PTMA lainnya di kawasan Indonesia Timur. Pengalaman pengelolaan masjid kampus selanjutnya diharapkan dapat menjadi rujukan bagi masjid Muhammadiyah di tingkat daerah, cabang, dan ranting.
Gagasan itu mendapat respons positif dari Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, H Muhammad Jamaluddin Ahmad, yang hadir sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Jamaluddin menyampaikan bahwa pengembangan Akademi Marbot khusus masjid kampus sejalan dengan program LPCRPM PP Muhammadiyah. Ia bahkan menyatakan kesiapan untuk menjadikan Masjid Subulussalam Unismuh Makassar sebagai lokasi penyelenggaraan Akademi Marbot bagi pengelola masjid PTMA pada angkatan berikutnya.
Menurut Jamaluddin, perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam pengembangan dakwah, terutama di kawasan Indonesia Timur. Karena itu, pembinaan masjid kampus menjadi salah satu agenda yang perlu dikembangkan.
Peserta Datang dari Dua Provinsi
Sementara itu, Ketua Panitia Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah, Dr Nasrun, M.Pd., melaporkan bahwa peserta yang telah terdaftar pada tahap awal berasal dari dua provinsi, yakni Sulsel dan Sulawesi Tenggara. Mereka mewakili 11 kabupaten dan kota.
Nasrun menjelaskan, jumlah peserta tersebut masih bersifat sementara karena beberapa rombongan masih dalam perjalanan menuju Makassar ketika kegiatan pembukaan berlangsung.
Ia mengapresiasi antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah. Salah satu peserta perempuan dari Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, bahkan menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor bersama anggota keluarganya selama sekitar dua hari untuk mengikuti Akademi Marbot.
Menurut Nasrun, semangat peserta tersebut menjadi dorongan bagi panitia untuk menyelenggarakan kegiatan dengan sebaik-baiknya. Terlebih, Akademi Marbot ini merupakan pengalaman pertama bagi kepanitiaan di Sulsel.
Dukungan Unismuh Makassar
Nasrun mengungkapkan, persiapan penyelenggaraan Akademi Marbot telah berlangsung selama sekitar enam bulan. Selama masa tersebut, panitia terus berkoordinasi dengan LPCRPM PP Muhammadiyah dan tim mentor yang memberikan pendampingan teknis.
Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan sempat mengalami dua kali penundaan sebelum akhirnya dapat diselenggarakan di Masjid Subulussalam Unismuh Makassar.
Nasrun menyampaikan apresiasi kepada pimpinan Unismuh Makassar yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan program tersebut. Dukungan serupa juga diberikan PWM Sulsel, sejumlah fakultas dan lembaga di lingkungan kampus, pengurus LPCRPM, serta berbagai pihak yang membantu pelaksanaan kegiatan.
Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat pengelolaan masjid Muhammadiyah. Akademi Marbot diharapkan menjadi wadah peningkatan kemampuan para pengelola masjid sekaligus memperluas jejaring antarpengurus masjid dari berbagai daerah.
Nasrun juga mendukung gagasan penyelenggaraan Akademi Marbot khusus bagi pengelola masjid di lingkungan PTMA. Ia menilai program semacam itu dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas pengurus masjid di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Unismuh Diharapkan Jadi Pusat Pengembangan
Penyelenggaraan Akademi Marbot di Unismuh Makassar turut mendapat perhatian LPCRPM PP Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Jamaluddin menyebut Sulsel telah ditetapkan sebagai salah satu pusat pengembangan Akademi Marbot untuk kawasan Indonesia Tengah dan Timur.
Selain Sulsel, pengembangan pusat Akademi Marbot juga dilakukan di Gorontalo, sementara pembentukan pusat serupa di wilayah Papua Barat Daya dan Sulawesi Tenggara menjadi bagian dari rencana perluasan program.
Bagi Prof Andis, penyelenggaraan Akademi Marbot di Unismuh Makassar merupakan langkah awal untuk memperkuat peran masjid dalam kehidupan persyarikatan. Ia berharap peserta angkatan pertama mampu menjadi penggerak yang mengembangkan kegiatan keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan di daerah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, LPCRPM PWM Sulsel berharap lahir pengelola masjid yang kompeten, memiliki kepedulian terhadap jemaah, dan mampu menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Akademi Marbot di Unismuh Makassar sekaligus diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan jaringan pembinaan masjid Muhammadiyah yang lebih luas di kawasan Indonesia Timur.

